Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

"Istana Kepresidenan IKN Harus Berwibawa, Ada Angkernya Sedikit"

Kompas.com, 2 September 2024, 20:41 WIB
Hilda B Alexander

Penulis

NUSANTARA, KOMPAS.com - Kompleks Istana Kepresidenan di Ibu Kota Nusantara (IKN) mencakup dua bangunan masif skala raksasa, yakni Istana Garuda dan Istana Negara.

Kompleks Istana Kepresidenan dirancang dengan pendekatan filosofis yang memadukan langgam arsitektur modern dan kontemporer, menampilkan sosok burung Garuda yang mengepakan sayap.

Bentuk ini menggambarkan lambang kebhinnekaan Indonesia yang dipilih Presiden Joko Widodo (Jokowi) sebagai bangunan kantor presiden bekerja.

Istana Kepresidenan dipahami publik sebagai hasil karya yang dirancang oleh maestro patung Nyoman Nuarta.

Baca juga: Bom Waktu Air Bersih di Sekitar IKN, Pemerintah Beri Perhatian Khusus

Dia pun menjelaskan secara rinci, basic design Istana Kepresidenan yang berwujud monumen burung Garuda.

Istana Kepresidenan dibangun di atas lahan seluas 55,7 hektar dengan tapak seluas 334.200 meter persegi.

"Istana Garuda harus tampil kokoh, terbuat dari rangka baja dengan cangkang tembaga kuningan," ujar Nyoman dalam webinar yang digelar Kenari Djaya dan Asrinesia, Kamis (29/8/2024).

Ruang jamuan kenegaraan di Istana Negara, Kompleks Istana Kepresidenan, Ibu Kota Nusantara (IKN)KOMPAS.com/HILDA B ALEXANDER Ruang jamuan kenegaraan di Istana Negara, Kompleks Istana Kepresidenan, Ibu Kota Nusantara (IKN)
Berdasarkan pengalaman panjangnya, Nyoman meyakini, bahwa material material ini akan mengalami proses oksidasi, sehingga warnanya berubah menjadi kehijauan yang menawan.

Kemegahan bangunan Istana Garuda dan Istana Negara juga harus mampu direpresentasikan ke dalam desain interiornya.

Hal ini agar selaras dengan filosofi Istana Kepresidenan yang gagah dan menunjukkan kewibawaan.

Atau dalam bahasa Jokowi, harus ada unsur angkernya. Sebagaimana dikemukakan desainer interior Istana Kepresidenan Rudy Dodo.

Kemegahan menjadi sebuah keharusan di Istana Kepresidenan. Ukuran atau skala ruangnya  harus cukup untuk mencapai suatu bentuk kemegahan.

Baca juga: Jalan Mulus Tak Hanya di IKN, Juga Akan Dibangun di Kawasan Sekitarnya

"Jadi ketika itu saya harus push semua ketinggian dan lain-lain itu harus diperjuangkan semaksimal mungkin. Satu meter pun sangat berarti untuk diperjuangkan," ujar Dodo.

Selanjutnya untuk memenuhi unsur kewibawaan, interior istana tidak boleh dirancang kekinian atau kaku.

"Kalau istilah Pak Jokowi harus ada angkernya sedikit," imbuhnya.

Dodo menjelaskan, interior Istana Garuda dan Istana Presiden mengusung gaya tropis modern, dan menerapkan elemen dari unsur budaya Nusantara.

"Keindahan ruang interior harus terpancar dan mampu menciptakan kesan, elegan serta memiliki kenyamanan sebuah bangunan istana modern," urai Dodo

Basic design interiornya menggunakan warna-warna alam dalam sentuhan seni, sehingga berpenampilan anggun.

Selasar Istana Negara di Kompleks Istana Kepresidenan Ibu Kota Nusantara (IKN)KOMPAS.com/HILDA B ALEXANDER Selasar Istana Negara di Kompleks Istana Kepresidenan Ibu Kota Nusantara (IKN)
Lebih dari itu, interior Istana Kepresidenan meliputi mengadopsi langgam Nusantara dan tropis, interior yang bercerita, megah dan berwibawa, menghargai masa lalu menyongsong masa depan, serta berkelanjutan.

Mengenai salah satu konsep dasarnya yakni interior yang bercerita, di dalam desain interior istana menyajikan cerita tentang Nusantara.

"Jadi semua ruangan harus punya cerita masing-masing, ceritanya tidak hanya global sebagai konsep interior secara keseluruhan, tapi setiap ruangan memiliki cerita," terang Dodo.

Menurut dia, cerita itu tentang berbagai hal di Nusantara yang dimaksud mulai dari kepribadian, kesenian, arsitektur, kerajinan, hingga budaya dari berbagai wilayah di Indoensia.

Baca juga: Nusantara Jadi Ibu Kota Negara Tunggu Keputusan Presiden

Contohnya, interior yang bercerita tentang tari-tarian, wayang, makanan khas Indonesia, tanaman-tanaman, wayang, hingga kebiasaan seperti gotong-royong dan persatuan.

Misalnya ruang perpustakaan itu bercerita tentang lontar, warisan-warisan lontar di Indonesia.

Dodo pun meyakini, meski tidak seluruhnya, desain interiornya sudah mewakili hampir semua ciri khas wilayah-wilayah di Indonesia.

"Misalnya ada yang ketinggalan pun dapat ditambahkan di kemudian hari, karena interior itu gampang untuk ditambahkurangkan," tandasnya.

Lukisan para pahlawasan revolusi ditempatkan pada dinding Istana Negara, Ibu Kota Nusantara (IKN) sebagai bentuk penghormatan.KOMPAS.com/HILDA B ALEXANDER Lukisan para pahlawasan revolusi ditempatkan pada dinding Istana Negara, Ibu Kota Nusantara (IKN) sebagai bentuk penghormatan.
Filosofi desain inetrior Istana Kepresidenan

1. Nusantara dan tropis

Dodo menjelaskan, alasan memasukkan konsep Nusantara dan tropis di dalam desain interiornya karena letak dari Istana Kepresidenan.

Pertama, tentu Istana Kepresidenan berada di Nusantara. Kemudian, wilayah Kalimantan yang memiliki banyak hutan tropis.

Baca juga: Serba Canggih, Rusun ASN di IKN Gunakan Teknologi Smarthome

"Tapi jangan salah paham bahwa istana ini dibangun di area hutan produktif, bukan hutan asli yang jungle, tapi hutan produktif yang isinya pohon-pohon eukaliptus saja yang setiap berapa bulan ditebang," katanya.

2. Megah dan berwibawa

Kemegahan dinilai menjadi sebuah keharusan di Istana Kepresidenan. Ukuran atau skala ruangnya itu harus cukup untuk mencapai suatu bentuk kemegahan.

"Jadi ketika itu saya harus push semua ketinggian dan lain-lain itu harus diperjuangkan semaksimal mungkin, misalnya satu meter pun sangat berarti untuk diperjuangkan," tambahnya.

Selanjutnya untuk berwibawa, interior istana tidak idak boleh kekinian atau kaku, harus memiliki kewibawaan.

"Kalau istilah Pak Jokowi harus ada angkernya sedikit," ujarnya.

Elemen Nusantara direpresentasikan pada penggunaan tegel buatan Yogyakarta sebagai pelspis lantai Istana Negara, Ibu Kota Nusantara (IKN)KOMPAS.com/HILDA B ALEXANDER Elemen Nusantara direpresentasikan pada penggunaan tegel buatan Yogyakarta sebagai pelspis lantai Istana Negara, Ibu Kota Nusantara (IKN)
3. Menghargai masa lalu, menyongsong masa depan

IKN memang dirancang sebagai kota masa depan alias futuristik. Namun, dia merasa perlu memberi sentuhan masa lalu di dalam desain interiornya.

Alasannya, desain-desain masa lalu bisa lebih bertahan pada masa mendatang. Contohnya motif kawung yang dari masa lalu sampai dengan saat ini masih indah dipandang.

"Jadi akhirnya didesain kami banyak motif-motif yang klasik Indonesia, bukan motif baru dan motif kekinian," katanya.

4. Berkelanjutan

Interior Istana Kepresidenan IKN didesain sedemikian rupa agar bisa menyesuaikan dengan perubahan yang akan terjadi pada masa mendatang.

"Saya tidak mendesain sesuatu yang seperti ini saja kemudian ketika diubah menjadi aneh. Saya merasa di masa yang pendek, dua tahun lagi, tiga tahun lagi, 10 tahun lagi, saya berharap ada desainer interior yang lain yang akan mengisi ruangan yang saya sudah desain atau menambahkan sesuatu," pungkas Dodo.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang



Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Dengan Membership bulanan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Dengan Membership tahunan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Diperbaharui : 1 Juli 2026
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Pesan apresiasi berhasil
Pesan apresiasi darimu sudah dipublikasikan di halaman komentar
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau