Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Kendalikan Perubahan Iklim, Otorita IKN Restorasi Pesisir Pantai Tanah Merah

Kompas.com, 14 Juni 2026, 06:47 WIB
Hilda B Alexander

Penulis

NUSANTARA, KOMPAS.com – Koridor pesisir Pantai Tanah Merah di Kelurahan Tanjung Harapan, Kecamatan Samboja, kini dipetakan sebagai benteng ekologi penting dalam struktur tata ruang Ibu Kota Nusantara (IKN).

Berada langsung di dalam garis delineasi wilayah baru tersebut, kawasan pantai ini menjadi titik kumpul aksi pemulihan lingkungan guna menahan laju abrasi sekaligus mengendalikan dampak perubahan iklim regional pada Sabtu (13/6/2026).

Langkah penyelamatan lingkungan ini ditandai dengan penanaman ratusan bibit mangrove dan pembersihan kawasan pesisir dari material polutan.

Baca juga: Aksi Bersih Pantai IKN, 202,7 Kilogram Sampah Berhasil Dikumpulkan

Otorita IKN bersama lintas sektor menargetkan penguatan vegetasi pantai sebagai respons terhadap kerentanan ekosistem pesisir Kalimantan Timur yang terus menghadapi tekanan aktivitas antropogenik.

Deputi Bidang Lingkungan Hidup dan Sumber Daya Alam Otorita IKN, Myrna Asnawati Safitri, menjelaskan bahwa posisi strategis Pantai Tanah Merah menuntut model tata kelola yang terintegrasi antara otoritas, sektor privat, dan komunitas lokal.

“Kegiatan seperti ini bukan kegiatan seremonial, tetapi aksi nyata yang dilakukan Otorita IKN bersama para mitra dan pemangku kepentingan lainnya. Hari ini kita melakukan aksi bersih pantai dan menanam 350 bibit mangrove. Ini tentu tidak cukup dan tidak berhenti sampai di sini, karena upaya pemulihan ekosistem mangrove di IKN akan terus dilakukan,” ujar Myrna.

Selain penataan ruang hijau melalui 350 bibit mangrove, persoalan sampah pesisir menjadi agenda krusial dalam aksi yang bertema “Saatnya Beraksi untuk Iklim” ini.

Melalui metode pemilahan dan penimbangan langsung di lapangan, para peserta berhasil mengangkat total 202,7 kilogram sampah domestik dan plastik dari garis pantai.

Baca juga: Groundbreaking sejak Era Jokowi, Sekolah Al Azhar IKN Tunggu Jadwal Otorita

Intervensi korporasi dalam pemulihan ekosistem pesisir ini terlihat dari kontribusi entitas hulu migas yang beroperasi di wilayah kerja sekitar IKN.

PT Pertamina Hulu Mahakam menyuplai kebutuhan vegetasi penahan ombak ini guna memastikan keberlanjutan struktur tanah pantai.

Kepala Lapangan Senipah, Peciko, dan South Mahakam PT Pertamina Hulu Mahakam, Billy Sunyoto, menegaskan komitmen operasional perusahaan yang wajib sejalan dengan regulasi proteksi lingkungan Otorita IKN.

“Kami sebagai perusahaan yang beroperasi di area Otorita IKN berkomitmen untuk mendukung aktivitas Otorita IKN. Di acara ini, kami juga berkontribusi dengan memberikan 500 bibit pohon bakau jenis *Rhizophora mucronata* atau bakau hitam,” kata Billy.

Samboja, yang menjadi wilayah penyangga utama IKN, memikul beban ekologis ganda. Selain polusi pesisir akibat arus laut, wilayah ini memiliki rekam jejak kerusakan bentang alam akibat aktivitas ekstraktif di masa lalu.

Baca juga: Digembleng Kopassus, 555 Anak Muda Resmi Jadi Mesin Birokrasi IKN

Oleh karena itu, restorasi bakau dipandang sebagai instrumen vital pemulihan daya dukung lingkungan setempat.

Camat Samboja, Damsik, menyatakan bahwa aksi ini memperkuat program pemulihan lingkungan yang sedang berjalan di wilayahnya, termasuk proyek rehabilitasi lahan yang sempat terbengkalai.

“Kegiatan ini sangat luar biasa, khususnya untuk Kecamatan Samboja terkait lingkungan. Hari ini aksi nyata itu bukan hanya seremoni, tetapi bukti kepedulian kita terhadap lingkungan di Kecamatan Samboja,” tutur Damsik.

Meskipun pasokan bibit mangrove dan pembersihan sampah darurat terus dipacu, Otorita IKN menghadapi tantangan besar dalam merubah perilaku pembuangan limbah dari sektor domestik dan wisatawan.

Baca juga: Greater Nusantara Dirancang Jadi Superhub Ekonomi di Luar Jawa

Tanpa adanya regulasi ketat mengenai pengelolaan sampah di area publik pantai, investasi ekologis pada tanaman bakau rentan mengalami kegagalan tumbuh akibat tertimbun material plastik.

Myrna menambahkan, keberhasilan pengendalian iklim di IKN mensyaratkan perubahan pola hidup masyarakat secara permanen, bukan sekadar respons berbasis kepanikan lingkungan.

“Upaya penyelamatan lingkungan dan pengendalian perubahan iklim ini tidak bisa dilakukan sendiri, apalagi hanya oleh Otorita IKN. Ini harus dilakukan oleh semua pihak, menjadi gerakan bersama, dan lebih penting lagi menjadi gaya hidup,” pungkas Myrna.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau