Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Kardinal Suharyo Cek Langsung Bakal Basilika Pertama Indonesia di IKN

Kompas.com, 21 Oktober 2026, 08:59 WIB
Hilda B Alexander

Penulis

NUSANTARA, KOMPAS.com – Pembangunan Kawasan Inti Pusat Pemerintahan (KIPP) Ibu Kota Nusantara (IKN) kembali menorehkan catatan penting.

Uskup Agung Jakarta sekaligus Ordinaris Militer Indonesia, Kardinal Ignatius Suharyo, meninjau langsung progres pembangunan Gereja Santo Fransiskus Xaverius pada Selasa (20/10/2026).

Baca juga: Delineasi IKN Dihantam 309 Karhutla, Satu Perusahaan Disanksi dan Satu Orang Tersangka

Kunjungan pastoral ini menjadi momen perdana bagi Kardinal Suharyo melihat wujud fisik IKN secara langsung, di mana sebelumnya hanya memantau perkembangan ibu kota baru tersebut dari pemberitaan media.

Didampingi Kepala Otorita IKN Basuki Hadimuljono, Kardinal Suharyo mengecek kesiapan rumah ibadah yang diproyeksikan bakal mengukir sejarah baru bagi umat Katolik di Tanah Air.

Peluang jadi basilika pertama di Indonesia

Jika seluruh proses persiapan teknis dan administratif berjalan lancar, Gereja Santo Fransiskus Xaverius di KIPP IKN disiapkan untuk diresmikan sebagai basilika pertama di Indonesia.

Kardinal Suharyo mengapresiasi kerja keras jajaran pengembang dan Otorita IKN dalam merampungkan fasilitas keagamaan tersebut. Namun, ia menegaskan masih ada sejumlah detail teknis yang wajib dipenuhi sebelum status basilika resmi disandang.

Baca juga: Tembus Rp 75,77 Triliun! Ini Daftar Investor Swasta yang Resmi Masuk IKN

"Dari keterangan Bapak Basuki, saya merasa semua yang bekerja di sini sungguh-sungguh berusaha sebaik-baiknya. Tentu syukur, karena di dalam kompleks IKN ini ada gereja yang begitu besar, yang akan diresmikan sebagai basilika. Kalau nanti itu terjadi, inilah satu-satunya basilika di Indonesia," ujar Kardinal Suharyo.

Arsitektur inkulturasi dan simbol toleransi

Secara konsep, bangunan Gereja Santo Fransiskus Xaverius dirancang menonjolkan pendekatan inkulturasi budaya Nusantara yang dipadukan dengan nilai-nilai kerukunan antarumat beragama.

Kawasan gereja ini dilengkapi dengan Plaza Kerukunan, sebuah ruang terbuka publik yang difungsikan sebagai titik temu serta penghubung fisik antara gereja dan komplek tempat ibadah agama lainnya di IKN.

"Gerejanya dibangun dengan nuansa inkulturasi yang sangat kuat, serta cita-cita kerukunan antarumat yang tajam. Ada Plaza Kerukunan yang nantinya terhubung dengan simbol tempat-tempat ibadah lainnya," lanjutnya.

Usai mengelilingi area KIPP, Kardinal Suharyo menilai pembangunan IKN merupakan langkah strategis yang visioner untuk menjawab kebutuhan Indonesia di masa depan.

Bayangkan seorang anak Indonesia bercita-cita menjadi dokter tetapi hanya memiliki satu buku lusuh untuk belajar. Bersama Ekspedisi Kata ke Nyata Kompas.com, Anda bisa membantu mengubah kisah itu. Mari hadirkan akses literasi bagi anak-anak di berbagai pelosok Indonesia melalui donasi lewat tautan https://bit.ly/JagatLiterasi2026. Setiap kebaikan yang Anda berikan bukan hanya membuka jendela pengetahuan, tetapi juga membuka masa depan mereka.



Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Dengan Membership bulanan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Dengan Membership tahunan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Diperbaharui : 1 Juli 2026
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Pesan apresiasi berhasil
Pesan apresiasi darimu sudah dipublikasikan di halaman komentar
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau