Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Masa Depan Mobilitas dan Transportasi Cerdas IKN Berbasis IoT

Kompas.com, 30 April 2025, 06:33 WIB
Add on Google
Hilda B Alexander

Penulis

NUSANTARA, KOMPAS.com - Ibu Kota Nusantara (IKN) sedang dirancang untuk menjadi kota cerdas yang tidak hanya modern, tapi juga memiliki sistem mobilitas dan transportasi canggih berbasis Internet of Things (IoT) yang efisien dan berkelanjutan.

Deputi Bidang Transformasi Hijau dan Digital Otorita IKN, Mohammed Ali Berawi, membocorkan hal itu kepada Kompas.com, Selasa (29/4/2025).

Untuk mewujudkannya, Otorita IKN tengah menyusun ekosistem dan masterplan untuk smart mobility.

"Kami menargetkan ekosistem smart mobility yang fungsional pada tahap kedua pembangunan (2025–2029)," usar Ale kepada Kompas.com, Selasa (29/4/2025).

Baca juga: Otorita-Australia Siapkan Revolusi Mobilitas Cerdas Masa Depan IKN

Dengan komitmen kuat, kolaborasi lintas sektor, dan pendekatan inovatif, IKN siap menjadi pelopor 10-minute city yang hijau, efisien, dan inklusif.

Menurut Ale, ada beberapa faktor kunci keberhasilan mobilitas cerdas terwujud di IKN. Pertama, komitmen dan konsistensi program kerja.

"Keberhasilan ekosistem smart mobility IKN bergantung pada komitmen dan konsistensi dalam menjalankan program jangka panjang," imbuhnya.

Otorita IKN telah menetapkan visi jelas melalui Nusantara Urban Mobility Masterplan, yang mengintegrasikan 80 persen perjalanan menggunakan transportasi publik atau mobilitas aktif, seperti berjalan kaki dan bersepeda.

Konsistensi ini diperkuat dengan alokasi anggaran Rp 15,4 triliun pada 2025 untuk infrastruktur, termasuk sistem transportasi cerdas berbasis IoT.

Kedua, koordinasi lintas Kementerian dan Regulasi Lex Specialis. Ale menjelaskan, IKN memiliki keunggulan dengan UU Nomor 3 Tahun 2022 sebagai lex specialis, memungkinkan harmonisasi regulasi lintas kementerian/lembaga (KL).

Baca juga: Banyak Acara di IKN, Giliran Nusantara Sehat Dibanjiri 600 Peserta

Otorita IKN pun terus melakukan koordinasi untuk menyusun Peraturan Kepala Otorita (Perka) yang mendukung implementasi teknologi cerdas, seperti Autonomous Rapid Transit (ART) dan urban air mobility.

Pendekatan participatory planning memastikan semua pihak, dari pemerintah hingga industri, terlibat dalam merumuskan kebutuhan infrastruktur, seperti sensor IoT, aplikasi operasional, dan konektivitas 5G.

Ketiga, kajian ilmiah dan kolaborasi dengan pusat riset global. Pengembangan sistem advanced mobility didukung oleh kajian ilmiah bersama universitas nasional ternama dan lembaga riset internasional.

Otorita IKN menggandeng pusat riset untuk menguji teknologi seperti Autonomous Driving System (ADS) dengan kamera, radar, dan LIDAR, serta Advanced Traffic and Parking Management System (ATPMS) untuk pengelolaan lalu lintas real-time.

"Kolaborasi ini memastikan teknologi yang diadopsi relevan, interoperabel, dan memberikan nilai ekonomis tinggi," cetus Ale.

Baca juga: Habis Blokir, Terbitlah Tender Proyek Baru Rp 3,4 Triliun di IKN

Keempat, pola pengadaan efisien untuk teknologi mutakhir. Otorita IKN menerapkan pola pengadaan (procurement) yang transparan dan efisien untuk meminimalkan eskalasi harga.

Ale menekankan pentingnya menekan biaya (ART saat ini sekitar Rp 70 miliar per unit) agar sebanding dengan manfaatnya sebagai advanced electric bus yang mendukung transportasi publik massal.

Ale menuturkan, tahap kedua pembangunan IKN (2025–2029), ekosistem smart mobility ditargetkan beroperasi penuh.

Sistem Intelligent Transportation System (ITS) berbasis IoT, seperti sensor keselamatan, aplikasi Mobility-as-a-Service (MaaS), dan smart traffic lights, akan mulai fungsional pada 2025.

"Advanced mobility, seperti ART dan urban air mobility (sky taxi), akan diuji coba dalam skala terbatas, didukung oleh Technology and Knowledge Hub yang menjadi living laboratory inovasi global," tuntas Ale.

Teknologi IoT untuk Mobilitas Cerdas IKN

IKN mengintegrasikan teknologi IoT dalam enam domain kota cerdas, dengan transportasi dan mobilitas sebagai salah satu pilar utama.

Berikut adalah fitur-fitur cerdas yang akan mentransformasi pergerakan di IKN:

Sistem Transportasi Cerdas (ITS): 

  • Autonomous Driving System (ADS): ART menggunakan sensor, kamera, dan LIDAR untuk navigasi otonom, didukung konektivitas 5G untuk keamanan dan efisiensi. 
  • Advanced Traffic and Parking Management System (ATPMS): Memberikan sinyal cerdas, penegakan hukum elektronik (ETLE), dan parkir dinamis berbasis IoT untuk mengurangi kemacetan. 
  • Advanced Public Transportation System (APTS): Sensor IoT pada halte bus dan aplikasi seperti MitraDarat memantau posisi bus listrik secara real-time, meningkatkan aksesibilitas.
  • Mobility-as-a-Service (MaaS): Aplikasi MaaS menyediakan informasi rute, pemesanan transportasi sesuai permintaan, dan integrasi dengan smart parking. Contohnya, warga dapat memesan ART atau sepeda listrik melalui satu platform.
  • Ekosistem Kendaraan Listrik: Stasiun pengisian daya dan penukaran baterai berbasis IoT dengan algoritma harga dinamis akan mendukung 100 persen penggunaan energi terbarukan pada 2045.
  • Logistik Cerdas: Sistem pelacakan logistik dengan smart lockers dan robot otonom di gudang cerdas akan memastikan pengiriman efisien, mendukung ekonomi sirkular.
  • Urban Air Mobility (UAM): Sky taxi otonom, yang diuji coba bersama Hyundai Motor Group, akan menjadi moda transportasi jarak tempuh pertama dan terakhir, terintegrasi dengan vertiport dan aplikasi MaaS.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang



Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau