Penulis
NUSANTARA, KOMPAS.com - Tantangan besar mengintai para pelaku ekonomi kerakyatan di wilayah penyangga Ibu Kota Nusantara (IKN), Balikpapan, Penajam Paser Utara (PPU), dan Paser.
Apakah UMKM lokal akan menjadi pemain utama atau sekadar penonton di rumah sendiri?
Menjawab keresahan tersebut, Kantor Perwakilan Bank Indonesia (KPwBI) Balikpapan melakukan langkah taktis.
Baca juga: Jajang Hermawan: BI Kaltim Fokus Akselerasi Pembayaran Digital dan UMKM
Melalui rangkaian workshop intensif pada medio Februari 2026, BI Balikpapan menyasar dua jantung ekonomi kreatif: subsektor wastra (fesyen) dan makanan-minuman (mamin) olahan.
BI Balikpapan menerapkan standar kurasi yang ketat untuk memisahkan produk yang sekadar ada dengan produk yang siap bertarung di pasar global.
Pelatihan desain wastra yang digelar di Hotel Novotel Balikpapan (6–8 Februari 2026) menjadi arena penting bagi 18 pelaku UMKM dan 18 desainer muda, termasuk para siswa SMK Tata Busana.
BI Balikpapan menyadari bahwa tanpa narasi dan identitas yang kuat, kain batik atau fesyen lokal hanya akan berakhir sebagai komoditas murah.
Integrasi unsur budaya lokal Kalimantan Timur dipadukan dengan konsep ready-to-wear (siap pakai) bertaraf nasional.
Baca juga: Menjaga Jangkar Ekonomi, Strategi BI Balikpapan Hadapi Volatilitas 2026
Menariknya, para peserta tidak hanya diajarkan cara menjahit, tetapi dipaksa membedah storytelling produk, mengapa sehelai kain tersebut layak dihargai mahal oleh pasar nasional maupun global.
“Produk wastra lokal harus memiliki identitas kuat dan kualitas unggul. Ini bukan lagi soal bertahan di pasar lokal, melainkan bagaimana menembus pasar nasional hingga global dengan desain yang berkarakter,” tegas Kepala KPwBI Balikpapan, Robi Ariadi, dikutip Kompas.com, Selasa (17/2/2026).
Tak hanya fesyen, sektor mamin olahan juga mendapat porsi perhatian besar. Sebanyak 47 pelaku usaha dari Balikpapan, PPU, dan Paser digembleng pada 11–12 Februari 2026.
Fokusnya adalah inovasi bahan alami, kemasan estetik, dan kredibilitas merek.
Langkah ini strategis mengingat IKN akan membawa jutaan konsumen baru dengan standar selera yang lebih tinggi.
Baca juga: Strategi BI Kaltim Jaga Stabilitas Harga Pangan dan Tekan Ketergantungan Batubara
Jika UMKM lokal tidak mampu mengemas produknya secara modern, pasar tersebut akan habis dilahap oleh produk-produk pabrikan besar.
Workshop ini juga berfungsi sebagai gerbang awal menuju ekosistem Industri Kreatif Syariah (IKRA), sebuah label prestisius yang menjamin kualitas dan prinsip bisnis berkelanjutan.
Kehadiran narasumber industri nasional dalam kegiatan ini diharapkan dapat memberikan motivasi bagi peserta mengenai standar kualitas pasar yang sebenarnya.
Baca juga: Kerek UMKM Balikpapan dan IKN Naik Kelas, BI Dorong Penggunaan QRIS Tap
Kurasi langsung di tempat memaksa UMKM memahami kelemahan material dan diferensiasi desain mereka secara instan.
Melalui pendampingan branding dan strategi ekspor, BI Balikpapan dan sekitarnya sedang menyiapkan barisan pengusaha yang tidak hanya mampu bersaing di pasar daring (digital), tetapi juga memiliki nyali untuk menaruh produk mereka di rak-rak toko internasional.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarangArtikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya