Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Megahnya Masjid Negara IKN, Suaka Spiritual Nusantara yang Hampir 90 Persen

Kompas.com, 18 Desember 2025, 17:36 WIB
Add on Google
Hilda B Alexander

Penulis

Dirancang mampu menampung hingga 61.000 jemaah secara keseluruhan, dengan struktur berdiri di atas lahan seluas 3,2 hektar dan bangunan mencapai 61.596 meter persegi.

Baca juga: Penduduk Tertua di IKN Berusia 108 Tahun, Saksi Hidup Perang Dunia I hingga Covid

Kawasan ini dikelilingi oleh area retensi air (embung) sehingga masjid seolah terapung.

Berbeda dengan kubah setengah bola, atap Masjid Negara berbentuk lipatan-lipatan melingkar yang menyerupai surban.

Secara teknis, ini menggunakan material komposit yang ringan namun sangat kuat terhadap cuaca tropis Kalimantan.

Selain itu, terdapat Menara setinggi 99 meter yang melambangkan Asmaul Husna. Menara ini tidak hanya berfungsi sebagai tempat pengeras suara, tetapi juga memiliki gardu pandang untuk melihat lanskap IKN.

Baca juga: Tahukah Anda, Separuh Populasi IKN adalah Generasi Muda?

Masjid Negara IKN dilengkapi fitur ramah lingkungan dengan sistem ventilasi alami yang memanfaatkan angin dari hutan sekitar.

Pemanfaatan pencahayaan alami dirancang secara maksimal melalui celah-celah geometris di atap, dan sistem pengolahan air wudhu untuk penyiraman taman (water recycling).

Fasilitas pendukung lainnya yakni ruang pertemuan, perpustakaan digital, serta area komersial UMKM yang terintegrasi dengan Plaza Edukasi Keagamaan.

2. Basilika Nusantara: Inklusivitas di KIPP

Basilika ini dibangun di kawasan yang berdekatan dengan tempat ibadah agama lain sebagai simbol moderasi beragama di pusat pemerintahan.

Basilika Nusantara dirancang untuk menampung sekitar 1.600 jemaat di dalam ruangan utama.

Baca juga: Tol IKN Dibuka Gratis saat Nataru, Otorita Siapkan Manajemen Lalu Lintas

Hingga Desember 2025, progres pembangunan telah mencapai 80,01 persen, dengan fokus pada pengerjaan interior dan pemasangan elemen dekoratif fasad.

Menggabungkan elemen arsitektur gereja klasik dengan sentuhan ornamen Nusantara, Basilika punya bentuk atap dan fasad yang selaras dengan konsep smart forest city, tidak kaku, dan memiliki banyak ruang terbuka hijau.

Baca juga: IKN Didominasi Gen Z dan Milenial, Basuki Cari Investor Padel hingga Bioskop

Di sisi lain, material batu alam dan kayu yang diolah secara industri juga digunakan, untuk memastikan daya tahan jangka panjang namun tetap memberikan kesan hangat dan menyatu dengan alam.

Secara teknis, kedua bangunan ini, bersama rumah ibadah agama lain yang sedang dibangun seperti pura, vihara, dan klenteng, diikat oleh satu infrastruktur pendukung yang sama.

Mengingat standar IKN yang sangat tinggi, kedua bangunan ini menggunakan struktur beton bertulang dan baja dengan spesifikasi tahan gempa sesuai standar bangunan monumental nasional.

Seluruhnya juga terhubung dengan jalur pedestrian dan transportasi publik di Kawasan Inti Pusat Pemerintahan (KIPP).

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Halaman:


Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau