Penulis
NUSANTARA, KOMPAS.com - Sauh ditarik, perlahan kapal Pinisi Kita Nusantara bergerak mengarungi perairan Teluk Balikpapan, menuju Jembatan Pulau Balang, Kalimantan Timur, salah satu obyek wisata di sekitar Ibu Kota Nusantara (IKN).
Kapal yang dirancang dan dibangun oleh Haji Sukarman di Galangan Bulukumba, Kabupaten Bulukumba, Sulawesi Selatan ini, membawa Kompas.com dan 50 penumpang menikmati panorama mentari tenggelam penyangga IKN.
Perjalanan dimulai tepat pukul 16.30 WITA dari Pelabuhan Jetty Shendi Jaya Putra Balikpapan.
Baca juga: Kelar Pesta 17 Agustus di IKN, Tingkat Hunian Hotel Kaltim Anjlok
Di sepanjang perairan Teluk Balikpapan, penumpang disuguhi sejumlah proyek raksasa yang tengah dibangun pemerintah.
Satu di antaranya yang sangat menarik perhatian adalah Refinery Development Master Plan (RDMP) atau Kilang Pertamina Balikpapan yang dibangun dengan kapasitas 360.000 barel per hari.
Tak tanggung-tanggung, proyek jumbo dengan investasi sebesar 7,2 miliar dolar AS atau ekuivalen Rp 111 triliun ini melibatkan lebih dari 20.000 pekerja.
Kapal Pinisi Kita Nusantara berlayar di Perairan Teluk Balikpapan menuja Jembatan Pulau Balang, obyek wisata di sekitar Ibu Kota Nusantara (IKN).Bergeser ke utara, terdapat PLTU Teluk Aru, Pelabuhan Kaltim Kariangau Terminal di sisi kanan, dan Dermaga Pantai Lango di sisi kiri.
Sepanjang pelayaran, timber carrier atau juga disebut log carrier, kapal satu dek yang dirancang membawa kayu dengan kapasitas lebih dari 5.000 ton, wira wiri menyapa Pinisi.
Selain itu, penumpang juga disuguhi tongkang dan vessel yang lalu lalang dengan bobot muatan batu bara, pasir, serta jenis komoditas hasil tambang lainnya.
Pinisi yang saya tumpangi, berlari dengan kecepatan 3 knot per jam, meskipun kemampuannya bisa mencapai 9 knot per jam.
Baca juga: Istana Garuda dan Sumbu Penting IKN dalam Perspektif Feng Shui
Pelayaran berjudul "Sunset Sailing to IKN" ini menjadi tak membosankan, karena sejumlah atraksi dan live home band, dipersembahkan menghibur penumpang.
Seluruh dari 20 kru kapal Pinisi Kita Nusantara melayani dengan sepenuh hati. Mulai dari kapten kapal, pramugari, master of ceremony, pramusaji, hingga pemilik kapal menyambut kami dengan keramahan luar biasa.
"Inilah salah satu keunggulan, kami melayani seperti keluarga. Para penumpang adalah keluarga. Semua kami bikin happy," ujar Sukarman kepada Kompas.com, Senin (19/8/2024).
Pelayaran dengan kapal Pinisi kian digencarkan Pemerintah, terutama Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Kemenparekraf) dan Kementerian Perhubungan (Kemenhub) yang berkolaborasi dengan Pemerintah Daerah Kota/Kabupaten penyangga IKN.
Sebagai Warisan Budaya Tak Benda (Intangible Cultural of Humanity) yang ditetapkan UNESCO pada 7 Desember 2017, kapal Pinisi menjadi salah satu obyek pariwisata bahari unggulan.
Oleh karenanya, Kemenhub melalui Direktorat Jenderal Perhubungan Laut tengah mempersiapkan rute-rute yang akan dilalui kapal Pinisi dari Balikpapan menuju IKN.
Sementara Kemenparekraf melalui Dinas Pemuda, Olahraga dan Pariwisata (DPOP) kota/kabupaten penyangga IKN menyiapkan ekosistem pariwisata melalui penciptaan paket-paket perjalanan dengan menggandeng stakeholder perhotelan, kafe/restoran, pengrajin suvenir, dan UMKM lainnya.
Kapal Pinisi Kita Nusantara berlayar menuju Jembatain Pulau BalangCo-founder Pinisi Kita Nusantara Achmad Aldri mengungkapkan, kapasitas selalu terpenuhi dalam setiap uji coba.
"Peminatnya luar biasa banyak. Mereka tak hanya berasal dari Balikpapan, juga Penajam Paser Utara, Medan, Banda Aceh, Jakarta, hingga Makassar," ungkap Aldri.
Para penumpang ini tertarik ikut berlayar dengan Pinisi karena ingin merasakan perjalanan melalui laut menuju IKN.
Sebagaimana dikatakan oleh Nasrullah, penduduk Paser, yang sengaja membeli tiket seharga Rp 250.000 per orang bersama istri dan anaknya.
Baca juga: Jokowi Bilang Akan Terus Kawal IKN Meskipun Sudah Tak Jadi Presiden
"Saya ke Balikpapan bersama anak istri cuma untuk naik Pinisi. Harga juga terjangkau. Saya pesan melalui platform media sosial Instagram," ujar Nasrullah.
Menurut Aldri, tarif yang diberlakukan sekitar Rp 199.000-Rp 250.000 tersebut masih berubah tergantung pada situasi dan kondisi keterisian kapal. Namun, untuk saat ini, Pinisi.id sebagai pengelola masih memberlakukan tarif subsidi.
"Kami berharap pemerintah segera menetapkan tarif tetap, seiring rute perjalanan Pinisi menuju IKN sebagai magnet pariwisata paling kuat di Kalimantan," imbuh Aldri.
Oh ya, tarif tersebut sudah termasuk welcome drink, makanan ringan, dan makanan berat untuk santap malam.
Co-founder PINISI.ID Achmad AldriSukarman tak menampik, relokasi ibu kota negara dari Jakarta ke IKN di Kalimantan Timur membawa dampak pada bisnis perkapalan Pinisi.
"Sejak dipindahnya ibu kota, permintaan kapal Pinisi makin intensif. Kami pun menempatkan dua kapal di sini, mencoba rute. Bila perlu menetap kalau memang ada dukungan dari pemerintah," ujar Sukarman.
Saat ini, dia tengah merampungkan pemesanan kapal Pinisi seorang pebisnis asal Jakarta.
Di galangan yang dimilikinya, dia mampu memproduksi satu hingga dua kapal Pinisi per tahun dengan harga mulai dari Rp 3 miliar hingga Rp 15 miliar per unit.
Dengan material kayu besi, kayu bitti, kayu kandole/punaga, dan kayu jati, kapal Pinisi dikenal kokoh dan tangguh mengarungi lautan.
Baca juga: Investor IKN Urus HGB 11 Hari Langsung Jadi, Kok Bisa?
Ciri khas yang tidak didapatkan pada kapal layar lainnya adalah, Pinisi memiliki dua tiang dan tujuh layar yang memiliki makna filosofis.
Dua tiang menggambarkan dua kalimat syahadat, perjanjian dan kesaksian transendental manusia sebagai umat dengan Allah SWT, Tuhan Sang Pencipta dan Muhammad SAW sebagai Nabi dan utusan-Nya.
Sementara tujuh layar bermakna tujuh ayat dalam Quran Surat Al-Fathihah, sekaligus ketangguhan pinisi dalam berlayar mengarungi tujuh samudera.
Selain memiliki ciri khas di atas, kapal Pinisi Kita Nusantara juga dilengkapi VIP Room, dapur, rooftop, kamar mandi, dan hall dengan desain modern kontemporer.
"IKN menawarkan potensi menjanjikan. Peminatnya luar biasa. Banyak pnumpang yang merasa sedih, karena kehadiran kami di Balikpapan hanya sementara. Kami akan kembali melayani perjalanan Balikpapan-IKN, jika pemerintah telah menetapkan rute dan tarifnya," tuntas Sukarman.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarangArtikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya