Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Sandiaga Sebut Umrah dan Haji Peluang Usaha Kreatif Santri di Penyangga IKN

Kompas.com, 1 Mei 2024, 08:10 WIB
Hilda B Alexander

Penulis

NUSANTARA, KOMPAS.com - Perjalanan umrah dan haji merupakan peluang usaha serta lapangan kerja kreatif buat para santri atau Santri Digitalpreneur.

Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Menparekraf) Sandiaga Salahuddin Uno menilai, santri memiliki potensi untuk menjadi pelaku industri digital.

"Lebih lagi Indonesia ditetapkan sebagai destinasi wisata halal terbaik nomor satu di dunia," ujar Sandiaga, saat menyambangi Pondok Pesantren Hidayatullah Pusat, Jalan Balikpapan-Samboja, Kecamatan Balikpapan Timur, Balikpapan, Selasa (30/4/2024).

Baca juga: Sandiaga Siap Pindah ke IKN, Rumah Jabatannya di Persil 104

Untuk memfasilitasi dan mengembangkan ekosistem ekonomi kreatif umrah dan haji, ini Sandiaga akan bertemu dengan Duta Besar Arab Saudi dan para menteri terkait.

"Kami akan bertemu dengan mereka itu besok," cetus Sandiaga.

Dia mengungkapkan, ekonomi kreatif haji dan umrah dari Indonesia mampu menghasilkan nilai hingga Rp 65 triliun dalam setahun terakhir.

Oleh karena itu, santri harus memiliki bekal kemampuan mencetak produk yang berkualitas serta metode pemasaran dalam bentuk konten digital agar bisa menggenjot pendapatan.

"Itu harapan kami sehingga kegiatan santri digitalpreneur 2024 ini bisa komplet," harap Sandiaga.

Baca juga: Sandiaga Makan Durian Pertama di Rumah Jabatan Menteri Basuki di IKN

Untuk diketahui, Indonesia tercatat memiliki 38.000 pesantren dan lebih dari 5 juta santri maupun santriwati.

Para santri akan dijadikan prioritas program digitalpreneur Kemenparekraf terkait ekonomi kreatif umrah dan haji.

Ilmu Ekonomi Digital

Sandiaga mengatakan, santri harus bisa membawa semangat yang telah dipelajari, termasuk kekuatan ilmu agama yang dimiliki.

Oleh sebab itu, para santri tinggal melengkapi dengan ilmu digital terutama dari segi ekonomi digital agar menjadi talenta yang bermanfaat.

Salah satu caranya adalah dengan program Santri Digitalpreneur 2024 yang merupakan wadah pelatihan dan peningkatan kapasitas santri dan generasi milenial dalam menghadapi tantangan industri digital kreatif.

Baca juga: Sandiaga Pastikan Hotel Nusantara dan Qubika Siap Digunakan Saat HUT ke-79 RI

Di Balikpapan, kegiatan Santri Digitalpreneur 2024 berlangsung di pondok pesantren yang terletak di ujung Timur Kota Balikpapan mulai Selasa (30/4/2024) hingga empat hari ke depan.

Sandiaga berharap santri Indonesia tidak lagi menjadi pencari kerja namun pencipta lapangan kerja.

Lebih lagi Kalimantan Timur (Kaltim) yang salah satu kawasannya ditetapkan menjadi Ibu Kota Nusantara (IKN), maka potensi membuka lapangan kerja buat para santri sangat terbuka lebar

Sandiaga menargetkan 4,4 juta lapangan kerja baru dan berkualitas di sektor pariwisata dan ekonomi kreatif.

Baca juga: OIKN Gandeng ACWA Power, Bangun Pembangkit Listrik Hijau

Di Kaltim, pengembangan industri digital memiliki kendala mengingat masih adanya kawasan blank spot. Bahkan, Sandiaga Uno mengalami sendiri saat berkunjung ke IKN.

"Tadi saya juga mengalami sendiri kawasan blank spot maka kami juga akan berkoordinasi dengan Menkominfo dan karena ini 17 Agustus dilaksanakan di IKN, jadi saatnya Kaltim bisa membenahi jaringan dan itu yang akan menjadi target ke depan," pungkas Sandiaga.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang



Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau