Penulis
NUSANTARA, KOMPAS.com - Trem Otonom Terpadu (TOT) atau Autonomus Rail Transit (ART) buatan CRRC Qingdao Sifang China dinilai tak bisa beroperasi secara otonom, setelah menjalani uji coba atau Proof of Concept (PoC).
Penilaian PoC berlangsung sejak 12 September 2024 hingga 22 Oktober 2024 di area Kawasan Inti Pusat Pemerintahan (KIPP) Ibu Kota Nusantara (IKN) dengan dua rute pengujian yang mencakup area di sekitar Kemenko 1–4, serta Jalan Sumbu Kebangsaan Sisi Barat dan Timur.
Kendati demikian, Direktorat Jenderal (Ditjen) Bina Marga Kementerian Pekerjaan Umum (PU) memastikan, tidak akan ada perubahan atau revisi desain jalan yang dilakukan.
Baca juga: Hasil Evaluasi, Trem CRRC Sifang Gagal Berfungsi secara Otonom di IKN
Hal ini karena menurut Direktur Jenderal Bina Marga Rachman Arief Dienaputra, seluruh jaringan jalan di IKN telah dirancang dengan prinsip fleksibilitas dan kesiapan mendukung berbagai moda transportasi, termasuk ART.
"Meski operasional otonom ART masih memerlukan waktu, desain jalan dan infrastruktur pendukung tetap mengakomodasi pengoperasian ART dalam mode manual maupun otonom pada masa mendatang," tutur Rachman Arief kepada Kompas.com, Selasa (26/11/2024).
Delegasi CRRC Zuzhou & Norinco meninjau Jalan Sumbu Kebangsaan Sisi Barat di Ibu Kota Nusantara (IKN) sebagai jalur PoC kereta otonom yang akan diuji coba pada 10 Agustus 2024."Dengan pendekatan ini, pembangunan infrastruktur jalan di IKN tetap berjalan sesuai rencana awal, mendukung keberlanjutan dan efisiensi," tegas Rachman Arief.
Untuk diketahui, kegiatan penilaian PoC TOT didukung oleh tim evaluasi independen yang terdiri dari para pakar transportasi dan teknologi sistem kendali otonom tiga perguruan tinggi, asosiasi profesi, dan praktisi profesional di Indonesia.
Baca juga: Tak Bisa Jalan secara Otonom, Trem CRRC Sifang Bakal Dikembalikan ke China
Evaluasi tim ahli penilai PoC ini fokus pada skenario pengujian seperti pengereman darurat, kemampuan otonom, dan performa baterai untuk memastikan teknologi TOT siap diimplementasikan di IKN.
Rekomendasi penilaian juga termasuk perlunya penyempurnaan operasional trem secara otonom, peningkatan fitur adaptasi dan keselamatan pada situasi mixed traffic, dan pembaruan sistem komunikasi agar sejalan dengan persyaratan keamanan siber di IKN.
Deputi Bidang Transformasi Hijau dan Digital Otorita IKN (OIKN) Mohammed Ali Berawi menjelaskan, ada tiga catatan penting dari hasil temuan tim penilai.
Trem Otonom Terpadu (TOT) menjadi armada transportasi favorit saat perayaan HUT ke-79 RI di Ibu Kota Nusantara (IKN)"Hal ini memperlihatkan bahwa penyedia teknologi belum yakin penuh pada keandalan (realibilitas) sistem kendali autonomous-nya," tegas Ale dalam wawancara khusus dengan Kompas.com, Rabu (7/11/2024).
Catatan kedua adalah performa sistem otonom belum teruji sepenuhnya. Tidak terdapat rencana kecepatan dan pengereman per rute jalan atau programmable route control.
Selain itu beberapa skenario perjalanan yang diminta untuk pengujian otomatisasi masih memerlukan pengaturan ulang di lapangan.
Baca juga: Trem Otonom IKN Cuma Rp 70 Miliar Per Unit, Jokowi Minta Dibangun di Kota Lain