Foto-foto udara yang tertangkap kamera drone nir-awak milik Sandi Raiwan pada medio Februari 2026, memperlihatkan sebuah mahakarya arsitektur yang tegak berdiri di atas bukit, memancarkan aura sakral yang mendalam.
Inilah Basilika Santo Fransiskus Xaverius, sebuah bangunan yang "tumbuh" dari tanah Nusantara untuk menjadi titik temu antara keilahian Allah, kemanusiaan, dan keasrian alam.
Dari ketinggian, struktur bangunan ini membentuk salib yang presisi, sebuah manifestasi visual dari konsep klasik gereja besar Eropa yang bertransformasi dalam dialektika lokal Indonesia.
Garis-garis cahaya yang membingkai atapnya merupakan aksentuasi atas "puncak doa" yang menjulang tinggi, merepresentasikan kerinduan manusia untuk menyentuh cakrawala ketuhanan.
Principal Architect Titik Garis Bidang, Mei Mumpuni, merancang gereja ini agar responsif terhadap iklim tropis melalui penggunaan ventilasi alami yang masif.
Bentuk massa bangunan didominasi oleh arsitektur atap vernakular Nusantara, yang tidak hanya memberikan naungan dari terik surya pagi dan sore, tetapi juga menciptakan efek nave yang tinggi dan megah di ruang ibadah utama.
Keunikan teknis Basilika ini terletak pada "Sains Nusantara" yang diusungnya. Setiap ukuran penting bangunan, mulai dari Menara Lonceng hingga Altar, menggunakan patokan angka kemerdekaan Indonesia: 17, 8, dan 45.
Hal ini menegaskan bahwa iman Katolik di IKN berakar kuat pada identitas kebangsaan yang mandiri dan bermartabat.
Menariknya, instrumen tradisi ini dioperasikan dengan sistem digital, selaras dengan visi IKN sebagai smart city.
"Pemasangannya ditargetkan rampung bulan depan, Maret 2026, sehingga persiapan peribadatan dan pertemuan para uskup yang digelar Mei 2026 dapat berjalan sesuai rencana," tegas Syafi’i, dikutip Kompas.com, Kamis (19/2/2026).
Adapun pembangunan keseluruhan kompleks gereja Katolik besegrat fasilitas lainnya yang dikerjakan oleh PT Wijaya Karya (Persero) Tbk, menelan APBN sebesar Rp 704,9 miliar.
Di dalam interiornya, ornamen khas Maluku, buah pala dan tenun Banda, menghiasi ruangan, mengenang rute misi pertama Santo Fransiskus Xaverius di Pulau Ambon yang menjadi titik awal sejarah Katolik di Indonesia.
Sekretaris Eksekutif Komisi Liturgi KWI, Riston Situmorang OSC, menjelaskan bahwa status ini merupakan gelar kehormatan yang memerlukan verifikasi ketat, termasuk penyelesaian tuntas konstruksi bangunan terlebih dahulu.
Pemerintah menargetkan Basilika ini fungsional sepenuhnya pada Mei 2026. Momentum ini dipersiapkan secara khusus untuk menyambut Sidang Tahunan Konferensi Waligereja Indonesia (KWI).
Kehadiran para uskup dari seluruh penjuru Tanah Air di IKN akan menjadi pernyataan kuat tentang eksistensi gereja yang berjalan beriringan dengan pembangunan peradaban baru Indonesia.
https://ikn.kompas.com/read/2026/02/19/033000887/cahaya-salib-raksasa-di-atap-basilika-nusantara-menanti-restu-vatikan