Penulis
NUSANTARA, KOMPAS.com - Pembangunan Ibu Kota Negara (IKN) Nusantara di Kalimantan Timur adalah proyek megah dengan estimasi biaya Rp 560 triliun (sekitar 35 miliar dolar AS) hingga selesai pada 2045.
Proyek ini melibatkan banyak konglomerasi Indonesia, baik dalam pembangunan infrastruktur, properti, maupun fasilitas pendukung, dengan skema Public Private Partnership (PPP).
Berikut adalah catatan Kompas.com yang dihimpun dari keterangan Deputi Pendanaan dan Investasi Otorita IKN Agung Wicaksono, terkait konglomerasi utama yang terlibat.
Termasuk Sugianto Kusuma (Aguan) dari Agung Sedayu Group (ASG), yang sering disebut sebagai “naga properti", serta pemain besar lainnya.
1. Konsorsium Nusantara (Dipimpin oleh ASG):
Konsorsium ini menjadi salah satu pionir investasi swasta di IKN dan melibatkan sejumlah nama besar:
Baca juga: Titik Nol IKN Simbol Peradaban, BIG: Punya Makna Persatuan
Sebagai pemimpin konsorsium, ASG menggarap proyek Hotel Nusantara, sebuah hotel bintang lima dengan ratusan kamar.
Rencananya, mereka juga akan membangun pusat perbelanjaan (mal) berkonsep duty-free dan kebun raya (botanical garden) sebagai bagian dari CSR.
Salim Group (Anthony Salim) juga terlibat dalam konsorsium, namun detail proyek spesifik belum banyak dipublikasikan.
Sinarmas Group (Franky Widjaja), sama seperti Salim Group, Sinarmas menjadi bagian dari konsorsium dengan potensi investasi di berbagai sektor.
Pulau Intan (Pui Sudarto), juga merupakan anggota konsorsium, dengan potensi keterlibatan dalam proyek properti.
Grup Djarum (Budi Hartono), awalnya dikabarkan menjadi bagian konsorsium, namun ada indikasi perubahan rencana atau fokus investasi. Untuk Kebun Raya IKN, Djarum disebut akan turut terlibat.
Baca juga: Daftar Sekolah dan Kampus Bertaraf Global Bakal Hadir di IKN
Wings Group (William Katuari), sempat diisukan menarik diri, namun kemudian dikonfirmasi tetap berkomitmen dalam konsorsium. Wings Group juga disebut akan terlibat dalam pembangunan Kebun Raya IKN.
Adaro Group (Boy Tohir), bergabung dalam konsorsium, fokus investasi di sektor energi atau infrastruktur pendukung.
Barito Pacific (Prajogo Pangestu), salah satu konglomerat terbesar di Indonesia, turut serta dalam konsorsium dengan potensi investasi besar.
Baca juga: Fitur Kota Cerdas IKN Digeber Sesuai Rencana Induk
Mulia Group (Eka Tjandranegara), dikenal dengan properti mewah, kemungkinan berinvestasi di sektor hunian atau komersial premium.
Grup Astra, melalui Yayasan Pendidikan Astra, mereka berencana merevitalisasi sekolah negeri di IKN. Astra juga disebut dalam konsorsium secara umum.
2. Perusahaan BUMN Karya
Sejumlah BUMN konstruksi juga memegang peran penting dalam pembangunan infrastruktur dasar dan gedung-gedung pemerintahan di IKN:
3. Konglomerat dan Perusahaan Lainnya:
Selain konsorsium dan BUMN Karya, beberapa nama lain juga menunjukkan keterlibatan:
4. Regulator dan Perbankan dalam Mini Financial District
Bank Indonesia (BI): Sebagai bank sentral, BI memiliki peran krusial dalam pengembangan sistem keuangan di IKN.
Kantor ini diharapkan menjadi pusat koordinasi kebijakan moneter dan sistem pembayaran di IKN, serta mendukung pengembangan ekonomi digital. Kehadiran BI menjadi jangkar penting bagi pembangunan pusat keuangan di IKN.
Otoritas Jasa Keuangan (OJK), sebagai regulator sektor keuangan, OJK juga memiliki peran vital. Kehadiran OJK akan memastikan stabilitas dan integritas sektor keuangan di IKN, serta memberikan kepastian regulasi bagi lembaga keuangan yang beroperasi di sana.
Himpunan Bank-bank Milik Negara (Himbara)