Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

BRIN Akui Klaim IKN Kekeringan Masih Riset Awal dari Citra Satelit

Kompas.com, 18 Oktober 2025, 19:12 WIB
Hilda B Alexander

Penulis

NUSANTARA, KOMPAS.com – Otorita Ibu Kota Nusantara (IKN) kembali mempertegas komitmennya membangun ibu kota berdasarkan fondasi ilmiah yang kuat dan data lapangan yang akurat.

Dalam pertemuan strategis dengan Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) di Balai Kota IKN, Rabu (15/10/2025), terungkap sebuah fakta krusial terkait kualitas data riset IKN.

Fakta tersebut secara tidak langsung menanggapi kekhawatiran publik terhadap hasil riset sumber daya air sebelumnya yakni potensi kekeringan IKN selama ini hanya didasarkan pada analisis citra satelit dan belum melalui verifikasi lapangan yang mendalam.

BRIN Luruskan Data Air IKN

Kepala Pusat Riset Geoinformatika BRIN, Rokhis Khomarudin, menegaskan pentingnya verifikasi data secara langsung di lapangan.

Baca juga: Kelangkaan Air Mengancam IKN, Ini yang Harus Dilakukan Otorita

Prinsip "Garbage In, Garbage Out" menjadi kunci, menekankan bahwa kualitas riset ditentukan oleh kualitas data masukan.

Rokhis mengakui, terkait hasil riset [sumber daya air] sebelumnya, sejauh ini informasinya masih berdasarkan citra satelit dan belum melalui kegiatan lapangan.

Dengan kata lain, riset itu masih awal, maka BRIN masih perlu mengonfirmasi lebih dahulu. 

"Dengan hadirnya para periset tersebut langsung ke lapangan, harapannya dapat melihat bagaimana kondisi eksisting (sebenarnya) yang ada di IKN. Dengan adanya tambahan data yang dilakukan BRIN di IKN, memperykuat hasil riset sebelumnya,” jelas Rokhis, dikutip Kompas.com, Sabtu (18/10/2025).

Baca juga: Proyek Jaringan Pipa Air Bersih IKN Rp 445 Miliar Terkendala Lahan

Rombongan tujuh peneliti BRIN lintas bidang pun langsung meninjau infrastruktur vital seperti 54 embungyang telah beroperasi, Bendungan Sepaku Semoi, dan Daerah Aliran Sungai (DAS) Sanggai.

Hasil kunjungan ini membuktikan air baku di IKN terjamin, bahkan mendukung ekonomi hijau lokal, seperti budidaya kopi liberika di sekitar DAS Sanggai.

Toponimi Berbasis Budaya dan Futuristik

Agenda utama kolaborasi ini adalah penyusunan kajian penamaan rupa bumi (toponimi) IKN, mencakup nama jalan, embung, hingga gedung pemerintahan. Targetnya selesai sebelum akhir tahun 2027.

Kepala Otorita IKN, Basuki Hadimuljono, menyebut ini sebagai langkah strategis untuk memperkuat identitas kota menjelang fungsinya sebagai Ibu Kota Politik pada tahun 2028.

Baca juga: Balikpapan Krisis Air, Hashim Bakal Bangun Bendungan Besar di IKN

“Toponimi ini akan sangat diperlukan. Tidak hanya nama jalan saja, tetapi setiap kawasan IKN harus kita beri identitas,” tegas Basuki.

Rokhis menambahkan, penamaan ini akan menjadi "Peta Sakral" identitas kota yang komprehensif.

Prosesnya melampaui aspek geografis, yaitu melibatkan masukan warga lokal dan mempertimbangkan unsur budaya, nama-nama yang modern, mudah diingat, dan mencerminkan visi smart city.

Halaman:


Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Dengan Membership bulanan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Dengan Membership tahunan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Diperbaharui : 1 Juli 2026
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Pesan apresiasi berhasil
Pesan apresiasi darimu sudah dipublikasikan di halaman komentar
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau