Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Cerita dari HUT RI di IKN, Trem Otonom Terpadu Diserbu Warga

Kompas.com, 19 Agustus 2024, 11:03 WIB
Add on Google
Hilda B Alexander

Penulis

NUSANTARA, KOMPAS.com - Pesta perayaan HUT ke-79 Kemerdekaan Republik Indonesia di Ibu Kota Nusantara (IKN) pada 17 Agustus 2024, tuntas sudah.

Perhelatan terlaksana dengan aman, lancar, dan sukses memukau ribuan warga yang menyaksikan langsung di lokasi.

Baca juga: Para Aktor di Balik Suksesnya HUT ke-79 RI dari Serangan Siber

Namun, selain pengibaran bendera Merah Putih dan rutinitas pertunjukkan seni serta akrobat pesawat Jupiter Aerobatic, ada hal lain yang tak kalah menyita perhatian yakni beroperasinya Trem Otonom Terpadu (TOT).

TOT ini beroperasi melayani warga, dan tamu undangan pesta HUT RI mengitari jalur Sumbu Kebangsaan, bergerak secara forward (maju dari depan) dan backward (maju dari belakang) dalam kapasitas maksimal 300 orang.

Trem Otonom Terpadu (TOT) menjadi armada transportasi favorit selama perayaan HUT ke-79 RI di Ibu Kota Nsuantara (IKN)OIKN Trem Otonom Terpadu (TOT) menjadi armada transportasi favorit selama perayaan HUT ke-79 RI di Ibu Kota Nsuantara (IKN)
Dalam pantauan, TOT ini menjadi armada transportasi favorit selama HUT RI berlangsung. Rombongan ibu Fatayat Nahdlatul Ulama (NU) bahkan menaiki TOT beberapa kali.

Dengan lantang ibu-ibu berkostum meriah hijau muda ini melantunkan litani khas Fatayat NU, mengiringi Deputi Bidang Transformasi Hijau dan Digital Mohammed Ali Berawi menari, dan Dirjen Perkeretaapian Kementerian Perhubungan Mohamad Risal Wasal bertepuk tangan.

Selain mereka, TOT juga dinaiki oleh para tamu undangan yang pada pagi hari itu mengenakan kostum tradisional dari berbagai daerah di Indonesia, dan para panitia HUT RI yang berasal dari berbagai unsur Kementerian/Lembaga.

Baca juga: Trem Otonom IKN Cuma Rp 70 Miliar Per Unit, Jokowi Minta Dibangun di Kota Lain

Deputi Bidang Transformasi Hijau dan Digital Mohammed Ali Berawi mengatakan, banyaknya warga yang tertarik menaiki TOT mengindikasikan bahwa transportasi canggih ini memang sangat dinantikan publik.

"Ini memotivasi kami untuk melakukan percepatan implementasi TOT berikut ekosistemnya secara terpadu untuk melayani warga dan penghuni IKN bermobilitas cerdas," ujar Ale kepada Kompas.com, Minggu (18/8/2024).

Trem Otonom Terpadu (TOT) menjadi armada transportasi favorit selama perayaan HUT ke-79 RI di Ibu Kota Nsuantara (IKN)OIKN Trem Otonom Terpadu (TOT) menjadi armada transportasi favorit selama perayaan HUT ke-79 RI di Ibu Kota Nsuantara (IKN)
Saat ini TOT masih dalam proses Proof of Concept (PoC) yang melibatkan Kementerian PUPR dan Kementerian Perhubungan, untuk memastikan seluruh sistem mulai dari sarana kereta hingga infrastruktur pendukung berfungsi dengan baik dan aman, serta sesuai dengan regulasi transportasi.

Uji dinamis masih dilakukan secara manual, untuk kemudian dievaluasi apakah moda ini sudah bisa beroperasi secara otomatis atau manual dan otomatis.

Baca juga: Trem Otonom Tanpa Rel IKN Bukan Bus Gandeng, Ini Penjelasannya

Ale mengeklaim, TOT memiliki beberapa kelebihan, yaitu dari biaya investasi yang jauh lebih efisien dibandingkan dengan kereta konvensional yang menggunakan rel.

Sementara dari segi kapasitas, TOT dapat mengangkut penumpang secara masif dengan mencapai 300 orang dalam 3 gerbong, hingga 500 orang dalam 5 gerbong dari satu trainset dengan sekali perjalanan.

Kementerian PUPR sedang membangun 8 halte ultimate (utama) untuk menunjang operasional TOT, yang akan digunakan ketika loop ultimate (jalur lintasan utama) sudah siap digunakan seluruhnya.

Trem Otonom Terpadu (TOT) menjadi armada transportasi favorit saat perayaan HUT ke-79 RI di Ibu Kota Nusantara (IKN)OIKN Trem Otonom Terpadu (TOT) menjadi armada transportasi favorit saat perayaan HUT ke-79 RI di Ibu Kota Nusantara (IKN)
Ada pun rute yang dilewati dimulai dari Sumbu Kebangsaan Sisi Barat, depan Istana Presiden, Sumbu Kebangsaan Sisi Timur hingga kembali ke Sumbu Kebangsaan Sisi Barat dengan total jarak sekitar 4,9 kilometer.

"Dalam sekali pengisian daya dapat menempuh hingga jarak 70 kilometer," cetus Ale.

TOT ini akan menjadi teknologi pertama di Indonesia yang diuji coba tanpa rel, menggunakan baterai yang dipandu oleh marka jalan.

Baca juga: OIKN Buka Peluang Adopsi Kereta Otonom Tanpa Rel Buatan China

Ale menegaskan PoC yang dilakukan bertujuan untuk menguji keandalan teknologi dan produk TOT pabrikan CRRC dan Norinco International Corporation Ltd yang berbasis di China tersebut.

Selain itu, juga untuk menguji interoperabilitas, keekonomisan, dan transfer pengetahuan sebelum diterapkan di IKN dan Indonesia secara umum.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang



Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau