Penulis
NUSANTARA, KOMPAS.com - Bandara Internasional Nusantara di Ibu Kota Nusantara (IKN) tengah bersiap untuk beroperasi secara komersial pada tahun 2026 ini.
Namun, sebelum resmi beroperasi komersial, ada sebuah detail teknis yang sering kali luput dari pandangan mata awam saat kita membicarakan kemegahan sebuah bandara internasional.
Jika arsitektur terminal adalah wajahnya, maka landasan pacu atau runway adalah otot dan tulangnya.
Aspek "otot" ini sedang menjadi perbincangan hangat di kalangan pemerhati penerbangan, terutama dengan adanya transisi regulasi global yang mengatur klasifikasi kekuatan perkerasan landasan.
Mungkin kita masih terbiasa dengan istilah Pavement Classification Number (PCN). Namun, dunia penerbangan sipil internasional kini telah bergeser.
Baca juga: Seskab Teddy Puji Basuki yang Konsisten Gunakan HP Nokia Lawas
Mengikuti mandat terbaru dari International Civil Aviation Organization (ICAO), sistem lama tersebut mulai ditinggalkan dan digantikan oleh sistem yang lebih presisi, yakni Pavement Classification Rating (PCR) tepat November 2024 lalu.
Plt Kepala Bandara Internasional Nusantara, Imam Alwan, menjelaskan, Bandara Internasional Nusantara telah mengadopsi standar mutakhir ini sejak jauh hari untuk menjamin kesiapan operasional pesawat berbadan lebar (wide-body) di masa depan.
“Perlu dipahami bahwa sekarang regulasi ICAO sudah berubah. Semula PCN, sekarang istilahnya menjadi PCR. Untuk Bandara Internasional Nusantara sendiri, data kekuatan landasan telah kami rilis secara resmi untuk memastikan transparansi dan standar keselamatan global,” ujar Imam kepada Kompas.com, Jumat (9/1/2026).
Menara ACT Bandara Internasional Nusantara di Ibu Kota Nusantara (IKN)Data yang dipublikasikan per 12 Juni 2025 berbarengan dengan sertifikat bandara tersebut, menunjukkan angka-angka yang cukup impresif dan mencerminkan rigiditas yang direncanakan untuk jangka panjang.
Untuk segmen Runway dan Taxiway, angka yang dipublikasikan adalah 790 F/C/X/T. Sementara itu, bagian Apron, tempat pesawat parkir dan melakukan bongkar muat, memiliki kekuatan yang lebih tinggi lagi, yakni 1180 R/C/X/T.
Bagi orang awam, deretan angka dan huruf ini mungkin terlihat seperti kode rahasia. Namun, bagi para insinyur dan pilot, ini adalah jaminan keamanan.
Baca juga: Kehadiran RDMP Jawab Kemacetan Distribusi BBM di Penyangga IKN
Mari kita bedah sedikit maknanya. Angka 790 pada landasan pacu menunjukkan kapasitas beban yang sangat besar, yang memungkinkan bandara ini melayani pesawat-pesawat seberat Boeing 777 atau Airbus A350 dengan muatan penuh tanpa risiko kerusakan pada struktur perkerasan.
Kode F/C/X/T memberikan informasi lebih spesifik. F menunjukkan perkerasan lentur (flexible), sementara C berarti sub-grade atau tanah dasar yang memiliki kekuatan kategori sedang.
Adapun X merujuk pada tekanan ban maksimum yang diperbolehkan (kategori sangat tinggi), dan T adalah metode penilaian teknis yang digunakan.
Sementara itu, angka 1180 pada Apron dengan kode R (Rigid) menunjukkan bahwa area parkir pesawat ini menggunakan perkerasan kaku atau beton.
Baca juga: Menetap di Tengah Hutan demi Janji Peradaban, Dedikasi Basuki buat IKN