Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Cara Otorita IKN Cetak SDM Kelas Dunia Tanpa Kemiskinan

Kompas.com, 3 Mei 2026, 19:37 WIB
Add on Google
Hilda B Alexander

Penulis

NUSANTARA, KOMPAS.com - Ibu Kota Nusantara (IKN) kini berdiri sebagai antitesis terhadap ketimpangan, sekaligus menjadi laboratorium hidup bagi transformasi peradaban Indonesia menuju 2045.

Optimisme terhadap keberlanjutan proyek ini menguat seiring dengan akselerasi pembangunan infrastruktur fisik.

Wakil Ketua Umum Pengurus Pusat Persatuan Tenis Seluruh Indonesia (PP Pelti), Mohammad Jafar Hafsah, saat meninjau Kawasan Inti Pusat Pemerintahan (KIPP) pada Sabtu (2/4/2026), mengungkapkan impresinya terhadap kecepatan pengerjaan di lapangan.

"Kemajuan pembangunan IKN ini sungguh memikat nalar. Kami semakin yakin bahwa dalam tempo singkat, denyut nadi pemerintahan akan berpindah secara resmi ke sini," ujar Jafar.

Baca juga: Goresan Malam Sang Penyintas Kanker, Menduniakan Batik Kalimantan

Keyakinan tersebut bukan tanpa landasan. Kepala Otorita IKN, Basuki Hadimuljono, memastikan bahwa fase pembangunan telah melampaui sekadar penyediaan kantor eksekutif.

Fokus kini bergeser pada penguatan pilar demokrasi lainnya: yudikatif dan legislatif.

Menurut Basuki, seluruh perencanaan telah mendapat restu dari Presiden Prabowo Subianto.

"Target kami, pada akhir 2027, kompleks Mahkamah Agung, Mahkamah Konstitusi, Komisi Yudisial, serta gedung DPR dan DPD telah berdiri tegak dan siap beroperasi," tegas Basuki.

Penegasan ini sekaligus menepis keraguan publik mengenai keberlangsungan proyek transisi ibu kota di bawah kepemimpinan nasional yang baru.

Arsitektur Sosial Penghapus Kemiskinan

Jika infrastruktur fisik adalah raga, maka pendidikan adalah jiwa dari IKN. Otorita IKN secara eksplisit menempatkan sektor pendidikan sebagai instrumen utama dalam memutus rantai kemiskinan struktural.

Targetnya menghapus kemiskinan di kawasan ini pada tahun 2035 melalui rekayasa sumber daya manusia (SDM).

Baca juga: Otorita IKN Reklamasi Tahura Soeharto dan Ancam Pidanakan Perambah

Staf Khusus Kepala Otorita IKN Bidang Komunikasi Publik, Troy Pantouw, dalam simposium *IKN Youth Forum, Jumat (1/5/2026), memaparkan bahwa peta jalan pendidikan di Nusantara dirancang sebagai infrastruktur sosial primer.

"Kami tidak membangun sekolah sekadar sebagai ruang kelas, melainkan sebagai ekosistem pertumbuhan karakter. IKN adalah kota dunia yang inklusif, dan itu hanya bisa dicapai jika manusianya memiliki kompetensi global namun tetap berpijak pada nilai intrinsik bangsa," papar Troy.

Pendidikan di Nusantara mengadopsi struktur yang adaptif terhadap psikologi perkembangan PAUD dengan menitikberatkan pada regulasi diri dan nalar elementer.

Kemudian Pendidikan Dasar yang fokus pada eksplorasi lingkungan serta penguatan literasi dan numerasi yang mumpuni.

Baca juga: Kapan Bandara Internasional Nusantara IKN Resmi Dibuka untuk Umum?

Selanjutnya Pendidikan Menengah yang diarahkan sebagai fase penemuan kesadaran diri, kepemimpinan, dan rancang bangun masa depan profesional.

Dan terakhir Pendidikan Tinggi & Vokasi, dirancang menjadi motor inovasi melalui pusat riset kelas dunia yang terintegrasi dengan kebutuhan industri hijau.

Konsep humanisasi dan pembelajaran yang memerdekakan menjadi napas kurikulum di sini.

Deputi Bidang Sosial, Budaya, dan Pengembangan Masyarakat Otorita IKN, Alimuddin, meyakini bahwa wajah IKN dua dekade mendatang ditentukan oleh kualitas pendidikan yang ditanam hari ini.

Kehadiran institusi seperti Taruna Nusantara, SMA Garuda, hingga Australian Independent School bukan sekadar pelengkap fasilitas, melainkan katalisator terbentuknya masyarakat yang kosmopolitan namun tetap berbudaya.

Baca juga: Pemilu 2029 Bakal Ada Dapil Khusus IKN

Nusantara sedang dirancang untuk menjadi magnet pertumbuhan ekonomi baru yang lepas dari dominasi Jawa-sentris.

"Dengan diterapkannya wajib belajar 13 tahun, termasuk satu tahun prasekolah, IKN sedang menyiapkan standar baru bagi pendidikan nasional," ucap Alimuddin.

IKN bukan sekadar perpindahan kekuasaan. Ia adalah sebuah pernyataan politik dan budaya bahwa Indonesia berani melangkah keluar dari zona nyaman.

Dengan dukungan teknologi melalui Sistem Informasi Manajemen Sekolah (SIMS), IKN memosisikan diri sebagai pelopor sekolah cerdas yang mengutamakan kemampuan analisis kritis daripada sekadar hafalan mekanis.

Mitigasi Disinformasi

Lepas dari itu, pembangunan kota baru di tengah hutan tropis kerap memicu kekhawatiran ekologis.

Menjawab kegelisahan tersebut, Otorita IKN menegaskan komitmen terhadap kelestarian hayati.

Menanggapi pertanyaan kritis dari peserta forum pemuda bernama Dandi mengenai nasib orangutan, Troy menegaskan bahwa perlindungan satwa endemik bersifat non-negosiasi.

"Kami menggandeng lembaga konservasi bereputasi seperti Borneo Orangutan Survival Foundation. Langkah kami konkret reforestasi, rewilding, hingga pembangunan koridor satwa pada infrastruktur jalan guna memastikan konektivitas ekosistem tetap terjaga," urai Troy.

Baca juga: Gedung Parlemen IKN Dirancang Lebih Tinggi, Tampilkan Kesan Megah

Di sisi lain, tantangan besar yang dihadapi IKN bukan hanya soal teknis konstruksi, melainkan serangan disinformasi.

Troy menekankan bahwa narasi mengenai penundaan atau penghentian proyek adalah distorsi fakta yang tidak berdasar. Secara legal, keberlanjutan IKN telah dipatri dalam Peraturan Presiden Nomor 79 Tahun 2025.

Pentingnya integritas data juga diamini oleh Romeo Matthew, seorang praktisi kecerdasan artifisial.

Ia mengingatkan bahwa di era meluapnya informasi, kemampuan berpikir kritis adalah benteng utama.

"Generasi muda harus mampu memanfaatkan teknologi, termasuk AI, secara bertanggung jawab dan transparan untuk menciptakan dampak sosial yang nyata," kata Romeo.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang



Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau