Penulis
Bandara Internasional Nusantara menggunakan PCR bukan sekadar urusan ganti istilah di atas kertas.
Ini adalah pernyataan bahwa bandara ini siap mengelola infrastruktur udara dengan standar yang paling aktual.
Dengan dipublikasikannya data ini sejak pertengahan 2025, maskapai internasional kini memiliki parameter yang jelas untuk memasukkan bandara berkode WALK ini ke dalam rute penerbangan jarak jauh mereka.
Angka-angka ini menjadi fondasi akses konektivitas IKN ke seluruh dunia. Di atas beton dan aspal dengan peringkat PCR tinggi inilah, gerbang utama menuju pusat pemerintahan baru Indonesia resmi berdiri tegak.
Menurut Imam, saat ini, Bandara Internasional Nusantara masih berstatus khusus, melayani charter flight serta pesawat pemerintah dan TNI AU. Namun, fokus besar kini adalah pada transisi menuju status komersial penuh pada 2026.
Untuk diketahui, Bandara Internasional Nusantara dibangun dengan spesifikasi teknis yang melampaui bandara-bandara regional di sekitarnya, menegaskan perannya sebagai gerbang utama ibu kota baru.
Baca juga: Menteri PU Endorse IKN, Investor Jangan Ragu Masuk
Dimensi landasan runway-nya dirancang 3.000 meter kali 45 meter, menjadikannya bersifat ultimate.
Panjang runway tersebut mampu mengakomodasi pesawat terbesar di dunia, seperti Boeing Triple Seven (B-777) atau bahkan Airbus A380.
Bandara ini juga dapat menampung 420 orang per jam di fasilitas terminal, atau setara dengan 1,6 juta penumpang per tahun.
Sementara kapasitas penerbangan mampu menampung 19 pergerakan pesawat per jam. Imam memastikan bahwa Bandara Internasional Nusantara adalah yang paling siap di Kalimantan untuk penerbangan long-range, membuka potensi koneksi langsung internasional yang selama ini terpusat di Jawa.
Baca juga: Apa yang Dikoreksi Prabowo Saat Kunjungan Perdana di IKN?
Meskipun secara fisik sudah ultimate (khususnya sisi udara), Bandara International Nusantara akan terus mengalami penyempurnaan di sisi darat.
Termasuk hunian pegawai, lanskap, kantor karantina, dan imigrasi, sejalan dengan target IKN sebagai kota politik pada tahun 2028.
Adapun operasional saat ini berada di bawah pengelolaan Unit Penyelenggara Bandar Udara (UPBU) Kementerian Perhubungan (Kemenhub), bukan BUMN seperti Angkasa Pura.
"Statusnya masih khusus seraya menunggu peraturan perundang-undangan untuk berubah menjadi komersial penuh pada tahun 2026," jelas Imam.
Baca juga: Kunjungan Presiden Prabowo Pertegas Keberlanjutan Pembangunan IKN
Kesiapan fasilitas bandara ini membuka peluang besar untuk dijadikan Embarkasi Haji pada tahun ini.
"Alhamdulillah, kita sudah siap fasilitas sudah siap tinggal dukungan pemerintah. Kalau misalnya dipindahkan ke sini kita sudah siap secara fasilitas, tapi itu kan kebijakan," imbuhnya.
Kehadiran Bandara Internasional Nusantara juga diharapkan mendukung konsep multiple airport di kawasan Kalimantan Timur, seperti balaya Bandara Halim Perdanakusuma dan Bandara Internasional Soekarno-Hatta Cengkareng, atau Badanara Adi Soemarmo Solo, Bandara NYIA Yogyakarta, dan Bandara Ahmad Yani Semarang di Jawa Tengah, untuk saling mendukung pertumbuhan ekonomi dan mobilitas.
Bayangkan seorang anak Indonesia bercita-cita menjadi dokter tetapi hanya memiliki satu buku lusuh untuk belajar. Bersama Ekspedisi Kata ke Nyata Kompas.com, Anda bisa membantu mengubah kisah itu. Mari hadirkan akses literasi bagi anak-anak di berbagai pelosok Indonesia melalui donasi lewat tautan https://bit.ly/JagatLiterasi2026. Setiap kebaikan yang Anda berikan bukan hanya membuka jendela pengetahuan, tetapi juga membuka masa depan mereka.