NUSANTARA, KOMPAS.com - Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) meraih gelar Juara Umum Kontes Robot Terbang Indonesia (KRTI) 2026 yang digelar di Ibu Kota Nusantara (IKN), 21-25 September 2026.
ITS menerima piala bergilir Danadyaksa Dirgantara dalam closing ceremony dan awarding KRTI 2026 yang digelar pada Jumat (25/09/2026) malam.
Piala tersebut diserahkan oleh Kepala Otorita IKN Basuki Hadimuljono bersama Direktur Pembelajaran dan Kemahasiswaan (Belmawa) Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemendiktisaintek) Beny Bandanadjaja, Rektor Institut Teknologi Kalimantan (ITK) Agus Rubiyanto, serta Koordinator Dewan Juri Mona Arif Muda.
Baca juga: 36 Persen Hutan IKN Dicaplok Pendatang, Satu Orang Kuasai 5 Hektar
KRTI 2026 diikuti 94 tim mahasiswa dari 43 perguruan tinggi di Indonesia. Kompetisi ini menjadi ajang pengujian kemampuan dan inovasi teknologi wahana udara nirawak atau Unmanned Aerial Vehicle (UAV).
Selama lima hari pelaksanaan, peserta berkompetisi dalam lima divisi, yakni Racing Plane, Fixed Wing, Vertical Take Off Landing (VTOL), Long Endurance Low Altitude (LELA), dan Technology Development.
Kompetisi tersebut menguji sejumlah aspek pengembangan UAV, mulai dari kemampuan terbang, desain, strategi, pengembangan teknologi, hingga kemampuan peserta beradaptasi dengan kondisi lapangan.
Dalam KRTI 2026, ITS meraih juara pertama pada dua divisi. Tim BAYUCARAKA ITS menjadi juara pertama pada divisi Fixed Wing dan divisi LELA.
Pada divisi Fixed Wing, BAYUCARAKA ITS menjadi juara pertama, disusul Universitas Gadjah Mada (UGM) dengan tim Fiachra sebagai juara kedua dan Universitas Negeri Surabaya (UNESA) dengan DEWANAGARI sebagai juara ketiga.
Sementara pada divisi LELA, BAYUCARAKA ITS kembali meraih juara pertama. Posisi kedua ditempati Universitas Negeri Yogyakarta (UNY) dengan Voyager dan posisi ketiga diraih UGM dengan Virachakra.
Baca juga: 420 Hektar Tahura Bukit Soeharto IKN Terbakar
ITS juga meraih Juara Harapan 1 pada divisi Technology Development melalui BAYUCARAKA ITS.
Adapun juara pertama divisi Racing Plane diraih Universitas Sebelas Maret (UNS) melalui Narash BUV. Juara kedua Universitas Andalas (UNAND) dengan Gonjong Tujuah AFRG-036, sedangkan juara ketiga UNY dengan REJETION.
Pada divisi VTOL, Universitas Diponegoro (UNDIP) menjadi juara pertama melalui Jentayu Copter. Institut Teknologi Bandung (ITB) meraih juara kedua dengan Altigen Krasnala dan UAD menempati posisi ketiga melalui King Phoenix.
Sementara itu, divisi Technology Development dimenangi Politeknik Elektronika Negeri (PENS) Surabaya melalui EFRISA TEAM. Universitas Brawijaya (UB) menjadi juara kedua dengan Atyabrama dan UNS meraih juara ketiga melalui Akasha Seva BUV.
Agus Rubiyanto mengatakan KRTI tidak hanya menjadi kompetisi untuk memperebutkan trofi, tetapi juga sarana untuk menguji gagasan dan penerapan teknologi.
Menurut dia, penguasaan teknologi penerbangan tanpa awak berkaitan dengan konsep pembangunan IKN sebagai kota yang smart, green, dan sustainable.
"Dalam mewujudkan kota masa depan, memang dibutuhkan penguasaan teknologi penerbangan tanpa awak oleh sebab itu, peran adik-adik di sini sangat krusial sekali," kata Agus.
Agus berharap pengalaman mahasiswa selama mengikuti KRTI di IKN dapat dibawa kembali ke perguruan tinggi masing-masing, termasuk semangat inovasi serta konsep smart dan forest city yang dikembangkan di Nusantara.
Sementara itu, Beny Bandanadjaja mengatakan KRTI menjadi ruang bagi mahasiswa untuk menguji gagasan, kemampuan analisis, kerja tim, pengambilan keputusan, dan kemampuan beradaptasi dengan kondisi lapangan.
Baca juga: DPD Minta Proyek IKN Sesuai Jadwal agar Perpindahan ASN Berjalan
"KRTI bukan tentang siapa yang menjadi pemenang, kompetisi ini menjadi ruang bagi mahasiswa untuk belajar memecahkan masalah, menguji gagasan, bekerja dalam tim, mengambil keputusan dan menghadapi berbagai kondisi yang tidak selalu sesuai dengan rencana," ujar Beny.
Beny menekankan agar teknologi yang dikembangkan dalam KRTI tidak berhenti pada kompetisi, tetapi terus dikembangkan sehingga dapat memberikan manfaat yang lebih luas bagi masyarakat.
Menurut dia, hal tersebut sejalan dengan semangat kampus berdampak yang mendorong mahasiswa menerapkan pengetahuan, keterampilan, dan teknologi untuk menyelesaikan persoalan di masyarakat.
"Semoga seluruh teknologi yang dikembangkan dalam KRTI ini bisa diteruskan. Tidak hanya dilaksanakan pada hari ini," kata Beny.
Bayangkan seorang anak Indonesia bercita-cita menjadi dokter tetapi hanya memiliki satu buku lusuh untuk belajar. Bersama Ekspedisi Kata ke Nyata Kompas.com, Anda bisa membantu mengubah kisah itu. Mari hadirkan akses literasi bagi anak-anak di berbagai pelosok Indonesia melalui donasi lewat tautan https://bit.ly/JagatLiterasi2026. Setiap kebaikan yang Anda berikan bukan hanya membuka jendela pengetahuan, tetapi juga membuka masa depan mereka.