Penulis
Sebelum bergabung dengan Otorita IKN, Mia menjabat sebagai Direktur Pembangunan Daerah di Kementerian PPN/Bappenas, di mana ia terlibat dalam merumuskan kebijakan pembangunan nasional.
Tugasnya di IKN sangat strategis, mencakup perumusan rencana induk, pemetaan tata ruang, pengelolaan tanah, dan koordinasi pemindahan pusat pemerintahan, termasuk ASN, TNI, dan Polri.
Baca juga: Pembangunan Istana Wapres di IKN Mencapai Progres 40 Persen
Mia, kelahiran Jakarta pada 18 Juni 1982, memiliki pengalaman panjang di Bappenas yang membuatnya akrab dengan isu tata ruang dan pertanahan, yang kini menjadi tantangan besar di IKN.
Salah satu isu krusial yang dihadapi Mia adalah pengelolaan tanah, termasuk ganti rugi dan relokasi masyarakat setempat, seperti suku Balik di Sepaku yang menolak perubahan nama kampung dan relokasi.
Dalam Peraturan Kepala Otorita IKN Nomor 1 Tahun 2022, tugasnya mencakup memastikan rencana induk IKN selaras dengan visi kota cerdas dan berkelanjutan, sembari menjaga hak masyarakat lokal.
Kiprahnya di IKN menjadi bukti bahwa perencanaan yang matang adalah tulang punggung pembangunan kota baru.
Pembangunan IKN bukan tanpa kritik. Aktivis lingkungan mengkhawatirkan dampak ekosistem, sementara masyarakat adat, seperti suku Balik, menuntut keadilan dalam pengelolaan tanah.
Myrna menjawab kekhawatiran ini dengan menegaskan bahwa IKN dirancang untuk memulihkan lingkungan yang telah rusak, dengan fokus pada penghijauan dan pengelolaan sumber daya berkelanjutan.
Sementara itu, Mia berupaya menyelesaikan isu pertanahan dengan koordinasi intensif, memastikan hak masyarakat lokal tidak terabaikan.
Myrna Asnawati Safitri dan Mia Amalia adalah dua Kartini modern yang mengawal pembangunan IKN dengan keahlian dan visi jauh ke depan.
Myrna, dengan akar Kaltim dan kepakaran lingkungan, memastikan IKN tetap hijau dan tanggap bencana.
Mia, dengan pengalaman perencanaan nasional, merancang tata ruang yang mendukung kota cerdas dan inklusif.
Kiprah mereka tidak hanya mewujudkan IKN sebagai ibu kota baru, tetapi juga sebagai simbol peradaban baru yang berkelanjutan dan berkeadilan.
Bayangkan seorang anak Indonesia bercita-cita menjadi dokter tetapi hanya memiliki satu buku lusuh untuk belajar. Bersama Ekspedisi Kata ke Nyata Kompas.com, Anda bisa membantu mengubah kisah itu. Mari hadirkan akses literasi bagi anak-anak di berbagai pelosok Indonesia melalui donasi lewat tautan https://bit.ly/JagatLiterasi2026. Setiap kebaikan yang Anda berikan bukan hanya membuka jendela pengetahuan, tetapi juga membuka masa depan mereka.