Penulis
Jangkauan wilayah kini diperluas secara administratif dengan pembagian peran yang spesifik guna mencegah tumpang tindih fungsi:
Tantangan terbesar dari manajemen kawasan metropolitan gabungan di Indonesia biasanya terbentur pada masalah sinkronisasi birokrasi, batas administrasi yang kaku, dan ego sektoral, seperti yang terjadi pada wilayah Jabodetabekpunjur.
Guna memotong hambatan struktural tersebut, Otorita IKN mengkaji model kerja sama yang lebih cair melalui adopsi Nara Mode* dari Jepang.
Baca juga: Ekonomi Penyangga IKN Timpang: Balikpapan Tercekik Tiket Pesawat, PPU Deflasi
Kerangka kerja kolaborasi ini menitikberatkan pada pemenuhan kebutuhan spesifik antardaerah, seperti integrasi jalur transportasi massal dan manajemen logistik terpadu, tanpa perlu membebani tata kelola dengan pembentukan lembaga birokrasi baru yang kaku dan lambat mengambil keputusan.
Profesor Norihisa Shima dari Toyo University, yang terlibat dalam pengkajian cetak biru Tri-City Development Plan (TCDP), mengingatkan bahwa efisiensi regional hanya akan tercapai jika pembagian kerja antarwilayah dieksekusi secara tegas sejak awal.
"IKN akan memberikan dampak yang besar kepada kota-kota sekitar, maka dari itu penting sekali IKN berkolaborasi bersama. Setiap kota dan kabupaten perlu memiliki fungsi masing-masing, dan setiap fungsi bisa terintegrasi satu sama lain," papar Norihisa.
Baca juga: Intip, Progres Terbaru Jalan Kawasan Kompleks Yudikatif IKN
Pandangan akademis mengenai masa depan Nusantara juga dikemukakan oleh Prof. Fumihiko Seta dari The University of Tokyo.
Berdasarkan pengamatannya terhadap transisi beberapa ibu kota baru di dunia, pengelolaan kawasan metropolitan yang terukur adalah kunci utama untuk menarik densitas populasi organik yang dibutuhkan dalam menggerakkan ekonomi jangka panjang.
"Saya datang ke beberapa ibu kota baru, saya sangat terkesan dengan perkembangan Nusantara. Saya yakin di kemudian hari akan banyak orang datang ke sini. Sangat penting untuk Nusantara mengelola kawasan metropolitan dengan baik," pungkas Fumihiko.
Dengan mengawinkan kapasitas pelaku ekonomi domestik dengan akses pasar global, berkaca pada kesuksesan wilayah Emilia-Romagna di Italia, Greater Nusantara diposisikan sebagai instrumen vital untuk memastikan IKN tumbuh sebagai kota modern yang hidup, bukan sekadar monumen arsitektur yang sepi penghuni.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang