Penulis
NUSANTARA, KOMPAS.com - Balikpapan, Kalimantan Timur, dalam tiga tahun terakhir menjadi kota yang sangat terbuka.
Faktor pembangunan Ibu Kota Nusantara (IKN) dan Refinery Development Master Plan (RDMP) Pertamina merupakan daya tarik bagi banyak orang, terutama pekerja migran, dan kalangan pebisnis untuk datang ke kota ini.
Dampak dari mobilitas masyarakat adalah pertumbuhan populasi yang memungkinkan penyebaran penyakit menjadi tak terelakkan.
Kepala Dinas Kesehatan Kota Balikpapan Alwiati menuturkan, salah satu penyakit dengan risiko sebaran (penularan) tinggi sebagai implikasi dari mobilitas manusia adalah HIV/AIDS.
Baca juga: Cegah Sebaran HMPV, DKK Balikpapan Aktifkan Kembali Tim Gerak Cepat
"Penyakit seperti HIV/AIDS terindikasi banyak tersebar di Balikpapan. Meskipun ada limpahan pasien dari luar Balikpapan, namun trennya memang meningkat ya, terutama untuk tahun 2024 kemarin," ujar Alwiati kepada Kompas.com, Rabu (8/1/2024).
Berdasarkan data Dinas Kesehatan Kota Balikpapan, persebaran kasus HIV/AIDS dalam kurun tiga tahun terakhir mencapai 1.014 kasus.
Rinciannya, tahun 2022 sebanyak 338 kasus, tahun 2023 sejumlah 318 kasus, dan tahun 2024 sebanyak 358 kasus.
Khusus tahun 2024, sebanyak 22 persen di antaranya berasal dari luar wilayah Balikpapan.
Ini artinya, peningkatan kasus HIV/AIDS di Balikpapan merupakan isu yang kompleks dan multifaktorial.
Selain mobilitas penduduk, beberapa faktor yang berkontribusi terhadap peningkatan tersebut antara lain perilaku berisiko seperti hubungan seks tanpa kondom, penggunaan jarum suntik secara bergantian, dan pertukaran cairan tubuh lainnya.
Baca juga: Fasilitas Kesehatan di IKN Disiapkan, Usung Smart and Green Building
Kurangnya kesadaran masyarakat tentang HIV/AIDS dan cara pencegahannya juga dapat menyebabkan penundaan dalam melakukan tes HIV dan pengobatan.
Faktor berikutnya adalah keterbatasan akses terhadap layanan kesehatan, terutama di daerah-daerah terpencil, menghambat upaya deteksi dini dan pengobatan HIV/AIDS.
Stigma dan diskriminasi terhadap penderita HIV/AIDS juga dapat membuat mereka enggan untuk mencari bantuan medis dan terbuka tentang status HIV mereka.
Selain itu, kondisi sosial ekonomi yang kurang baik, seperti kemiskinan dan pendidikan yang rendah, dapat meningkatkan risiko seseorang tertular HIV/AIDS.
Sementara faktor yang mungkin memperburuk situasi di Balikpapan adalah perubahan pola konsumsi narkoba seperti penggunaan narkoba suntik.