Namun, di perkampungan lereng Gunung Penanggungan, tepatnya di Desa Penanggungan, Kecamatan Trawas, Kabupaten Mojokerto, Komunitas Organik Brenjonk membalikkan narasi tersebut.
Di bawah koordinasi Slamet, kawasan ini mentransformasi lahan pertanian menjadi sentra produksi pangan modern berbasis teknologi dirgantara tanpa awak (drone) dan standardisasi mutu yang ketat.
Langkah digitalisasi dan sertifikasi ini mengubah pertanian organik dari sekadar gerakan lingkungan menjadi industri hulu yang memiliki kepastian pasar komersial (captive market).
Integrasi teknologi ini mampu memotong biaya operasional harian secara signifikan, sekaligus menarik minat angkatan kerja muda untuk kembali mengelola aset agraria daerah.
Drone dan Efisiensi Struktur Biaya
Slamet bercerita, sebelum pemanfaatan teknologi diterapkan, proses penyemprotan pupuk organik cair dan pestisida alami pada lahan berundak memerlukan waktu dan tenaga kerja yang besar.
Dengan metode manual, satu hektar lahan membutuhkan waktu pengerjaan hingga seharian penuh dengan risiko persebaran nutrisi tanaman yang tidak merata.
Pengenalan drone penyemprot (sprayer drone) pun mengubah total manajemen perawatan tanaman di Brenjonk.
Dengan teknologi pemetaan udara, satu hektar lahan pertanian kini dapat diselesaikan dalam waktu kurang dari 15 hingga 20 menit.
Akurasi semprotan yang konsisten ini meminimalisasi pemborosan cairan organik, menjaga kadar kelembapan tanah, serta melindungi kesehatan tanaman secara simultan.
Slamet menjelaskan, modernisasi alat mesin pertanian ini berdampak langsung pada penurunan biaya produksi harian korporasi tani.
Dia menambahkan, teknologi drone bukan untuk pamer, tetapi untuk menjawab kelangkaan tenaga kerja di desa dan memotong biaya operasional secara riil.
"Efisiensi waktu dan tenaga kerja ini memangkas pengeluaran hulu hingga 40 persen dibandingkan metode konvensional," kata Slamet, saat Capacity Building bagi media yang digelar Bank Indonesia Perwakilan Balikpapan, Jumat (22/5/2026).
Melalui efisiensi biaya yang masif dan produktivitas yang stabil, investasi pengadaan teknologi pertanian ini mampu mencapai titik impas atau Break-Even Point (BEP) pada tahun ketiga masa operasional.
Indikator ini membuktikan bahwa mekanisasi pertanian modern skala perdesaan memiliki kelayakan investasi yang tinggi dan dapat direplikasi oleh klaster tani lainnya.
Untuk keluar dari ketergantungan pada tengkulak tradisional yang kerap mempermainkan harga, Brenjonk menempuh jalur standardisasi hukum melalui perolehan Sertifikat Organik dari Lembaga Sertifikasi Organik Seloliman (LeSOS).
Sertifikasi resmi ini menjadi tiket masuk bagi produk Brenjonk ke jaringan ritel modern dan pasar premium nasional.
Komunitas ini telah mengunci kontrak pasokan tetap (captive market) dengan sejumlah jaringan supermarket besar seperti Superindo, Papaya Fresh Gallery, dan Ranch Market.
Selain pasar retail, pasokan sayur premium Brenjonk didistribusikan langsung secara rutin untuk memenuhi standar dapur hotel berbintang dan restoran kelas atas di wilayah Surabaya, Malang, dan sekitarnya.
Arus distribusi yang stabil ke pasar premium ini mengamankan omzet kelompok tani pada angka yang kompetitif, berkisar antara Rp 150 juta hingga Rp 200 juta per bulan, atau mencapai lebih dari Rp 1,8 miliar per tahun.
Kepastian harga jual di atas rata-rata pasar konvensional ini memberikan stabilitas pendapatan bagi para petani anggota komunitas.
Melalui program pembinaan klaster ketahanan pangan, Bank Indonesia (BI) tidak sekadar memberikan bantuan prasarana fisik, melainkan memfasilitasi pelaksanaan business matching keuangan, pelatihan akuntansi pertanian terdigitalisasi, hingga penguatan akses pasar hulu-hilir.
Keterlibatan BI berfungsi sebagai katalisator yang menaikkan status kelompok tani menjadi lembaga usaha mikro yang layak menerima pembiayaan perbankan formal (bankable).
Dampak paling signifikan dari ekosistem tani modern dan menguntungkan ini adalah keberhasilan program regenerasi profesi.
Saat mayoritas desa di Indonesia kehilangan tenaga kerja muda, Komunitas Brenjonk mencatat bahwa 20 persen dari total 106 petani pengelola saat ini merupakan anak-anak muda berusia di bawah 35 tahun.
Para petani muda ini tidak lagi bertugas mencangkul secara manual, melainkan berperan sebagai operator teknologi: menerbangkan drone, mengelola aplikasi manajemen air, memantau data analitik pasar, hingga menangani sistem logistik digital ke supermarket.
Pertanian organik berbasis teknologi di Desa Penanggungan ini memberikan cetak biru berharga bagi ketahanan pangan nasional.
Keberhasilan Slamet dan Komunitas Brenjonk membuktikan bahwa dengan kepemimpinan yang konsisten, standardisasi sertifikasi, dukungan instrumen moneter seperti BI, serta pemanfaatan teknologi tepat guna, sektor pertanian mampu bertransformasi menjadi lapangan kerja modern yang terhormat, kompetitif, dan berkelanjutan bagi generasi masa depan.
https://ikn.kompas.com/read/2026/05/23/234321387/petani-brenjonk-andalkan-drone-tembus-ritel-premium-cetak-omzet-rp-18-miliar