Penulis
Ventilasi alami membantu aliran udara segar dan pembaruan kualitas udara yang baik di dalam ruangan.
Baca juga: Istana Garuda di IKN Mulai Tampak Menghijau
Selain itu, Basilika juga terinspirasi terasering yang mengacu pada penggunaan tingkat-tingkat bertingkat, terhubung secara bertahap, mirip dengan terasering pada lahan berlereng.
Pendekatan ini menghasilkan serangkaian tingkat yang terbuka dan terhubung, menciptakan ruang-ruang terbuka yang berbeda dengan ketinggian yang berbeda pula.
"Inspirasi terasering dalam desain bangunan Basilika ini juga menciptakan hubungan yang lebih erat antara struktur bangunan dan lingkungan alam sekitarnya," tutur Mei.
Kedua konsep ini mencerminkan nilai-nilai yang diungkapkan dalam ensiklik Laudato Si, yang menyerukan tindakan terhadap perubahan iklim dan penghormatan terhadap 'Ibu Bumi' sebagai Rumah Bersama.
Dengan mengadopsi prinsip-prinsip ini, arsitektur bangunan gereja tidak hanya berfungsi sebagai tempat ibadah tetapi juga sebagai simbol komitmen terhadap pelestarian lingkungan.
"Ini adalah langkah maju dalam arsitektur gereja yang menghormati tradisi sambil merangkul tanggung jawab ekologis," tegas Mei.
Kompleks Basilika Nusantara ini terdiri dari beberapa area. Bangunan terbesar dirancang seluas 10.612,66 meter persegi, dan luas persil 2.023 hektar yang merupakan bangunan ibadah serta fungsi-fungsi pendukung Pastoral Paroki dan Pastoral Keuskupan.
Untuk bangunan gedung meliputi Gedung Gereja Katolik empat lantai seluas 8.586 meter persegi, Wisma Uskup tiga lantai 1.770 meter persegi untuk 10 Uskup Agung dan 28 Uskup, dan Bangunan Penunjang (Kantin) dua lantai 256 meter persegi.
Baca juga: Pembangunan IKN Dipastikan Sesuai Perencanaan dan Perancangan
Sementara untuk kawasan meliputi Plaza Gereja Katolik, Pelataran Utama, Pelataran Makan, Plaza Jalan Salib, Taman Doa, Taman Wisma Uskup, serta Parkiran.
Adapun interior Basilika Nusantara dibuat dengan Aturan Tata Letak Perangkat Gereja Katolik.
"Secara desain interior, menampilkan kkhas-an sebuah ornamen kelokalan, mengambil bentuk bunga dan buah pala serta tenun Maluku dari Kepulauan Banda," ungkap Mei.
Motif ini dipilih karena Santo Fransiskus Xaverius pertama kali melakukan misinya di Pulau Ambon, Maluku, dan merupakan titik awal sejarah Gereja Katolik di Indonesia.
Sedangkan pola Nusantara akan berada di Wisma Uskup, sebagai jawaban terhadap semua Keuskupan yang berada di Indonesia.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang