NUSANTARA, KOMPAS.com - Jumlah titik panas (hotspot) di Kabupaten Kutai Kartanegara, Kalimantan Timur, yang masuk dalam wilayah delineasi Ibu Kota Nusantara (IKN) bertambah pada Juli 2026.
Kondisi ini menjadi salah satu latar belakang digelarnya Simulasi Pemadaman Kebakaran Hutan dan Lahan (Karhutla) oleh Otorita IKN bersama sejumlah kementerian, lembaga, pemerintah daerah, aparat keamanan, badan usaha, dan masyarakat, Jumat (10/7/2026).
Simulasi yang berlangsung di Helipad MBH, Kawasan Inti Pusat Pemerintahan (KIPP) IKN itu dilakukan sebagai langkah antisipasi menghadapi potensi karhutla pada musim kemarau yang dipengaruhi fenomena El Nino 2026.
Baca juga: Sejarah Baru Dimulai, Angkatan Pertama Injakkan Kaki di SMA Taruna Nusantara IKN
Kepala Otorita IKN, Basuki Hadimuljono, mengatakan, perlindungan kawasan hutan merupakan bagian penting dari pembangunan Nusantara.
"Kita berada di kawasan khatulistiwa sehingga selalu ada potensi terjadinya kebakaran hutan. Saya ingin mengingatkan bahwa kita harus menjaga alam agar alam juga menjaga kita. Prinsip itu harus menjadi pedoman kita dalam menjaga kawasan hutan di Nusantara," ujar Basuki, dikutip dari keterangan resmi.
Berdasarkan data pemantauan, pada Juni 2026 Kabupaten Kutai Kartanegara mencatat 40 hotspot dengan tingkat kepercayaan (confidence level) menengah dan satu hotspot dengan tingkat kepercayaan rendah.
Baca juga: Cek Kesehatan di IKN, 46,4 Persen Pegawai Alami Kolesterol Tinggi
Memasuki Juli 2026, jumlah tersebut meningkat menjadi 44 hotspot dengan tingkat kepercayaan menengah, satu hotspot dengan tingkat kepercayaan tinggi, dan satu hotspot dengan tingkat kepercayaan rendah.
Sementara itu, Kabupaten Penajam Paser Utara (PPU) yang juga berada dalam wilayah IKN tercatat tidak memiliki hotspot, baik pada Juni maupun Juli 2026.
Dalam simulasi tersebut diperagakan dua skenario penanganan karhutla.
Skenario pertama menggambarkan penanganan kebakaran di kawasan rimba kota KIPP IKN, sedangkan skenario kedua mensimulasikan tindak lanjut laporan masyarakat melalui aplikasi IKNOW.
Melalui aplikasi tersebut, masyarakat dapat melaporkan indikasi kebakaran dengan menggunakan fitur panic button.
Baca juga: Ketimbang IKN, Bali Lebih Realistis Jadi Pusat Finansial Internasional
Laporan yang masuk diterima secara real time oleh petugas di Nusantara Command Center sebagai bagian dari sistem peringatan dini (early warning system), sebelum diteruskan kepada polisi kehutanan dan petugas pemadam kebakaran untuk dilakukan verifikasi dan penanganan di lapangan.
Selain sistem pelaporan digital, Otorita IKN juga memanfaatkan drone thermal untuk membantu mendeteksi titik api, terutama di wilayah yang sulit dijangkau oleh petugas darat.
Kepala Pelaksana Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Provinsi Kalimantan Timur Buyung Dodi Gunawan mengatakan, koordinasi lintas instansi terus diperkuat untuk mengantisipasi potensi karhutla selama musim kemarau.
"Kami telah menyiapkan satu tim siaga bencana. Selain itu, kami terus memantau perkembangan titik panas bersama BMKG dan Kementerian Kehutanan, serta menjaga koordinasi dengan Otorita IKN dalam upaya penanggulangannya," kata Buyung.
Baca juga: Pusat Finansial Internasional IKN Ditolak Purbaya, Otorita Ogah Komentar
Sementara menurut Otorita IKN, upaya mitigasi karhutla dilakukan melalui kolaborasi berbagai pihak, meliputi BPBD provinsi dan kabupaten, BMKG, Basarnas, TNI/Polri, Kementerian Kehutanan, badan usaha, hingga masyarakat.
Selain itu, Otorita IKN juga memperkuat keterlibatan masyarakat melalui program Desa Tangguh Bencana dan Kelompok Masyarakat Peduli Api sebagai bagian dari upaya pencegahan dan penanganan dini kebakaran hutan dan lahan.
Bayangkan seorang anak Indonesia bercita-cita menjadi dokter tetapi hanya memiliki satu buku lusuh untuk belajar. Bersama Ekspedisi Kata ke Nyata Kompas.com, Anda bisa membantu mengubah kisah itu. Mari hadirkan akses literasi bagi anak-anak di berbagai pelosok Indonesia melalui donasi lewat tautan https://bit.ly/JagatLiterasi2026. Setiap kebaikan yang Anda berikan bukan hanya membuka jendela pengetahuan, tetapi juga membuka masa depan mereka.