Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Kompas.com, 28 September 2025, 11:27 WIB
Add on Google
Hilda B Alexander

Penulis

NUSANTARA, KOMPAS.com - Kota Balikpapan, Kabupaten Penajam Paser Utara (PPU), dan Paser kini bersiap menjadi pusat pertumbuhan ekonomi baru di Kalimantan Timur.

Bukan hanya karena keberadaan Ibu Kota Nusantara (IKN), melainkan berkat strategi cerdas yang digagas pemerintah daerah bersama Bank Indonesia (BI) dalam mengerek Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM).

Dalam kegiatan Mahligai Nusantara 2025, Wakil Wali Kota Balikpapan Bagus Susetyo menyampaikan apresiasi setinggi-tingginya kepada BI Balikpapan karena proaktif.

Baca juga: Alarm Merah Inflasi IKN Berbunyi, BI Kaltim Siapkan Jurus 4K

"Tidak hanya dalam pengendalian inflasi, yang membuat tiga wilayah ini (Balikpapan, PPU, Paser) berada di bawah rata-rata inflasi nasional, tetapi juga dalam program pemberdayaan UMKM," ujar Bagus, Sabtu (27/9/2025).

Momentum ini digunakan untuk meluncurkan ide besar, UMKM harus naik kelas dan beradaptasi dengan tuntutan zaman, terutama ekonomi digital dan praktik ekonomi hijau.

Dombo Kelas Ekonomi Turon Berkembang

Kepala Perwakilan BI Balikpapan, Robi Ariadi, menjelaskan bahwa tema kegiatan Mahligai Nusantara 2025, diambil dari idiom lokal Paser, yakni "UMKM Dombo Kelas Ekonomi Turon Berkembang" yang berarti "UMKM Naik Kelas, Ekonomi Terus Berkembang."

Robi memaparkan, selama ini UMKM menyumbang 60 persen terhadap PDB nasional. Hal ini menjadikan UMKM sebagai penopang utama ekonomi daerah, terlepas dari kondisi global maupun lokal.

Baca juga: Ibu-ibu dan Sahabat Difabel Siap Jadi Penggerak Kota Cerdas IKN

"Namun demikian, UMKM tidak boleh hanya bertahan. Mereka harus mampu memperluas pasar, meningkatkan kualitas produk, bertransformasi ke ekosistem digital, dan yang paling ambisius, masuk ke rantai pasok industri yang lebih besar," tutur Robi.

Oleh karena itu, BI Balikpapan mendorong UMKM menggunakan inovasi yang paling berpotensi mengerek pertumbuhan dan kualitas kelas UMKM yakni QRIS Tanpa Pindai (QRIS Tap).

"Ke depan QRIS tidak perlu barcode, tapi cukup menempelkan HP kita, asal punya saldo," jelas Robi.

Inovasi terbaru dari BI ini menjadikan transaksi semakin cepat, mudah, murah, aman, dan andal.

Baca juga: Rp 65,3 Triliun Uang Swasta Mengalir ke IKN hingga September 2025

Angka adopsi QRIS di Indonesia sudah menunjukkan dominasi digital UMKM, karena sejak diluncurkan pada 2019, QRIS telah menjangkau hampir 50 juta pengguna dan 39,3 juta merchant UMKM (sekitar 93 persen dari total merchant).

Sementara, total transaksi QRIS selama enam tahun tercatat 6,1 miliar transaksi dengan nominal Rp 579 triliun. Angka ini bahkan sudah melampaui transaksi debit dan kartu kredit.

Lebih membanggakan lagi, QRIS kini bergerak menjadi alat transaksi global. Setelah sukses di Malaysia, Thailand, dan Singapura, QRIS baru-baru ini diluncurkan di Jepang, dan ditargetkan akan merambah India dan Tiongkok pada akhir tahun.

Ekonomi Hijau dan Target Pasar Ekspor

Pemerintah Kota Balikpapan juga tidak hanya mendorong UMKM untuk digitalisasi, melainkan mengarahkan mereka pada prinsip ekonomi hijau dan berkelanjutan.

Bagus menjelaskan, UMKM didorong untuk mengadopsi praktik produksi yang ramah lingkungan, memanfaatkan teknologi digital, dan tetap menjaga kearifan lokal agar relevan dengan tuntutan pasar global.

Baca juga: Sejarah Baru Reforma Agraria, Warga Terdampak IKN Terima Sertifikat Hak Pakai

Dengan adanya Pelabuhan Kariangau, pemerintah daerah berambisi meningkatkan kemampuan UMKM hingga produk kuliner dan kerajinan mereka memiliki kualitas ekspor.

Galeri UMKM yang sudah tersedia di Balikpapan akan menjadi pusat pelatihan dan informasi untuk mewujudkan ambisi ini.

Melalui kolaborasi kuat antara BI, Pemerintah Daerah, perbankan, dan dunia usaha, Balikpapan, PPU, dan Paser siap bertransformasi menjadi pusat pertumbuhan UMKM unggulan di Kalimantan Timur, menopang IKN dengan fondasi ekonomi kerakyatan yang tangguh, digital, dan berkelanjutan.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau