Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Januari-Juli Ada 9.148 Titik Panas di Kaltim, BNPB Siapkan Bantuan

Kompas.com, 2 Agustus 2024, 18:00 WIB
Hilda B Alexander

Penulis

NUSANTARA, KOMPAS.com - Pemerintah Provinsi (Pemprov) Kaltim menggelar rapat koordinasi (rakor) bersama Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) dan Otorita Ibu Kota Nusantara (OIKN).

Rakor ini membahas langkah-langkah pencegahan ataupun antisipasi kebakaran hutan dan lahan (kahutla) di Kaltim dan IKN.

Hal ini karena IKN masuk ke dalam wilayah kaltim, sehingga, potensi bencana ke depan bisa diantisipasi bersama dengan langkah-langkah terukur.

Penjabat Gubernur Kaltim Akmal Malik mengharapkan, rakor ini menghasilkan langkah-langkah startegis yang harus dilakukan, baik oleh Pemprov Kalitim maupun OIKN.

Baca juga: Bocoran Terbaru IKN, Air Minum Sudah Masuk Gedung Pemerintahan dan Hotel Nusantara

"Kami mengharapkan petunjuk dari jajaran BNPB, langkah-langkah yang kami lakukan dan teristimewa adalah bagaimana kami bisa membangun kolaborasi dengan Otrita IKN,” ujar Akmal, di Balikpapan, Jumat (2/8/2024).

Menurutnya, persoalan-persoalan kebencanaan di Kaltim tidak seperti daerah lain. Karena di Kaltim tidak ada gunung berapi, jadi tidak ada gempa.

"Sebaliknya, di Kaltim terdapat banyak lahan kritis, banjir, dan karhutla," imbuh Akmal.

Sementara, Kepala BNPB Letjen Suharyanto mengungkapkan, Kaltim harus siap mengantisipasi terjadinya kahutla. Hal ini menyusul musim kemarau yang sebentar lagi akan dimasuki.

“Ada dua agenda yang kita bahas dalam rakor ini guna meningkatkan kesiapan dan kesiapsiagaan karena masuk musim kemarau,” ujarnya.

Baca juga: Pertengahan Agustus, 4 Perusahaan Ikut Groundbreaking Ke-7 IKN

Suharyanto mengungkapkan, meskipun Kaltim tidak masuk dalam daerah prioritas BNPB, namun dalam tiga tahun terakhir terjadi peningkatan frekuensi dan perluasan wilayah karhutla.

Sepanjang Januari-Juli 2024 terdapat 9.148 titik panas atau hotspot di Kaltim. Kutai Timur merupakan wilayah dengan hotspot tertinnggi yakni 4.643.

Disusul Kutai kartanegara dengan jumlah 2.630 titik panas.

Kondisi ini perlu diwaspadai dan diantisipasi karena potensi terjadi peningkatan jumlah hotspot.

“Data tiga tahun terakhir Kaltim itu sudah banyak juga terjadi kebakaran, meskipun tidak sama seperti tetangganya,” ungkap Suharyanto.

Baca juga: Lebih Dulu Indomaret atau Alfamart yang Hadir di IKN? Ini Faktanya

Dia mengatakan, provinsi yang masuk prioritas di Pulau Kalimantan ada tiga yakni Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah, dan Kalimantan Selatan.

Halaman:


Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Dengan Membership bulanan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Dengan Membership tahunan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Diperbaharui : 1 Juli 2026
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Pesan apresiasi berhasil
Pesan apresiasi darimu sudah dipublikasikan di halaman komentar
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau