Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Ada "Emas Hitam" di Lahan Transmigrasi: 79 Sumur Minyak Siap Jadi Hub Energi IKN

Kompas.com, 18 April 2026, 12:00 WIB
Add on Google
Suhaiela Bahfein,
Hilda B Alexander

Tim Redaksi

PALU, KOMPAS.com - Paradigma transmigrasi di Indonesia kini bergeser dari sekadar program kependudukan menjadi instrumen strategis penggerak ekonomi nasional.

Perubahan ini makin nyata seiring ditemukannya potensi sumber daya alam (SDA) yang masif di wilayah-wilayah tujuan, termasuk di kawasan penyangga Ibu Kota Nusantara (IKN).

Kawasan transmigrasi di Kalimantan Timur kini teridentifikasi memiliki cadangan energi fosil yang signifikan.

Salah satunya wilayah Kutai Kartanegara yang memiliki potensi minyak bumi dan berada tepat di atas Hak Pengelolaan (HPL) lahan transmigrasi.

Penemuan ini mengubah peta potensi ekonomi kawasan penyangga IKN dari sektor agraris menuju sektor energi yang bernilai tinggi.

Menteri Transmigrasi, M. Iftitah Sulaiman Suryanagara, mengungkapkan bahwa koordinasi intensif dengan Satuan Kerja Khusus Pelaksana Kegiatan Usaha Hulu Minyak dan Gas Bumi (SKK Migas) tengah dilakukan untuk mengoptimalkan aset ini.

Eksistensi sumur minyak di lahan negara tersebut menunjukkan bahwa kawasan transmigrasi menyimpan nilai ekonomi strategis yang selama ini kurang terkespos.

“Kenapa beliau (Kepala SKK Migas) mau bertemu dengan Kementerian Transmigrasi? Karena ternyata di Kutai Kartanegara itu ada kawasan transmigrasi yang ada minyaknya. Jadi sudah ada 79 sumur yang digunakan di dalam HPL transmigrasi,” ujar Iftitah di Palu, Kamis (16/4/2026).

Potensi ini diprediksi akan terus berkembang. Saat ini, sudah ada permintaan tambahan untuk pemanfaatan 13 sumur minyak baru di kawasan yang sama.

Integrasi antara kawasan permukiman transmigrasi dengan industri hulu migas diharapkan mampu mempercepat pertumbuhan ekonomi di sekitar IKN.

Membangun Ekosistem, Bukan Memindah Orang

Temuan cadangan minyak di lahan transmigrasi menjadi momentum bagi pemerintah untuk menegaskan arah baru program ini.

Di bawah visi Presiden Prabowo Subianto, transmigrasi tidak lagi dilihat sebagai upaya memindahkan penduduk dari daerah padat ke daerah sepi, tetapi sebagai penciptaan pusat-pusat ekonomi baru.

Iftitah menekankan bahwa kegagalan transmigrasi di masa lalu sering kali disebabkan oleh ketiadaan ekosistem yang menunjang kehidupan dan pekerjaan.

Tanpa listrik, air bersih, dan infrastruktur jalan yang memadai, lahan transmigrasi hanya akan berakhir menjadi kawasan terlantar yang memicu konflik.

“Hari ini transmigrasi itu bukan lagi memindahkan orang. Hari ini transmigrasi adalah menciptakan ekosistem ekonomi berbasis kawasan,” tegas Iftitah.

Halaman:


Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau