Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Hutama Karya Pimpin BUMN, Teken Kontrak Jalan Kawasan Yudikatif di IKN

Kompas.com, 1 November 2025, 09:18 WIB
Hilda B Alexander

Penulis

NUSANTARA, KOMPAS.com - Ibu Kota Nusantara (IKN) tidak hanya membangun gedung pemerintahan, tetapi juga merancang sistem saraf kota yang cerdas, efisien, dan berkelanjutan.

Langkah krusial ini ditandai dengan penandatanganan kontrak pembangunan Jalan Kawasan Kompleks Yudikatif pada Jumat (31/10/2015) oleh PT Hutama Karya (Persero) sebagai leader Kerja Sama Operasi (KSO) BUMN Karya.

Proyek adalah fondasi mobilitas masa depan IKN, yang diprioritaskan pada kualitas, estetika, dan prinsip green infrastructure.

Baca juga: Pembangunan Kompleks DPR/MPR dan MA di IKN Telan APBN Rp 11,6 Triliun

Jalan sepanjang 6,418 kilometer ini akan menjadi urat nadi utama yang memastikan kelancaran interaksi antar lembaga pemerintahan di Kawasan Inti Pusat Pemerintahan (KIPP).

Proyek ini secara spesifik bertujuan memperkuat konektivitas di kawasan Yudikatif, yang merupakan bagian tak terpisahkan dari klaster yudikatif–eksekutif–legislatif di IKN.

Adapun ruang lingkup pekerjaan Hutama Karya tidak terbatas pada perkerasan. Proyek ini mencakup pembangunan jalan utama, jembatan, bangunan pelengkap, sistem drainase, Penerangan Jalan Umum (PJU), hingga penataan lanskap.

Yang paling menarik adalah integrasi multi utility tunnel(MUT), sebuah terowongan bawah tanah yang akan menampung semua jaringan utilitas (listrik, komunikasi, air), menghilangkan pemandangan kabel semrawut, dan menjamin efisiensi pemeliharaan di masa depan.

Proyek KSO ini ditargetkan rampung pada akhir tahun 2027, menegaskan komitmen BUMN Karya dalam mendukung percepatan pembangunan IKN.

Baca juga: November 2025, Perkantoran Legislatif dan Yudikatif Mulai Dibangun

Kepala Otorita IKN, Basuki Hadimuljono, menekankan bahwa standar yang diterapkan dalam proyek ini adalah tolok ukur pembangunan IKN secara keseluruhan.

“Pembangunan proyek Jalan Kawasan Kompleks Yudikatif ini bukan sekadar membangun fisik, tetapi juga menjaga kualitas, estetika, dan prinsip keberlanjutan lingkungan,” ujar Basuki.

Komitmen pada prinsip lingkungan ini dipertegas oleh EVP Sekretaris Perusahaan Hutama Karya, Mardiansyah, bahwa penerapan prinsip green infrastructure dimulai dari pemilihan material berjejak karbon lebih rendah.

"Perancangan sistem drainase berkelanjutan ditujukan untuk meningkatkan ketangguhan kota terhadap perubahan iklim dan cuaca ekstrem," tambahnya.

Selain manfaat fungsional sebagai konektor lembaga negara, pembangunan infrastruktur ini juga membawa dampak positif yang langsung dirasakan oleh masyarakat sekitar Kalimantan Timur.

Baca juga: Teknologi Aluform Bikin Konstruksi Rusun ASN 2 IKN Lebih Cepat

Proyek konstruksi ini akan mengoptimalkan peran dan penyerapan tenaga kerja lokal pada setiap tahapnya, memastikan bahwa pembangunan IKN secara langsung meningkatkan kesejahteraan warga setempat.

Mardiansyah menyebut proyek ini akan memberikan nilai tambah bagi negara melalui fondasi mobilitas yang efisien dan berkelanjutan, yang kelak akan mendukung operasional pemerintahan yang efektif.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang



Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau