Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Salin Artikel

Influencer yang Diajak Jokowi Tinjau IKN Tak Bisa Membedakan Kantor Presiden dan Istana Negara

NUSANTARA, KOMPAS.com - Salah satu infrastruktur di Ibu Kota Nusantara (IKN) yang menarik perhatian adalah gedung berbentuk garuda raksasa.

Tak sedikit masyarakat yang salah menyebut gedung garuda tersebut yang sejatinya merupakan Kantor Presiden, malah menyebutnya dengan Istana Presiden atau Istana Negara.

Dikutip dari unggahan akun Instagram resmi IKN @ikn_id, Senin (29/7/2024), Kantor Presiden yang berbentuk garuda raksasa tersebut baru saja tutup atap lewat pemasangan bilah ke-4.650 di sayap barat pada Senin (22/7/2024) malam.

"Pemasangan bilah terakhir Garuda raksasa ini juga merupakan bagian dari penyelesaian akhir gedung Kantor Presiden di Kawasan Inti Pusat Pemerintahan (KIPP) Ibu Kota Nusanatara (IKN)," keterangan video tersebut.

Desain Kantor Presiden berbentuk burung garuda yang sedang mengepakkan sayap tersebut merupakan karya dari I Nyoman Nuarta yang telah disetujui oleh Presiden Joko Widodo (Jokowi).

Kemegahan bangunan seluas 11.200 meter persegi pada ketinggian 83,50 meter di atas permukaan laut (mdpl) ini sangat menyita perhatian dengan bentangan kepak sayap garuda sepanjang 230 meter.

Nuarta pun membeberkan alasan di balik terpilihnya burung garuda sebagai desain Kantor Presiden.

"Dirancang sebagai sesosok rumah yang berasosiasi pada burung garuda. Tidak hanya berhenti pada landmark sebuah kawasan, tetapi lebih sebagai perwujudan pencapaian sinergi antara seni, sains, dan teknologi," kata Nuarta.

Menurutnya, burung garuda menjadi desain karena kaitannya yang sangat erat dengan Indonesia dengan berbagai perbedaan, silang pandang, keragaman adat istiadat dan perilaku, maupun perbedaan kepercayaan dan agama.

Kata dia, garuda merupakan simbol persatuan. Terlebih, juga menjadi bagian dari lambang negara, Bhineka Tunggal Ika.

Sementara Istana Negara merupakan bangunan megah dengan 34 pilar tinggi berwarna putih yang berada tepat di depan Kantor Presiden.

Proyek ini juga digarap oleh PT Pembangunan Perumahan (Persero) Tbk dengan nilai kontrak Rp 1,34 triliun.

Berdasarkan arsip Kompas.com diketahui bahwa bangunan Istana Negara dirancang dengan tampilan monumental dan simetris yang dominan, diimplementasikan di wajah depan Istana dengan pilar-pilar tinggi tersebut.

Konsep keseimbangan bukan hanya ada di tampilan bangunan, namun juga secara keseluruhan kawasan.

Selain itu, bangunan juga didesain tanggap iklim dan meminimalisasi perubahan terhadap bentuk dan kondisi topografi tapak.

Lantai bangunan Istana Negara dilapisi marmer, parket, dan homogenous tile (HT). Dan khusus lantai lobi, dilapisi marmer hijau Juparana.

Marmer pelapis lantai yang digunakan merupakan produksi lokal, didatangkan langsung dari Makassar, Sulawesi Selatan.

Sementara dindingnya merupakan beton 20 sentimeter yang dilapisi kayu ukiran hasil karya seniman dari Pulau Jawa dan Bali dengan craftmanship tinggi, kemudian sebagian dinding lainnya dilapisi anyaman pisang, HT, marmer, granit, dan labradorite.

Berlanjut ke plafon Istana Negara yang terbuat dari gypsum, kayu solid, veneer, ukiran kayu dan tembaga.

Sedangkan sebagian pintu-pintu di bangunan Istana Negara bermaterialkan kayu jati solid, sebagian lagi merupakan pintu anti peluru, dan pintu besi.

IKN disambangi influencer Kota Jakarta

Presiden Jokowi mengundang sejumlah influencer atau persona asal Kota Jakarta untuk bermalam di IKN pada Minggu (28/7/2024).

Sayangnya, mereka yang merupakan perwakilan generasi muda Indonesia juga masih salah dalam penyebutan nama gedung berbentuk garuda raksasa tersebut.

Seperti halnya Irwansyah dan isterinya, Zaskia Sungkar yang menyebut gedung garuda itu dengan nama Istana.

"Istananya, garuda ya," ujar Irwansyah saat ikut menambahkan testimoni yang diberikan isterinya, dikutip dari video Youtube Sekretariat Presiden.

Sementara Zaskia Sungkar membagikan pengalamannya saat merasa berkunjung ke IKN seperti masuk ke dunia lain.

"Benar-benar experience, walaupun padat ya satu hari ini tapi kita semua aku rasa sepakat happy banget dan terutama begitu sampai di IKN kayak masuk dunia lain, keren banget, aku enggak nyangka progresnya sudah sampai tahap ini, benar-benar sudah kelihatan kemegahannya, arsitekturnya keren, alamnya juga cantik, danaunya juga itu bagus banget, dan Istananya juga megah banget, futuristik tapi tetapi culture dan heritage Indonesia itu tetap dipertahankan," ucap Zaskia.

Begitu pula dengan Atta Halilintar yang menyebut Istana Negara IKN Instagramable, sehingga dirinya ingin berfoto di sana.

"Istananya juga unik gitu ya, yang menurutku Instagramable banget jadi kalau ke sini kayak pengin foto aja gitu sama Istana," kata Atta.

Sedangkan Raffi Ahmad mengatakan bahwa ibu kota negara baru tersebut merupakan proyek yang prestisius.

"Untuk menjalankan suatu pemerintahan untuk kepala negara beserta jajarannya ada di sini, ini merupakan suatu prestisius juga, kalau misal tamu-tamu luar negeri datang ke Indonesia tahu bahwa Indonesia itu indah sekali," cetus Raffi.

https://ikn.kompas.com/read/2024/07/29/113125087/influencer-yang-diajak-jokowi-tinjau-ikn-tak-bisa-membedakan-kantor-presiden-dan

Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com