Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Membatik, Ikhtiar Menjaga Akar Budaya di Kota Masa Depan IKN

Kompas.com, 19 Juni 2026, 23:11 WIB
Hilda B Alexander

Penulis

NUSANTARA, KOMPAS.com – Integrasi pilar kebudayaan dalam struktur pembangunan Ibu Kota Nusantara (IKN) mulai diwujudkan melalui penguatan sektor ekonomi kreatif berbasis komunitas.

Pada saat pembangunan fisik Kawasan Inti Pusat Pemerintahan (KIPP) terus dipacu, Otorita IKN bersama Bank Indonesia (BI) merestrukturisasi kompetensi perajin kain tradisional lewat penyelenggaraan workshop Pengembangan Motif Batik bagi Pengrajin Wastra di Kantor Kemenko 1 IKN yang berlangsung pada 17–19 Juni 2026.

Baca juga: Pusat Kendali Kota Pintar Korea Bakal Beroperasi di IKN Tahun 2027

Langkah intervensi ini bertujuan membentuk identitas visual baru bagi ibu kota masa depan melalui medium wastra nusantara.

Upaya ini dilakukan untuk memastikan bahwa transformasi digital dan kecanggihan teknologi kota pintar IKN tidak mengeliminasi akar budaya lokal, melainkan berjalan linear dengan peningkatan daya saing ekonomi para pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) di delineasi kawasan IKN.

Karakter Desain Modern

Tantangan fundamental bagi industri wastra di sekitar Kalimantan Timur adalah keterbatasan variasi dekoratif yang membuat produk lokal sering dinilai monoton jika dikomparasikan dengan industri batik yang telah mapan di Pulau Jawa.

Guna memecahkan masalah tersebut, pelatihan yang diikuti oleh 50 peserta dari sembilan kelompok perajin ini memfokuskan kurikulumnya pada metode pencarian ide terstruktur.

Baca juga: Jadi Etalase IKN, BPN Kaltim Diminta Percepat dan Permudah Layanan Tanah

Selama tiga hari operasional, 30 perajin batik mendapatkan pendampingan teknis intensif dari firma pengembang batik Tepa Selira.

Proses kreatif tidak lagi mengandalkan peniruan motif secara acak, melainkan dimulai dari pembuatan peta pemikiran, penyusunan papan suasana, pengembangan elemen visual organik, hingga penentuan komposisi tata letak kain yang presisi.

Direktur Kebudayaan, Pariwisata, dan Ekonomi Kreatif Otorita IKN, Muhsin Palinrungi, menjelaskan, penguatan kapasitas jurnalisme visual pada sehelai kain menjadi instrumen vital agar produk lokal memiliki nilai jual premium di pasar nasional.

Baca juga: Kendalikan Perubahan Iklim, Otorita IKN Restorasi Pesisir Pantai Tanah Merah

Menurutnya, wastra di sekitar IKN sudah tumbuh dan berkembang. Namun, tentu masih perlu penguatan agar produk yang dihasilkan memiliki daya saing dan mampu bersanding dengan batik-batik yang sudah dikenal luas.

"Pengembangan motif ini tidak hanya berbicara mengenai estetika, melainkan bagaimana karya tersebut mampu membawa cerita dan identitas dari sebuah wilayah,” urai Muhsin.

Transformasi Digital dan Kesiapan Serapan Pasar

Seiring dengan meningkatnya volume populasi aparatur sipil negara dan delegasi internasional yang mulai menghuni sub-wilayah permukiman IKN, kebutuhan akan cinderamata resmi yang representatif menjadi ceruk bisnis yang menjanjikan.

Cetak biru komoditas kreatif IKN diarahkan pada bentuk desain yang minimalis, anggun, namun tetap membawa karakteristik lokal yang kuat.

Baca juga: Aksi Bersih Pantai IKN, 202,7 Kilogram Sampah Berhasil Dikumpulkan

Kepala SKB Bank Indonesia IKN, Aura Pandu Wirawan, menilai bahwa perwujudan identitas fisik IKN wajib tercermin dalam produk kreatif masyarakat sehari-hari.

“Semakin hari IKN semakin ramai. Identitasnya perlu kita tonjolkan. Harapannya, desain yang lahir dari kegiatan ini memiliki unsur modern, karena IKN juga membawa semangat transformasi dan digitalisasi. Kita ingin menghasilkan karya yang sederhana, anggun, tetapi tetap memiliki karakter,” kata Aura.

Bagi perajin lokal, perubahan metodologi kerja dari cara konvensional menuju standarisasi industri modern membuka wawasan baru mengenai pengelolaan bisnis jangka panjang.

Rusmayawati, perajin wastra dari Kecamatan Samboja, menuturkan bahwa pelatihan ini mengubah cara pandang komunitasnya dalam memproses imajinasi visual menjadi produk komersial yang adaptif terhadap selera pasar urban.

“Pelatihan ini menambah wawasan kami agar tidak menghasilkan karya yang monoton. Kami belajar bagaimana mengubah imajinasi visual tentang IKN menjadi sebuah karya nyata yang bisa dikembangkan,” tutur Rusmayawati.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang



Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau