Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Kompas.com, 29 September 2024, 19:56 WIB
Add on Google
Hilda B Alexander

Penulis

NUSANTARA, KOMPAS.com - Otorita Ibu Kota Nusantara (OIKN) menyebutkan, investasi swasta yang masuk ke IKN hingga September 2024 senilai Rp 53,5 triliun.

Sekitar 80 persen di antaranya dikontribusi oleh sektor properti yang dikembangkan perusahaan-perusahaan papan atas Nasional.

Bahkan, beberapa di antaranya dirintis oleh para naga dan konglomerat properti.

Sebut saja Agung Sedayu Group (ASG) sebagai pemimpin Konsorsium Nusantara, Pakuwon Jati, dan Royal Golden Eagle (RGE) Group yang memiliki sejumlah properti kelas premium.

Baca juga: Memahami Jakarta, Kota Global Pasca IKN

Dalam catatan Kompas.com, dari delapan kali peletakan ekskavator pertama atau groundbreaking, sejumlah konglomerat berperan membangun proyek-proyek padat modal seperti konsep mixed use.

Berikut konglomerat terkait

1. Konsorsium Nusantara

Diinisiasi oleh pemilik Agung Sedayu Group (ASG) Sugianto Kusuma (Aguan). Dia menggandeng sembilan perusahaan raksasa lainnya dalam Konsorsium Nusantara.

Selain ASG, sembilan kompatriot lainnya adalah Salim Group, Sinarmas Group, Pulauintan Group, Adaro Group, Barito Pacific Group, Mulia Group, Astra Group, Kawan Lama Group, dan Alfamart Group.

Baca juga: Enam Proyek Mixed Use yang Dibangun di IKN Tembus Rp 38,8 Triliun

Konsorsium Nusantara membangun kawasan mixed use dengan nilai investasi fantastis yakni Rp 20 triliun.

Investasi ini akan digunakan untuk membangun Swissôtel Nusantara, Nusantara Duty Free Mall, dan Nusantara Apartment.

Swissôtel Nusantara dengan 191 kamar telah diresmikan pembukaannya oleh Presiden Joko Widodo.

Sementara Nusantara Duty Free Mall baru saja memulai pembangunannya.

2. PT Pakuwon Jati Tbk

PT Pakuwon Jati Tbk membesut pengembangan Pakuwon Nusantara dengan merogoh kocek Rp 5 triliun.

Melalui anak usaha, PT Pakuwon abadi Nusantara (PNA), raja properti yang berbasis di Surabaya, Jawa Timur, yang dimiliki oleh Alexander Tedja ini akan membangun Pakuwon Nusantara di Kawasan Inti Pusat Pemerintahan (KIPP) 1 A, yakni di Jalan Sumbu Kebangsaan.

Baca juga: Mimpi Besar Indonesia Punya Tol Bawah Laut Bakal Terwujud di IKN

Pakuwon Nusantara yang menempati area seluas 7,2 hektar, dirancang dengan konsep ramah lingkungan.

President Director PNA Eiffel Tedja menuturkan, tahapan pembangunan mencakup hotel Four Points by Sheraton.

Kemudian disusul dengan pembangunan pusat perbelanjaan, Hotel Tribute Portfolio by Marriott, Hotel Westin, dan ballroom.

Sementara Mal Pakuwon Nusantara mengusung desain yang menyatu dengan konsep teras langit dari alam terbuka hijau dengan pemandangan langsung ke lembah dan sungai.

3. PT Wulandari Bangun Laksana Tbk 

Perusahaan yang kini dikendalikan generasi kedua, Tjia Daniel Wirawan ini merupakan satu-satunya investor lokal asal Balikpapan, Kalimantan Timur, yang berinvestasi di IKN.

Baca juga: Meski Baru Dua Tahun, IKN Bertabur Hotel Berbintang

Dengan investasi senilai Rp 3 triliun, Perseroan akan membangun hotel bintang empat, pusat perbelanjaan, perkantoran, apartemen, dan fasilitas olahraga sebagai community hub.

PT Wulandari Bangun Laksana Tbk akan membangun community hub terlebih dahulu yang mencakup lapangan futsal, lapangan basket, kafe, restoran, dan fasilitas olahraga serta hobi.

4. PT Intiland Development Tbk

PT Intiland Development Tbk merupakan pemain lama di sektor properti yang dibesut Hendro Santoso Gondokusumo.

Dia bersama mitra strategis PT Abdael Nusa dan CAMC Engineering Co., Ltd. (CAMCE), membangun proyek jumbo di IKN dengan nilai Rp 3,8 triliun.

Proyek pertama yakni pengembangan kawasan mixed-use Grand Whiz Nusantara yang mengintegrasikan hotel, serviced apartment, area ritel, pusat olahraga, dan fasilitas makanan dan minuman.

Baca juga: Investasi Swasta di IKN Ditopang Sektor Properti

Proyek kedua adalah Nusantara Quarter, sebuah pengembangan kawasan Transit-Oriented Development (TOD) yang mengintegrasikan hunian, perkantoran, dan area komersila dengan akses transportasi publik.

Pengembangan ketiga yakni kawasan perumahan dengan fasilitas lapangan golf bernama Royale Nusantara Golf Resort & Residence.

Untuk merealisasikan proyek ini, pengembang merogoh kocek senilai Rp 3,8 triliun.

5. Royal Golden Eagle (RGE) Group

RGE Group yang dimiliki konglomerat Sukanto Tanoto, ikut berkontribusi membangun IKN di sektor investasi.

Mereka akan menggarap mixed use development yang mencakup gedung dengan fungsi pusat konvensi bertaraf internasional, dan hotel.

Baca juga: Otorita Ultimatum Swasta, Batas Waktu Bangun Proyek 18 Bulan Sejak Groundbreaking

Nilai investasi yang dikucurkan RGE untuk membangun proyek tersebut adalah sebesar Rp 2 triliun.

Berlokasi di area 1B seluas 12 hektar, Nusantara International Convention Center and Hotel diharapkan menjadi ikon Nusantara untuk menyelenggarakan Meeting, Incentive, Convention and Exhibition (MICE).

Gedung convention center ini dirancang dengan kapasitas sekitar 10.000 orang. Sementara hotelnya akan menyediakan 200 kamar tipe suites room yang didesain dengan konsep modern dan berkelanjutan.

 

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang



Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau