Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Pembangunan Basilika Nusantara di IKN Masih Proses Perizinan Vatikan

Kompas.com, 15 September 2024, 11:46 WIB
Hilda B Alexander

Penulis

Angka-angka ini muncul dalam ukuran-ukuran penting bangunan, seperti ukuran bangunan utama, ukuran Altar hingga ukuran Menara Lonceng.

Bentuk massa bangunan Basilika didominasi oleh arsitektur atap, sebagai inspirasi dari arsitektur Vernakular Nusantara yang banyak didominasi bentuk atap sebagai respons terhadap iklim tropis.

"Kemiringan atap ini membentuk efek nave yang tinggi dan megah pada ruang dalam ibadah utama," jelas Mei.

Gereja mempunya dua makna, sebagai makna arsitektur dan sebagai makna kegerejaan. Dia tumbuh dari tanah, dan akan tumbuh besar sebagai umat yang akan mengisinya.

Sehingga ditampilkan sebuah bentuk bangunan yang seolah-olah muncul dari tanah, dimana lokasi Basilika ini mempunyai karakterisktik bentuk tanah yang sangat berbukit.

Basilika ini berdiri di samping lereng hampir pada posisi tertinggi di lokasinya.

Baca juga: Tarif Termahal Swissôtel Nusantara Tempat Para Menteri Menginap di IKN Rp 20 Juta Per Malam

Mei menerangkan, topografi lahan pada site Basilika diupayakan dapat mempertahankan bentuk eksistingnya.

Dalam upaya perencanaan gedung, Basilika direncanakan dengan cut and fill seminimal mungkin.

Gereja juga mempunyai arti sebagai perjumpaan antara Allah dan manusia serta manusia dengan sesama manusia.

"Dan khusus IKN, manusianya juga bersama alam. Banyak area dalam lahan yang digunakan untuk ibadah luar juga," imbuh Mei.

Adapun Altarnya dirancang untuk menghadap ke dalam dan ke luar, menggambarkan hubungan yang dinamis antara ruang sakral dan alam, mengundang refleksi tentang hubungan manusia dengan pencipta dan ciptaan.

Baca juga: Bandara IKN Akan Diuji Coba Pendaratan Pesawat Kepresidenan

Hal ini merespons tuntutan kebutuhan fungsi dan konteks kontur dan arah angin, massa bangunan dilengkapi dengan kulit bangunan yang memberikan naungan dari sinar matahari pagi dan sore, namun tetap memberikan sirkulasi udara alami ke dalam ruang.

Kulit bangunan yang responsif terhadap kondisi cahaya dan angin ini menunjukkan pemahaman yang mendalam tentang kebutuhan fungsional dan kenyamanan termal, sekaligus mempertahankan keterbukaan terhadap elemen alam.

Bangunan yang bernafas

Lebih jauh Mei memerinci, konsep bangunan Basilika dibuat "bernafas", yakni mengacu pada desain dan pengembangan bangunan gereja yang memperhatikan ventilasi dan sirkulasi udara yang baik.

Tujuan dari konsep ini adalah menciptakan ruang yang nyaman bagi umat dan memperhatikan kualitas udara di dalam bangunan gereja.

Halaman:


Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Dengan Membership bulanan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Dengan Membership tahunan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Diperbaharui : 1 Juli 2026
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Pesan apresiasi berhasil
Pesan apresiasi darimu sudah dipublikasikan di halaman komentar
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau