Penulis
Istana Garuda dan Istana Negara yang menuai kontroversi, berada di dalam Kawasan Inti Pusat Pemerintahan (KIPP).
Keduanya bisa diletakkan sedemikian rupa agar apabila ditarik sumbu mengarah ke tengah mulut Teluk Balikpapan, mendapatkan sumbu Barat Laut-Tenggara.
Elevasi di Barat Laut didukung bukit yang relatif cukup tinggi sekitar 300-an meter di atas permukaan laut (mdpl) menghadap laut di Teluk Balikpapan.
Posisi ini memberikan efek bagus untuk mendapat dukungan dari sandaran bukit yang ada, sekaligus memberikan efek positif untuk peningkatan kualitas hidup manusia.
"Selain itu, juga berdampak positif pada pembangunan perekonomi negara karena menghadap laut yang menurut kaidah feng shui, laut atau air merupakan elemen kekayaan," urai Sidhi.
Baca juga: Investor IKN Urus HGB 11 Hari Langsung Jadi, Kok Bisa?
Sementara mengenai isu terkait perancang atau arsitek Istana Garuda dan Istana Negara, Sidhi berpendapat perlu disikapi dengan bijak.
Faktanya ada banyak tokoh terkenal yang menjadi panutan para arsitek saat ini, tidak memiliki latar belakang pendidikan arsitektur.
Sebut saja Frank Llyod Wright yang hanya satu tahun kuliah di jurusan teknik sipil di Universitas of Wisconsin kemudian drop out.
Warga berjalan dan berfoto di Taman Kusuma Bangsa, Ibu Kota Nusantara (IKN), Penajam Paser Utara, Kalimantan Timur, Minggu (18/8/2024). Taman Kusuma Bangsa menjadi lokasi wisata bagi masyarakat sekitar setelah diresmikan pada Senin (12/8/2024).
Di sisi lain, banyak arsitek yang menggeluti bidang lain seperti menjadi pemilik hotel, pertambangan atau restoran, tidak ada satupun tokoh dari kalangan kulinari atau hospitaliti yang protes.
"Saya kira kita harus fair dan menerima dengan lapang dada dan justru menjadi ruang introspeksi bagi arsitek ketika ada seorang maestro patung Nyoman Nuarta yang terpilih menjadi perancang Istana Garuda dan Istana Negara IKN," tegas Sidhi.
Baca juga: Cerita dari HUT RI di IKN, Trem Otonom Terpadu Diserbu Warga
Adapun mengenai bentuk istana yang menjadi perbincangan, dia mengatakan, sangat subyektif dan tergantung dari cara bagaimana melihat dan menilai sebuah karya.
Menurutnya, akan selalu ada pro dan kontra sebagaimana teori yin and yang, hitam-putih, siang-malam, atau langit-bumi.
"Sebagai warganegara, saya selalu optimistis dan mendoakan yang terbaik untuk NKRI dengan Ibu kota baru dan pemerintahan dalam menuju Indonesia Emas 2045," tuntas Sidhi.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang