Penulis
Di antaranya termasuk pendaratan perdana Boeing 737-400 dan Bombardier Challenger CL 604 pada masa awal operasional.
Baca juga: Runway Bandara Internasional Nusantara IKN Terpanjang di Kalimantan
Aktivitas ini kemudian meningkat pasca kunjungan Presiden Prabowo Subianto ke IKN pada Januari 2026, ditandai makin sering mendaratnya jet pribadi yang membawa investor dalam dan luar negeri serta pejabat tinggi negara yang ingin melihat langsung kemajuan pembangunan IKN.
Fenomena ini dibaca sebagai indikator bahwa infrastruktur mobilitas IKN mulai berfungsi secara faktual, meski belum satu pun pesawat wide body benar-benar mendarat di bandara ini hingga Mei 2026, sebagaimana diakui Imam sendiri.
"Kendati belum didarati pesawat berbadan lebar, namun bandara ini sudah berfungsi, menjadi gerbang bagi para tamu penting negara dan juga para investor," ujar Imam.
Dari sisi kesiapan fisik, sisi udara atau airside Bandara Nusantara memang sudah dalam kondisi rampung dan disebut ultimate.
Selain runway sepanjang 3.000 meter, bandara ini dilengkapi dua taxiway berukuran 146 meter kali 30 meter, serta apron seluas 97.189 meter persegi yang sanggup menampung lima pesawat wide body atau sembilan pesawat narrow body secara bersamaan.
Kapasitas pergerakan pesawat mencapai 19 pergerakan per jam, sebuah kapasitas yang tergolong tinggi untuk bandara yang baru dibangun.
Dari sisi terminal, kapasitas Terminal VVIP seluas 2.350 meter persegi dan Terminal VIP seluas 5.000 meter persegi mampu menampung 420 penumpang per jam, atau setara 1,6 juta penumpang per tahun.
Baca juga: Mengintip Kesiapan Bandara Internasional Nusantara IKN Beroperasi Komersial 2026
Namun sisi darat atau landside masih terus disempurnakan, mencakup hunian pegawai, penataan lanskap, serta yang paling krusial bagi rencana embarkasi haji, kantor karantina dan fasilitas keimigrasian untuk mendukung fungsi CIQ penuh.
Total investasi pembangunan bandara ini mencapai sekitar Rp 4,3 triliun, bersumber dari APBN, dengan rincian Rp 4,1 triliun untuk pembangunan sisi udara dan Rp 800 miliar untuk sisi darat.
Anggaran pemeliharaan tahunannya pun tidak kecil, mencapai Rp 9 miliar per tahun, konsekuensi logis dari spesifikasi teknis bandara yang dirancang khusus untuk melayani pesawat berbadan lebar sesuai standar operasional internasional.
Selain efisiensi waktu, Imam juga menjabarkan potensi penghematan dari sisi biaya operasional penerbangan.
Karena rute bersifat direct tanpa transit, dan status Bandara Internasional Nusantara sebagai bandara pemerintah, sejumlah komponen biaya berpotensi bisa direduksi, mulai dari biaya bahan bakar atau fuel, landing fee, hingga biaya pelayanan ground handling.
Kombinasi efisiensi waktu dan biaya inilah yang menurut Imam menjadikan potensi Bandara Nusantara sebagai embarkasi haji punya banyak nilai tambah.
Baca juga: Sertifikat Hak Pakai Korban Terdampak Bandara VVIP IKN Tuntas 2026
Namun optimisme teknis ini masih memerlukan proses panjang termasuk keputusan yang melibatkan banyak lembaga sekaligus.
Kuota haji Indonesia tahun 2026 sendiri mencapai 221.000 jemaah, dengan 203.320 di antaranya jemaah haji reguler yang tersebar di 16 embarkasi se-Indonesia, sebuah sistem yang sudah berjalan mapan dan tidak mudah diubah dalam waktu singkat.
Bagi Kalimantan Timur, khususnya penduduk di sekitar IKN dan Kalimantan Timur-Kalimantan Utara yang selama ini diberangkatkan lewat Embarkasi Balikpapan, potensi Bandara Internasional Nusantara sebagai gerbang haji baru tetap menjadi wacana yang menjanjikan.
Tapi sebagaimana ditegaskan Imam sendiri, keputusan akhirnya bukan soal seberapa unggul spesifikasi teknis sebuah bandara, melainkan seberapa cepat regulasi, kesiapan CIQ, dan konsensus lintas kementerian bisa terbentuk untuk mewujudkannya.
Saudara-saudara kita di Nusa Tenggara Timur tengah dirundung duka karena gempa M 7,7. Mari kita mengulurkan tangan untuk membantu meringankan beban yang sedang mereka hadapi. Kirim bantuan Anda melalui tautan https://bit.ly/BantuWargaNTT