Penulis
NUSANTARA, KOMPAS.com - Kompleks Istana Kepresidenan di Ibu Kota Nusantara (IKN) mencakup dua bangunan masif skala raksasa, yakni Istana Garuda dan Istana Negara.
Kompleks Istana Kepresidenan dirancang dengan pendekatan filosofis yang memadukan langgam arsitektur modern dan kontemporer, menampilkan sosok burung Garuda yang mengepakan sayap.
Bentuk ini menggambarkan lambang kebhinnekaan Indonesia yang dipilih Presiden Joko Widodo (Jokowi) sebagai bangunan kantor presiden bekerja.
Istana Kepresidenan dipahami publik sebagai hasil karya yang dirancang oleh maestro patung Nyoman Nuarta.
Baca juga: Bom Waktu Air Bersih di Sekitar IKN, Pemerintah Beri Perhatian Khusus
Dia pun menjelaskan secara rinci, basic design Istana Kepresidenan yang berwujud monumen burung Garuda.
Istana Kepresidenan dibangun di atas lahan seluas 55,7 hektar dengan tapak seluas 334.200 meter persegi.
"Istana Garuda harus tampil kokoh, terbuat dari rangka baja dengan cangkang tembaga kuningan," ujar Nyoman dalam webinar yang digelar Kenari Djaya dan Asrinesia, Kamis (29/8/2024).
Ruang jamuan kenegaraan di Istana Negara, Kompleks Istana Kepresidenan, Ibu Kota Nusantara (IKN)Kemegahan bangunan Istana Garuda dan Istana Negara juga harus mampu direpresentasikan ke dalam desain interiornya.
Hal ini agar selaras dengan filosofi Istana Kepresidenan yang gagah dan menunjukkan kewibawaan.
Atau dalam bahasa Jokowi, harus ada unsur angkernya. Sebagaimana dikemukakan desainer interior Istana Kepresidenan Rudy Dodo.
Kemegahan menjadi sebuah keharusan di Istana Kepresidenan. Ukuran atau skala ruangnya harus cukup untuk mencapai suatu bentuk kemegahan.
Baca juga: Jalan Mulus Tak Hanya di IKN, Juga Akan Dibangun di Kawasan Sekitarnya
"Jadi ketika itu saya harus push semua ketinggian dan lain-lain itu harus diperjuangkan semaksimal mungkin. Satu meter pun sangat berarti untuk diperjuangkan," ujar Dodo.
Selanjutnya untuk memenuhi unsur kewibawaan, interior istana tidak boleh dirancang kekinian atau kaku.
"Kalau istilah Pak Jokowi harus ada angkernya sedikit," imbuhnya.
Dodo menjelaskan, interior Istana Garuda dan Istana Presiden mengusung gaya tropis modern, dan menerapkan elemen dari unsur budaya Nusantara.
"Keindahan ruang interior harus terpancar dan mampu menciptakan kesan, elegan serta memiliki kenyamanan sebuah bangunan istana modern," urai Dodo
Basic design interiornya menggunakan warna-warna alam dalam sentuhan seni, sehingga berpenampilan anggun.
Selasar Istana Negara di Kompleks Istana Kepresidenan Ibu Kota Nusantara (IKN)Mengenai salah satu konsep dasarnya yakni interior yang bercerita, di dalam desain interior istana menyajikan cerita tentang Nusantara.
"Jadi semua ruangan harus punya cerita masing-masing, ceritanya tidak hanya global sebagai konsep interior secara keseluruhan, tapi setiap ruangan memiliki cerita," terang Dodo.
Menurut dia, cerita itu tentang berbagai hal di Nusantara yang dimaksud mulai dari kepribadian, kesenian, arsitektur, kerajinan, hingga budaya dari berbagai wilayah di Indoensia.
Baca juga: Nusantara Jadi Ibu Kota Negara Tunggu Keputusan Presiden
Contohnya, interior yang bercerita tentang tari-tarian, wayang, makanan khas Indonesia, tanaman-tanaman, wayang, hingga kebiasaan seperti gotong-royong dan persatuan.
Misalnya ruang perpustakaan itu bercerita tentang lontar, warisan-warisan lontar di Indonesia.
Dodo pun meyakini, meski tidak seluruhnya, desain interiornya sudah mewakili hampir semua ciri khas wilayah-wilayah di Indonesia.
"Misalnya ada yang ketinggalan pun dapat ditambahkan di kemudian hari, karena interior itu gampang untuk ditambahkurangkan," tandasnya.
Lukisan para pahlawasan revolusi ditempatkan pada dinding Istana Negara, Ibu Kota Nusantara (IKN) sebagai bentuk penghormatan.1. Nusantara dan tropis
Dodo menjelaskan, alasan memasukkan konsep Nusantara dan tropis di dalam desain interiornya karena letak dari Istana Kepresidenan.
Pertama, tentu Istana Kepresidenan berada di Nusantara. Kemudian, wilayah Kalimantan yang memiliki banyak hutan tropis.
Baca juga: Serba Canggih, Rusun ASN di IKN Gunakan Teknologi Smarthome
"Tapi jangan salah paham bahwa istana ini dibangun di area hutan produktif, bukan hutan asli yang jungle, tapi hutan produktif yang isinya pohon-pohon eukaliptus saja yang setiap berapa bulan ditebang," katanya.
2. Megah dan berwibawa
Kemegahan dinilai menjadi sebuah keharusan di Istana Kepresidenan. Ukuran atau skala ruangnya itu harus cukup untuk mencapai suatu bentuk kemegahan.
"Jadi ketika itu saya harus push semua ketinggian dan lain-lain itu harus diperjuangkan semaksimal mungkin, misalnya satu meter pun sangat berarti untuk diperjuangkan," tambahnya.
Selanjutnya untuk berwibawa, interior istana tidak idak boleh kekinian atau kaku, harus memiliki kewibawaan.
"Kalau istilah Pak Jokowi harus ada angkernya sedikit," ujarnya.
Elemen Nusantara direpresentasikan pada penggunaan tegel buatan Yogyakarta sebagai pelspis lantai Istana Negara, Ibu Kota Nusantara (IKN)
IKN memang dirancang sebagai kota masa depan alias futuristik. Namun, dia merasa perlu memberi sentuhan masa lalu di dalam desain interiornya.
Alasannya, desain-desain masa lalu bisa lebih bertahan pada masa mendatang. Contohnya motif kawung yang dari masa lalu sampai dengan saat ini masih indah dipandang.
"Jadi akhirnya didesain kami banyak motif-motif yang klasik Indonesia, bukan motif baru dan motif kekinian," katanya.
4. Berkelanjutan
Interior Istana Kepresidenan IKN didesain sedemikian rupa agar bisa menyesuaikan dengan perubahan yang akan terjadi pada masa mendatang.
"Saya tidak mendesain sesuatu yang seperti ini saja kemudian ketika diubah menjadi aneh. Saya merasa di masa yang pendek, dua tahun lagi, tiga tahun lagi, 10 tahun lagi, saya berharap ada desainer interior yang lain yang akan mengisi ruangan yang saya sudah desain atau menambahkan sesuatu," pungkas Dodo.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang