Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Sukses Dinaiki Raffi Ahmad, Bagaimana Peluang EHang Mengudara di IKN?

Kompas.com, 3 Juli 2025, 16:49 WIB
Hilda B Alexander

Penulis

NUSANTARA, KOMPAS.com - Ibu Kota Nusantara (IKN), kota masa depan Indonesia yang dirancang sebagai pusat inovasi dan teknologi, tengah mempersiapkan langkah besar dalam transformasi transportasi udara.

Salah satu teknologi yang menjadi sorotan adalah taksi terbang berbasis electric Vertical Take-Off and Landing (eVTOL) pabrikan Hyundai Motor Group dan Korea Aerospace Research Institute (KARI). 

Proof of Concept (PoC) taksi terbang yang berlangsung di Bandara Aji Pangeran Tumenggung (APT) Pranoto, Samarinda, pada 29 Juli 2024, itu berjalan sukses. Namun, uji terbang tersebut dilakukan tanpa awak dan penumpang.

Baca juga: Raffi Ahmad Naik EHang, Bagaimana Nasib Taksi Terbang di IKN?

Nah, berbeda dengan taksi terbang EHang 216-S pabrikan perusahaan teknologi asal China, EHang yang sudah mengudara dengan berpenumpang.

EHang 216-S, adalah drone raksasa bertenaga listrik yang mampu mengangkut dua penumpang (muatan hingga 220 kg) dengan jarak tempuh maksimal 35 km, waktu terbang 21 menit, dan kecepatan maksimum 130 km/jam.

Kendaraan ini menggunakan kecerdasan buatan (AI) untuk navigasi tanpa pilot, menjadikannya solusi transportasi udara yang efisien dan ramah lingkungan.

Pada 2023, EHang 216-S menjadi kendaraan udara otonom pertama di dunia yang memperoleh Sertifikat Tipe dari Civil Aviation Administration of China (CAAC), menandakan kesiapan teknologi untuk penggunaan komersial di Tiongkok.

Di Indonesia, EHang 216-S pertama kali diuji coba pada 26 November 2021 di Klungkung, Bali, sebagai bagian dari demonstrasi teknologi.

Baca juga: Tak Sepeser Pun APBN Digunakan untuk Uji Coba Trem, dan Taksi Terbang di IKN

Pada 25 Juni 2025, uji coba berpenumpang pertama dilakukan di Phantom Ground Park, Pantai Indah Kapuk 2 (PIK 2), Tangerang, Banten, dengan izin dari Kementerian Perhubungan.

Utusan Khusus Presiden Bidang Pembinaan Generasi Muda dan Pekerja Seni Raffi Ahmad, bersama Executive Chairman Prestige Aviation Rudy Salim, menjadi penumpang pertama.

Raffi Ahmad menyatakan bahwa teknologi ini tidak hanya dapat meningkatkan daya saing pariwisata nasional, misalnya untuk wisata udara, namun juga berpotensi sebagai transportasi di IKN, dengan biaya lebih terjangkau dibandingkan helikopter.

Mencermati kondisi ini, bagaimana peluang EHang dalam mendukung mobilitas udara cerdas di IKN?

Peluang EHang di IKN

Dalam perbincangan eksklusif dengan Kompas.com, Kamis (3/7/2025), Deputi Bidang Transformasi Hijau dan Digital Otorita IKN Mohammed Ali Berawi menekankan bahwa taksi terbang adalah bagian dari ekosistem mobilitas cerdas atau Urban Air Mobility/Advanced Air Mobility (UAM/AAM) yang mendukung visi IKN sebagai kota netral emisi karbon.

Taksi terbang EHang 216-S memiliki peluang besar di IKN karena beberapa alasan. Di antaranya adalah efisiensi dan keberlanjutan, serta merupakan solusi kemacetan dan mempermudah aksesibilitas.

Baca juga: Menakar Nasib Taksi Terbang IKN Ketika Tokoh Sentralnya Mengundurkan Diri

Berbasis baterai litium, EHang dinilai ramah lingkungan dan mendukung konsep IKN sebagai kota hijau.

Biaya operasionalnya lebih rendah dibandingkan helikopter, dengan estimasi harga per unit sekitar Rp 8,7 miliar, jauh lebih murah dibandingkan helikopter konvensional.

Taksi terbang ini dapat menjangkau daerah sulit seperti perbukitan atau menghubungkan IKN dengan kota-kota sekitar seperti Balikpapan dan Samarinda tanpa terjebak kemacetan darat

Ale mengatakan, Otorita IKN sendiri menargetkan operasional komersial taksi terbang pada 2029, dengan tahap pengembangan termasuk pembangunan pusat riset dan pengembangan (R&D) serta kerja sama dengan PT Dirgantara Indonesia untuk transfer teknologi.

Nah, kajian ini sedang dilakukan bersama mitra teknologi Otorita IKN seperti Hyundai Motor Group dan KARI, dengan harapan menghasilkan regulasi yang matang untuk komersialisasi pada 2029-2030.

Baca juga: Taksi Terbang Beroperasi Komersial di IKN Tahun 2029

"Meski menjanjikan, pengoperasian taksi terbang menghadapi sejumlah tantangan, terutama terkait regulasi dan keamanan," ujar Ale.

Ale menjelaskan bahwa taksi terbang tidak bisa disamakan dengan helikopter atau pesawat konvensional karena sifatnya yang otonom dan berbasis drone.

Oleh karena itu, diperlukan aturan khusus untuk mengatur rute, ketinggian, zona terbang, dan aspek keselamatan.

Revisi Regulasi

Ale menegaskan bahwa regulasi saat ini masih berfokus pada drone non-penumpang, sehingga aturan khusus untuk drone penumpang seperti EHang harus disusun.

Kementerian Perhubungan sendiri telah berencana merevisi UU Nomor 1 Tahun 2009 tentang Penerbangan untuk mengakomodasi teknologi ini.

Tantangan lain meliputi zona terbang dan keselamatan di mana wilayah udara harus dipisahkan (segregated) dari jalur pesawat konvensional, dengan zona steril seperti area istana di IKN.

"Misalnya, wilayah sensitif seperti area istana di IKN harus ditetapkan sebagai zona steril yang tidak boleh dilintasi," ungkap Ale.

Baca juga: Kabar Terbaru Taksi Terbang IKN, Masuk Tahapan Transfer Teknologi

Penentuan ketinggian dan rute juga perlu riset mendalam untuk mencegah tabrakan atau gangguan.

Kemudian kapasitas dan skalabilitas, pemilihan teknologi yang harus disesuaikan dengan kebutuhan IKN baik untuk transportasi publik maupun kendaraan pribadi.

Tarif pun harus diatur agar terjangkau, dengan estimasi biaya operasional yang kompetitif dibandingkan helikopter. Namun, mekanisme penetapan tarif dan izin usaha masih dalam kajian.

Selanjutnya aspek keselamatan, keamanan, dan privasi harus dijamin, termasuk mitigasi risiko melalui pelatihan kru dan manajemen berbasis risiko.

"Keselamatan publik adalah prioritas utama, mengingat taksi terbang adalah transportasi publik yang mengangkut nyawa manusia, bukan sekadar barang," cetus Ale.

Berbeda

Ale menyebutkan bahwa EHang dan taksi terbang Hyundai memiliki perbedaan dalam kapasitas dan tujuan penggunaan.

EHang 216-S lebih cocok untuk transportasi privat dengan kapasitas kecil, sementara Hyundai menawarkan kapasitas lebih besar (5 penumpang) untuk transportasi publik.

Keduanya memiliki opsi otonom dan manual, tetapi keandalan teknologi masih memerlukan kajian mendalam.

Namun demikian, Ale menolak membandingkan keduanya secara langsung, dan mengibaratkannya seperti membandingkan "apel dan jeruk" karena perbedaan konteks dan kapasitas.

Baca juga: Otorita IKN: Komersialisasi Taksi Terbang Perlu Kajian Lebih Lanjut

Dengan target komersialisasi pada 2029, taksi terbang di IKN diharapkan menjadi simbol kemajuan teknologi Indonesia.

EHang 216-S, dengan uji coba yang sukses bersama Raffi Ahmad, telah membuktikan potensinya. Namun, keberhasilan penuh bergantung pada penyusunan regulasi yang matang, jaminan keselamatan, dan kesiapan infrastruktur.

Seperti yang dikatakan Ale, ini bukan hanya soal efisiensi waktu dan biaya, tetapi juga keselamatan publik sebagai prioritas utama.

Bayangkan seorang anak Indonesia bercita-cita menjadi dokter tetapi hanya memiliki satu buku lusuh untuk belajar. Bersama Ekspedisi Kata ke Nyata Kompas.com, Anda bisa membantu mengubah kisah itu. Mari hadirkan akses literasi bagi anak-anak di berbagai pelosok Indonesia melalui donasi lewat tautan https://bit.ly/JagatLiterasi2026. Setiap kebaikan yang Anda berikan bukan hanya membuka jendela pengetahuan, tetapi juga membuka masa depan mereka.



Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Dengan Membership bulanan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Dengan Membership tahunan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Diperbaharui : 1 Juli 2026
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Pesan apresiasi berhasil
Pesan apresiasi darimu sudah dipublikasikan di halaman komentar
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau