Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Salin Artikel

Nusantara Fun Run, Wisata Olahraga Perdana IKN Diikuti 3.128 Peserta

Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Otorita Ibu Kota Nusantara (OIKN) Basuki Hadimuljono mengatakan, Nusantara Fun Run juga digelar untuk mendukung wisata olahraga atau sport tourism pertama di IKN.

"Ide awalnya itu mendukung sport tourism di IKN. Saya bersyukur, animo peserta Nusantara Fun Run cukup tinggi. Alhamdulillah peserta itu ada 3.128 orang baik dari Balikpapan, Samarinda, maupun dari luar Balikpapan," ujar Basuki, Minggu (6/10/2024).

Basuki mengemukakan, Nusantara Fun Run menjadi pemantik agenda serupa yang dikoordinasikan oleh pihak lainnya yang akan digelar di IKN.

Termasuk Borneo Ultra Mixed Trail 2024 (BUMT) pada Bulan November yang juga merupakan fun run yang digagas oleh komunitas.

Sebelumnya, para peserta BUMT ini biasa berlari di kawasan hutan, namun pada acara mendatang akan dilaksanakan di IKN.

"Dengan agenda ini, mudah-mudahan semakin terbentuk ekosistem perkotaan di IKN," harapnya.

Selain agenda komunitas, upaya lainnya untuk menciptakan keramaian di IKN adalah dengan menghidupkan ekosistem komersial untuk memenuhi kebutuhan para pengunjung dan penghuni.

Sebut saja kehadiran kedai kopi lokasl yang berada di gedung Kementerian Koordinator atau teoat di seberang Istana Garuda dan Istana Negara.

"Nanti juga akan ada yang lainnya, sebab di areal lantai dasar perkantoran ini menjadi areal komersial," jelas Basuki.

Sebelumnya, Presiden Joko Widodo mengatakan, keramaian atau crowd harus terus diciptakan di IKN agar seluruh eksosistem pendukung terbangun.

Jokowi sekali lagi mengingatkan, bahwa memindahkan ibu kota bukan perkara gampang, karena tidak hanya fisiknya yang direlokasi, melainkan juga membangun ekosistemnya.

Mulai dari membangun ekosistem hunian, perkantoran, pendidikan, rumah sakit, dan fasilitas logistik. Semua harus benar-benar siap.

Sehingga ia tidak ingin memaksakan dan terburu-buru dalam menandatangani secara resmi keputusan presiden (keppres) soal pemindahan ibu kota.

"Semuanya butuh waktu. Memindahkan ibu kota butuh waktu. Pindah rumah aja ruwet. Jadi, jangan dikejar-kejar, jangan dipaksakan. Pindah ibu kota harus normal, natural sampai eksositemnya terbangun perlahan," tuntas Jokowi.

Dia menambahkan bahwa pemindahan ibu kota memang seharusnya berjalan normal dan natural hingga seluruh fasilitas terbangun, seperti rumah sakit, sekolah sehingga ekosistem akhirnya terbentuk.

"Untuk urusan logistik semuanya sudah ada, baru pelan-pelan, itu pun juga pelan-pelan kita pindahkan. Sehingga semuanya merasa nyaman di sini," tuntas Presiden.

https://ikn.kompas.com/read/2024/10/06/223956287/nusantara-fun-run-wisata-olahraga-perdana-ikn-diikuti-3128-peserta

Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com