Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Spek Taksi Terbang EHang yang Dinaiki Raffi Ahmad dan Pabrikan Hyundai untuk IKN

Kompas.com, 25 Juni 2025, 20:00 WIB
Add on Google
Hilda B Alexander

Penulis

NUSANTARA, KOMPAS.com – Taksi terbang menjadi terobosan transportasi masa depan di Indonesia, dengan EHang 216-S yang diuji coba oleh Raffi Ahmad di PIK 2, Tangerang, dan Hyundai Optionally Piloted Personal/Passenger Air Vehicle (OPPAV) yang telah menjalani uji coba Proof of Concept (PoC) di Ibu Kota Nusantara (IKN).

Meskipun sama-sama berbasis teknologi electric Vertical Take-Off and Landing (eVTOL), kedua kendaraan ini memiliki perbedaan signifikan dalam spesifikasi, desain, dan tujuan penggunaan.

Perbandingan Spesifikasi Teknis

EHang 216-S yang ditumpangi Raffi Ahmad diproduksi oleh EHang China, sementara Hyundai OPPAV (IKN) diproduksi oleh Hyundai Motors Company bekerja sama dengan Korean Aerospace Research Institute (KARI).

Baca juga: Raffi Ahmad Naik EHang, Bagaimana Nasib Taksi Terbang di IKN?

Spesifikasi EHang 216-S berdasarkan uji coba di PIK 2 (Juni 2025) dan sumber resmi Prestige Aviation.

Adapun spesifikasi Hyundai OPPAV berdasarkan laporan PoC IKN (Juli 2024) dan keterangan KARI/Hyundai.

Berikut perbedaannya:

  • Tipe Teknologi: EHang merupakan Autonomous Aerial Vehicle (AAV) atau sepenuhnya otonom, sedangkan Hyundai merupakan eVTOL atau optionally piloted (otonom atau manual opsional)
  • Kapasitas: EHang 2 penumpang (muatan maksimal 220 kg), Hyundai 5 penumpang (muatan maksimal estimasi 400–500 kg)
  • Jarak Tempuh: EHang 30–35 km, Hyundai 50–100 km. 
  • Waktu Terbang: EHang 18–25 menit, Hyundai 25–30 menit (estimasi)
  • Kecepatan Maksimal: EHang 130 km/jam, Hyundai 200 km/jam
  • Ketinggian Maksimal: EHang 3.000 m, Hyundai 3.000–5.000 m
  • Dimensi: EHang tinggi 1,77 m, lebar 5,61 m, Hyundai: panjang 6,15 m, lebar sayap 7 m
  • Baling-baling: EHang 16 baling-baling, 8 lengan lipat, Hyundai: 8 baling-baling (4 untuk lepas landas, 4 untuk arah)
  • Sumber Daya: EHang Baterai listrik, dikendalikan AI via jaringan 4G/5G, Hyundai: baterai listrik, kombinasi AI dan kontrol manual opsional
  • Waktu Pengisian Baterai: EHang 120 menit, Hyundai: belum dirilis, estimasi 90–150 menit
  • Material: EHang terdiri dari komposit serat karbon (ringan, kuat), sementara Hyundai merupakan komposit serat karbon dan logam (estimasi)

Taksi terbang EHang 216-s yang dipamerkan di kawasan PIK 2, Tangerang, Banten, Rabu (25/6/2025).
ANTARA/Pamela Sakina Taksi terbang EHang 216-s yang dipamerkan di kawasan PIK 2, Tangerang, Banten, Rabu (25/6/2025).
Pembelajaran Teknologi

Sebagai Utusan Khusus Presiden Raffi Ahmad melihat EHang 216-S tidak hanya sebagai alat transportasi, tetapi juga peluang pembelajaran teknologi bagi generasi muda Indonesia.

Meski diimpor dari China, Raffi menekankan pentingnya kolaborasi global untuk memajukan inovasi lokal.

“Ini untuk menyosialisasikan kepada generasi muda: banyak belajar dan terus belajar. Meski EHang dari China, ini waktunya kita adaptasi teknologi terbaik dari luar negeri,” ujarnya.

Baca juga: Menakar Nasib Taksi Terbang IKN Ketika Tokoh Sentralnya Mengundurkan Diri

Raffi membayangkan EHang sebagai moda pariwisata premium yang terjangkau, seperti wisata udara di Bali untuk pasangan bulan madu atau tur singkat di destinasi ikonik.

Dengan biaya operasional lebih rendah dari helikopter, EHang bisa menarik wisatawan domestik dan mancanegara, meningkatkan daya saing pariwisata Indonesia.

Sementara Otorita IKN mengupayakan komersialisasi taksi terbang ini sebagai mobilitas cerdas udara di IKN pada tahun 2029 mendatang.

Namun, untuk pengoperasian komersial secara penuh akan dilakukan setelah tahun 2030, karena memerlukan berbagai kajian termasuk teknologi, ekonomi, lingkungan, sosial, telaah hukum, dan infrastruktur.

Baca juga: Tak Sepeser Pun APBN Digunakan untuk Uji Coba Trem, dan Taksi Terbang di IKN

Ada harapan terbentuknya tim teknis antara Hyundai dan PT Dirgantara Indonesia (PTDI) untuk pengembangan teknologi industri ini secara masif ke depannya.

Mohammed Ali Berawi, yang merupakan Deputi Bidang Transformasi Hijau dan Digital Otorita IKN, merupakan tokoh sentral di balik suksesnya Proof of Concept (PoC) taksi terbang ini.

Secara umum, kabar taksi terbang Hyundai untuk IKN cukup positif, dengan adanya uji terbang yang sukses dan rencana komersialisasi di masa depan.  

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang



Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau