Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Soal Penamaan Basilika Nusantara di IKN, PUPR Akan Ikuti Aturan

Kompas.com, 11 September 2024, 09:00 WIB
Hilda B Alexander

Penulis

Ventilasi alami membantu aliran udara segar dan pembaruan kualitas udara yang baik di dalam ruangan.

Baca juga: Istana Garuda di IKN Mulai Tampak Menghijau

Selain itu, Basilika juga terinspirasi terasering yang mengacu pada penggunaan tingkat-tingkat bertingkat, terhubung secara bertahap, mirip dengan terasering pada lahan berlereng.

Pendekatan ini menghasilkan serangkaian tingkat yang terbuka dan terhubung, menciptakan ruang-ruang terbuka yang berbeda dengan ketinggian yang berbeda pula.

"Inspirasi terasering dalam desain bangunan Basilika ini juga menciptakan hubungan yang lebih erat antara struktur bangunan dan lingkungan alam sekitarnya," tutur Mei.

Kedua konsep ini mencerminkan nilai-nilai yang diungkapkan dalam ensiklik Laudato Si, yang menyerukan tindakan terhadap perubahan iklim dan penghormatan terhadap 'Ibu Bumi' sebagai Rumah Bersama.

Dengan mengadopsi prinsip-prinsip ini, arsitektur bangunan gereja tidak hanya berfungsi sebagai tempat ibadah tetapi juga sebagai simbol komitmen terhadap pelestarian lingkungan.

"Ini adalah langkah maju dalam arsitektur gereja yang menghormati tradisi sambil merangkul tanggung jawab ekologis," tegas Mei.

Kompleks Basilika Nusantara ini terdiri dari beberapa area. Bangunan terbesar dirancang seluas 10.612,66 meter persegi, dan luas persil 2.023 hektar yang merupakan bangunan ibadah serta fungsi-fungsi pendukung Pastoral Paroki dan Pastoral Keuskupan.

Untuk bangunan gedung meliputi Gedung Gereja Katolik empat lantai seluas 8.586 meter persegi, Wisma Uskup tiga lantai 1.770 meter persegi untuk 10 Uskup Agung dan 28 Uskup, dan Bangunan Penunjang (Kantin) dua lantai 256 meter persegi.

Baca juga: Pembangunan IKN Dipastikan Sesuai Perencanaan dan Perancangan

Sementara untuk kawasan meliputi Plaza Gereja Katolik, Pelataran Utama, Pelataran Makan, Plaza Jalan Salib, Taman Doa, Taman Wisma Uskup, serta Parkiran.

Adapun interior Basilika Nusantara dibuat dengan Aturan Tata Letak Perangkat Gereja Katolik.

"Secara desain interior, menampilkan kkhas-an sebuah ornamen kelokalan, mengambil bentuk bunga dan buah pala serta tenun Maluku dari Kepulauan Banda," ungkap Mei.

Motif ini dipilih karena Santo Fransiskus Xaverius pertama kali melakukan misinya di Pulau Ambon, Maluku, dan merupakan titik awal sejarah Gereja Katolik di Indonesia.

Sedangkan pola Nusantara akan berada di Wisma Uskup, sebagai jawaban terhadap semua Keuskupan yang berada di Indonesia.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Halaman:


Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau