Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Lonjakan Harga Bikin Penjualan Rumah di Balikpapan Anjlok 55,56 Persen

Kompas.com, 31 Mei 2026, 22:31 WIB
Add on Google
Hilda B Alexander

Penulis

NUSANTARA, KOMPAS.com — Pasar properti residensial primer di wilayah penyangga Ibu Kota Nusantara (IKN), khususnya Kota Balikpapan, mengalami fenomena berbeda pada awal tahun 2026.

Hasil Survei Harga Properti Residensial (SHPR) Kantor Perwakilan Bank Indonesia Balikpapan menunjukkan terjadinya perlambatan pasar yang kontras: harga jual rumah baru terus merangkak naik, namun volume transaksi penjualan justru anjlok ke titik terendah dalam dua tahun terakhir.

Baca juga: 78 Persen Warga Balikpapan Beli Rumah Pakai KPR, Hanya 9 Persen Tunai

Kepala Perwakilan Bank Indonesia (BI) Balikpapan, Robi Ariadi, mengatakan, Indeks Harga Properti Residensial (IHPR) agregat pada triwulan I-2026 tercatat berada di level 107,67.

Angka ini mencerminkan kenaikan harga tahunan sebesar 1,44 persen year-on-year (yoy), tumbuh jauh lebih tinggi dibandingkan kuartal sebelumnya yang hanya sebesar 0,43 persen (yoy).

"Namun, lompatan indeks harga ini diikuti oleh kontraksi tajam pada kuantitas unit yang terserap oleh pasar," urai Robi, dikutip Kompas.com, Minggu (31/5/2026).

Koreksi Penjualan di Semua Segmen Hunian Baru

Sepanjang triwulan I-2026, jumlah rumah baru yang berhasil terjual di Balikpapan hanya mencapai 72 unit.

Realisasi ini merosot hingga 55,56 persen (yoy) jika dibandingkan dengan performa triwulan I-2025 yang mampu mencatatkan penjualan sebanyak 162 unit.

Baca juga: Basilika Nusantara IKN Jadi Tuan Rumah Sidang Tahunan KWI Mei 2026

Penurunan ini memperpanjang tren koreksi pasar yang telah berlangsung sejak tahun 2025, dengan tingkat kejatuhan yang lebih dalam ketimbang triwulan IV-2025 yang minus 42,79 persen (yoy) dengan total 119 unit terjual.

Kontraksi volume penjualan rumah baru (YoY):

  • Tipe Kecil : 109 unit ???? 36 unit (? 66,97%)
  • Tipe Besar : 32 unit ???? 19 unit (? 40,62%)
  • Tipe Menengah: 21 unit ???? 17 unit (? 19,05%)

Secara parsial, rumah tipe kecil menjadi motor utama runtuhnya volume transaksi hulu. Penjualan rumah tipe ini anjlok 66,97 persen (yoy) menjadi hanya 36 unit.

Disusul oleh tipe besar yang turun 40,62 persen (yoy) menjadi 19 unit, serta tipe menengah yang terkoreksi 19,05 persen (yoy) menjadi 17 unit.

Meskipun kuantitas penjualan menyusut, rumah tipe kecil tetap mendominasi komposisi pasar dengan pangsa sebesar 50 persen, diikuti tipe besar 26 persen, dan tipe menengah 24 persen.

Inflasi Komponen Hulu versus Pergeseran Prioritas Rumah Tangga

Kenaikan IHPR dipicu oleh langkah agresif para pengembang yang melakukan penyesuaian harga jual untuk mengakomodasi lonjakan harga bahan bangunan serta kenaikan upah tenaga kerja konstruksi lokal.

Rumah tipe besar mencatatkan kenaikan harga tertinggi sebesar 2,93 persen (yoy), disusul tipe kecil 1,85 persen (yoy), dan tipe menengah sebesar 0,38 persen (yoy).

Baca juga: Ada Berapa Rumah Sakit yang Sudah Beroperasi di IKN?

Di sisi lain, daya serap pasar tertahan oleh dua faktor determinan. Pertama, durasi triwulan I-2026 berhimpitan langsung dengan persiapan Hari Besar Keagamaan Nasional (HBKN) Ramadan dan Idul Fitri, sehingga alokasi dana rumah tangga tersedot sepenuhnya untuk konsumsi primer harian.

Kedua, lompatan harga rumah yang terlalu tinggi memicu resistensi psikologis bagi calon pembeli, yang memilih menunda eksekusi transaksi KPR.

Pergeseran Tren Pembiayaan Konsumen

Kemunduran pasar residensial turut mengubah lanskap struktur pembiayaan.

"Skema Kredit Pemilikan Rumah (KPR) masih menjadi instrumen utama pemilikan hunian berjangka panjang, namun pangsa penggunaannya merosot dari 87,7 persen pada triwulan I-2025 menjadi 71 persen pada kuartal ini," papar Robi.

Penurunan porsi KPR ini sejalan dengan jatuhnya angka penjualan pada kategori rumah tipe kecil yang umumnya berbasis pembiayaan bank.

Baca juga: IKN Siap Sambut Gelombang Eksodus ASN ke IKN, Ada Sekolah dan Rumah Sakit

Sementara itu, metode pembayaran tunai keras mengambil porsi 15 persen, disusul tunai bertahap sebesar 14 persen.

Untuk mengantisipasi pembatasan kualitas kredit calon konsumen serta bayang-bayang kenaikan suku bunga KPR, para pengembang kini mengubah strategi.

Fokus pembangunan dialihkan dari rumah tipe besar ke penyediaan tipe kecil dan menengah yang memiliki keterjangkauan harga lebih realistis bagi kantong konsumen lokal.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang



Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau