Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Tahun 2025, Kasus HIV/AIDS di Balikpapan Berpotensi Meningkat

Kompas.com, 8 Januari 2025, 22:26 WIB
Add on Google
Hilda B Alexander

Penulis

NUSANTARA, KOMPAS.com - Balikpapan, Kalimantan Timur, dalam tiga tahun terakhir menjadi kota yang sangat terbuka. 

Faktor pembangunan Ibu Kota Nusantara (IKN) dan Refinery Development Master Plan (RDMP) Pertamina merupakan daya tarik bagi banyak orang, terutama pekerja migran, dan kalangan pebisnis untuk datang ke kota ini.

Dampak dari mobilitas masyarakat adalah pertumbuhan populasi yang memungkinkan penyebaran penyakit menjadi tak terelakkan.

Kepala Dinas Kesehatan Kota Balikpapan Alwiati menuturkan, salah satu penyakit dengan risiko sebaran (penularan) tinggi sebagai implikasi dari mobilitas manusia adalah HIV/AIDS.

Baca juga: Cegah Sebaran HMPV, DKK Balikpapan Aktifkan Kembali Tim Gerak Cepat

"Penyakit seperti HIV/AIDS terindikasi banyak tersebar di Balikpapan. Meskipun ada limpahan pasien dari luar Balikpapan, namun trennya memang meningkat ya, terutama untuk tahun 2024 kemarin," ujar Alwiati kepada Kompas.com, Rabu (8/1/2024).

Berdasarkan data Dinas Kesehatan Kota Balikpapan, persebaran kasus HIV/AIDS dalam kurun tiga tahun terakhir mencapai 1.014 kasus.

Rinciannya, tahun 2022 sebanyak 338 kasus, tahun 2023 sejumlah 318 kasus, dan tahun 2024 sebanyak 358 kasus. 

Khusus tahun 2024, sebanyak 22 persen di antaranya berasal dari luar wilayah Balikpapan.

Ini artinya, peningkatan kasus HIV/AIDS di Balikpapan merupakan isu yang kompleks dan multifaktorial.

Selain mobilitas penduduk, beberapa faktor yang berkontribusi terhadap peningkatan tersebut antara lain perilaku berisiko seperti hubungan seks tanpa kondom, penggunaan jarum suntik secara bergantian, dan pertukaran cairan tubuh lainnya.

Baca juga: Fasilitas Kesehatan di IKN Disiapkan, Usung Smart and Green Building

Kurangnya kesadaran masyarakat tentang HIV/AIDS dan cara pencegahannya juga dapat menyebabkan penundaan dalam melakukan tes HIV dan pengobatan.

Faktor berikutnya adalah keterbatasan akses terhadap layanan kesehatan, terutama di daerah-daerah terpencil, menghambat upaya deteksi dini dan pengobatan HIV/AIDS.

Stigma dan diskriminasi terhadap penderita HIV/AIDS juga dapat membuat mereka enggan untuk mencari bantuan medis dan terbuka tentang status HIV mereka.

Selain itu, kondisi sosial ekonomi yang kurang baik, seperti kemiskinan dan pendidikan yang rendah, dapat meningkatkan risiko seseorang tertular HIV/AIDS.

Sementara faktor yang mungkin memperburuk situasi di Balikpapan adalah perubahan pola konsumsi narkoba seperti penggunaan narkoba suntik.

Halaman:


Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau