Emiten pengembang kota mandiri ini memilih sektor pendidikan formal sebagai pilar utama investasi awal perseroan di ibu kota baru, melalui proyek pembangunan jaringan Sekolah Islam Al-Azhar.
Presiden Direktur SMRA, Adrianto P Adhi, menuturkan, langkah penetrasi ini dieksekusi melalui skema pembelian tanah matang secara mandiri secara langsung dari Otorita IKN, yang kemudian dilanjutkan dengan proses konstruksi fisik bangunan sekolah terpadu.
"Strategi menggandeng institusi Al-Azhar didasari oleh keberhasilan pola kemitraan serupa yang sebelumnya telah berjalan di sejumlah kota mandiri garapan Summarecon, seperti di Bekasi, Serpong, Bandung, hingga Makassar," ujar Adrianto, Kamis (11/6/2026).
Sinkronisasi Jadwal Konstruksi
Proyek infrastruktur pendidikan ini sejatinya telah mengantongi izin prinsip dari pemerintah sejak periode sebelumnya, bahkan telah melewati fase peletakan batu pertama (groundbreaking) resmi yang dihadiri langsung oleh Presiden ke-7 Republik Indonesia, Joko Widodo.
Sekolah Islam Al Azhar Summarecon di IKN dibangun di atas lahan seluas 2,9 hektar. Lokasinya berada di Wilayah Perencanaan 1 (WP 1) Kawasan Inti Pusat Pemerintahan (KIPP), tepatnya di Sub-WP 1B pada area Sub Zona Sarana Pelayanan Umum (SPU) 1.
Kendati instrumen legalitas tanah telah diselesaikan secara penuh oleh perusahaan, lini masa pelaksanaan konstruksi fisik di lapangan kini sedang memasuki tahap sinkronisasi jadwal operasional bersama pihak Otorita IKN.
Adrianto menegaskan, keputusan penentuan tanggal dimulainya pembangunan struktur gedung sangat bergantung pada kesiapan infrastruktur pendukung di sekitar ekosistem inti IKN, guna memastikan aksesibilitas siswa dan tenaga pengajar saat operasional sekolah dimulai.
"Skemanya kami membeli tanah, kemudian membangun sekolah. Proyek ini sudah disetujui dan bahkan Presiden Jokowi waktu itu hadir langsung di acara groundbreaking serta mengapresiasi desain arsitektur sekolahnya.," ungkap Adrianto.
Saat ini, perusahaan terus berkomunikasi secara intensif dengan Otorita IKN supaya mengetahui ketepatan waktu kapan konstruksi vertikal ini mulai dibangun.
"Pada prinsipnya, kami siap karena kewajiban pembelian tanah sudah konsisten diselesaikan," imbuh Adrianto.
Penguatan Struktur Kemitraan Internal dan Regional
Operasional harian lembaga pendidikan di bawah bendera Summarecon ini secara struktural dikelola melalui kerja sama taktis antara Yayasan Islam Al-Azhar dengan Yayasan Syiar Bangsa, sebuah wadah internal yang menghimpun para karyawan muslim di lingkungan Summarecon.
Pola kolaborasi ini dinilai efektif mempertahankan standar kualitas pengajaran serta nilai investasi jangka panjang kawasan, tanpa mengganggu fokus utama emiten pada bisnis properti arus utama.
Pemilihan klaster pendidikan dinilai sebagai jangkar investasi yang aman bagi likuiditas perusahaan, mengingat daya serap pasar untuk kebutuhan sekolah berkualitas di area transisi seperti IKN diproyeksikan akan melonjak tajam seiring perpindahan massal Aparatur Sipil Negara (ASN).
Di luar komitmen jangka panjang di IKN, emiten berkode saham SMRA ini tetap mengamankan portofolio pendapatan mereka melalui optimalisasi sembilan kawasan kota mandiri yang sudah berjalan di Jawa dan Sulawesi.
Sepanjang tahun buku 2025, kekuatan ekosistem kota mandiri terpadu ini berhasil membawa Summarecon meraup pendapatan total sebesar Rp 8,77 triliun.
Sementara perolehan laba bersih konsolidasian mencapai Rp 1,20 triliun, yang sekaligus memberikan bantalan likuiditas yang kuat bagi pembiayaan proyek-proyek masa depan perseroan di luar Pulau Jawa.
https://ikn.kompas.com/read/2026/06/11/183557687/groundbreaking-sejak-era-jokowi-sekolah-al-azhar-ikn-tunggu-jadwal-otorita