Penulis
NUSANTARA, KOMPAS.com - Pertumbuhan ekonomi Kota Balikpapan, Kalimantan Timur, yang konsisten berada di atas rerata Nasional 10,24 persen sepanjang 2025 dan 10,11 persen pada Kuartal I-2026, mulai mengejawantah pada sektor properti komersial.
PT Indonesian Paradise Property Tbk (INPP) mencatatkan performa impresif melalui proyek 88Plaza Balikpapan yang menunjukkan angka prapenjualan signifikan alias ludes diserap pasar.
Fenomena "laku keras" seluruh 49 unit tahap awal ini diakui sebagai dampak instan dari pergeseran atensi pasar dengan rencana Ibu Kota Nusantara (IKN) sebagai pusat pertumbuhan ekonomi baru.
Baca juga: Meski Proyek IKN Melambat, BI Tegaskan Tak Berpengaruh Signifikan pada Balikpapan
Selain itu juga, bergairahnya kembali sektor pertambangan khususnya batubara yang mendorong peningkatan aktivitas ikutan seperti jasa, dan perdagangan, ikut memengaruhi kinerja prapenjualan.
Presiden Direktur sekaligus CEO PT Indonesian Paradise Property Tbk, Anthony Prabowo Susilo, menegaskan, Balikpapan kini berfungsi sebagai pelabuhan utama bagi mobilisasi kapital dan sumber daya manusia ke Kalimantan.
Hal ini menciptakan lonjakan permintaan terhadap ruang ritel yang memiliki standar internasional.
Baca juga: Magnum Resort Nusantara Dibangun 2025, Tunggu Perizinan OIKN
“Pasar Balikpapan mendemonstrasikan daya serap yang sangat kuat. 88Plaza hadir untuk menjawab kebutuhan akan ruang komersial yang mampu mengakomodasi gaya hidup urban serta kebutuhan korporasi yang mulai memindahkan basis operasionalnya ke wilayah ini,” ujar Anthony menjawab Kompas.com.
Dari perspektif neraca keuangan, keberhasilan proyek ini menjadi pilar krusial bagi pertumbuhan pendapatan perusahaan.
Kendati akan dibukukan dalam laporan keuangan tahun 2027, namun kepastian proyeksi pendapatan sudah di depan mata yang sangat berpengaruh pada arus kas perusahaan yakni sekitar Rp 80 miliar.
Baca juga: Pusat Riset Internasional Pertamina di IKN Masih Tahap Perizinan
Direktur Keuangan INPP, Surina, mengungkapkan, sejatinya stabilitas arus kas perusahaan didorong oleh kombinasi antara pendapatan berulang (recurring income) dan penjualan aset properti seperti proyek 88Plaza Balikpapan.
“Kami memproyeksikan kontribusi signifikan dari proyek-proyek di Balikpapan terhadap performa konsolidasi perusahaan. Strategi alokasi modal kami fokus pada pengembangan kawasan yang memiliki multiplier effect tinggi terhadap ekonomi lokal,” ungkap Surina.
Pertumbuhan ekonomi Kota Balikpapan yang impresif Kota ini menjadi variabel determinan yang membuat unit-unit di 88Plaza terserap pasar dalam waktu singkat.
Proyek seluas 8 hektar ini dirancang dengan konsep integrated mixed-use yang mencakup perhotelan dan residensial, menciptakan ekosistem mandiri yang meminimalisasi risiko kekosongan penyewa.
Baca juga: BI Balikpapan Perkuat Ekonomi Syariah di Penyangga IKN via PESAN 2026
Jika dibedah lebih lanjut, tutur Anthony, tingkat absorbsi 88Plaza Balikpapan tak lepas dari kedekatan geografis dengan jalur logistik IKN menjadikannya titik pertemuan strategis bagi para investor dan pejabat pemerintahan.
"Balikpapan mengalami defisit ruang komersial kelas atas yang mampu memenuhi standar tenant global. Kami mengisi ceruk tersebut," imbuhnya.
Lonjakan sektor pertambangan dan jasa pendukung IKN meningkatkan pendapatan per kapita wilayah, yang secara otomatis mengerek volume transaksi di sektor ritel.
INPP sendiri menargetkan penyelesaian proyek ini tahun 2027, dan masuk fase berikutnya secara simultan guna mengantisipasi eskalasi aktivitas di IKN tahap II.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang