Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Greater Nusantara, Strategi Mencegah IKN Jadi Kota Hantu

Kompas.com, 7 Juni 2026, 22:35 WIB
Hilda B Alexander

Penulis

Jangkauan wilayah kini diperluas secara administratif dengan pembagian peran yang spesifik guna mencegah tumpang tindih fungsi:

Adopsi 'Nara Model' Jepang Potong Ego Sektoral

Tantangan terbesar dari manajemen kawasan metropolitan gabungan di Indonesia biasanya terbentur pada masalah sinkronisasi birokrasi, batas administrasi yang kaku, dan ego sektoral, seperti yang terjadi pada wilayah Jabodetabekpunjur.

Guna memotong hambatan struktural tersebut, Otorita IKN mengkaji model kerja sama yang lebih cair melalui adopsi Nara Mode* dari Jepang.

Baca juga: Ekonomi Penyangga IKN Timpang: Balikpapan Tercekik Tiket Pesawat, PPU Deflasi

Kerangka kerja kolaborasi ini menitikberatkan pada pemenuhan kebutuhan spesifik antardaerah, seperti integrasi jalur transportasi massal dan manajemen logistik terpadu, tanpa perlu membebani tata kelola dengan pembentukan lembaga birokrasi baru yang kaku dan lambat mengambil keputusan.

Profesor Norihisa Shima dari Toyo University, yang terlibat dalam pengkajian cetak biru Tri-City Development Plan (TCDP), mengingatkan bahwa efisiensi regional hanya akan tercapai jika pembagian kerja antarwilayah dieksekusi secara tegas sejak awal.

"IKN akan memberikan dampak yang besar kepada kota-kota sekitar, maka dari itu penting sekali IKN berkolaborasi bersama. Setiap kota dan kabupaten perlu memiliki fungsi masing-masing, dan setiap fungsi bisa terintegrasi satu sama lain," papar Norihisa.

Baca juga: Intip, Progres Terbaru Jalan Kawasan Kompleks Yudikatif IKN

Pandangan akademis mengenai masa depan Nusantara juga dikemukakan oleh Prof. Fumihiko Seta dari The University of Tokyo.

Berdasarkan pengamatannya terhadap transisi beberapa ibu kota baru di dunia, pengelolaan kawasan metropolitan yang terukur adalah kunci utama untuk menarik densitas populasi organik yang dibutuhkan dalam menggerakkan ekonomi jangka panjang.

"Saya datang ke beberapa ibu kota baru, saya sangat terkesan dengan perkembangan Nusantara. Saya yakin di kemudian hari akan banyak orang datang ke sini. Sangat penting untuk Nusantara mengelola kawasan metropolitan dengan baik," pungkas Fumihiko.

Dengan mengawinkan kapasitas pelaku ekonomi domestik dengan akses pasar global, berkaca pada kesuksesan wilayah Emilia-Romagna di Italia, Greater Nusantara diposisikan sebagai instrumen vital untuk memastikan IKN tumbuh sebagai kota modern yang hidup, bukan sekadar monumen arsitektur yang sepi penghuni.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Halaman:


Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau