Penulis
NUSANTARA, KOMPAS.com – Untuk pertama kalinya dalam sejarah, Ibu Kota Nusantara (IKN) menjadi resmi masuk dalam daftar titik pemantauan hilal (rukyatul hilal) nasional guna menentukan 1 Ramadan 1447 Hijriah.
Meski hasil observasi menunjukkan hilal belum menampakkan diri di cakrawala, momentum ini menandai babak baru bagi IKN: sebuah transisi dari sekadar pusat administrasi menuju ruang publik yang merangkul tradisi keagamaan nasional.
Baca juga: Basilika Nusantara IKN Jadi Tuan Rumah Sidang Tahunan KWI Mei 2026
Pemilihan IKN sebagai satu dari 96 titik pengamatan nasional tidaklah sembarang. Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) wilayah Kalimantan Timur mengidentifikasi kawasan Rusun ASN 1 memiliki elevasi yang cukup tinggi dengan sudut pandang terbuka ke arah ufuk barat, dua syarat teknis mutlak bagi akurasi rukyat.
Kepala Otorita IKN, Basuki Hadimuljono, menegaskan bahwa kehadiran IKN dalam peta pemantauan hilal tahun ini adalah sebuah kehormatan yang bersifat transformatif.
“Kami sangat mendukung pemantauan hilal dilakukan di sini. Ini bukan sekadar tugas teknis, melainkan kesempatan bagi IKN untuk mulai memainkan perannya sebagai Ibu Kota Negara dalam kegiatan keagamaan tingkat nasional,” ujar Basuki, Selasa (17/2/2026) sore.
Secara teknis, pemantauan di lapangan menghadapi tantangan astronomis yang nyata. Berdasarkan perhitungan sains, posisi bulan pada petang tersebut memang belum memenuhi kriteria visibilitas.
Kepala Kantor Wilayah Kementerian Agama Provinsi Kalimantan Timur, Abdul Khaliq, memberikan klarifikasi langsung dari lokasi pengamatan.
Baca juga: Strategi BI Balikpapan Dorong UMKM Penyangga IKN Naik Kelas
“Berdasarkan data BMKG, posisi hilal hari ini masih berada di bawah ufuk. Secara ilmiah dan kasat mata, bulan belum terlihat di wilayah ini,” jelasnya.
Ketidaktampakan hilal di IKN ini senada dengan laporan dari berbagai titik lain di Indonesia, yang kemudian menjadi dasar bagi Sidang Isbat untuk menentukan jatuh tempo dimulainya ibadah puasa Ramadan.
Masjid Negara IKNPemanfaatan Rusun ASN sebagai lokasi darurat pemantauan tahun ini hanyalah awal. Ke depan, peran IKN sebagai episentrum kegiatan keagamaan akan dipusatkan pada Masjid Negara.
Baca juga: Shared Office System di IKN Bakal Runtuhkan Sekat Ego Sektoral K/L
Bangunan monumental yang tengah dikerjakan ini dirancang tidak hanya sebagai tempat ibadah, tetapi juga sebagai laboratorium astronomi Islam (falakiyah) yang canggih.
Kehadiran infrastruktur religi yang mumpuni di IKN diharapkan mampu memperkuat peran Nusantara dalam menengahi dinamika keagamaan di Indonesia, sekaligus memberikan fasilitas terbaik bagi para perukyat di masa mendatang.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang