"Dalam mewujudkan kota masa depan, memang dibutuhkan penguasaan teknologi penerbangan tanpa awak oleh sebab itu, peran adik-adik di sini sangat krusial sekali," kata Agus.
Agus berharap pengalaman mahasiswa selama mengikuti KRTI di IKN dapat dibawa kembali ke perguruan tinggi masing-masing, termasuk semangat inovasi serta konsep smart dan forest city yang dikembangkan di Nusantara.
Sementara itu, Beny Bandanadjaja mengatakan KRTI menjadi ruang bagi mahasiswa untuk menguji gagasan, kemampuan analisis, kerja tim, pengambilan keputusan, dan kemampuan beradaptasi dengan kondisi lapangan.
Baca juga: DPD Minta Proyek IKN Sesuai Jadwal agar Perpindahan ASN Berjalan
"KRTI bukan tentang siapa yang menjadi pemenang, kompetisi ini menjadi ruang bagi mahasiswa untuk belajar memecahkan masalah, menguji gagasan, bekerja dalam tim, mengambil keputusan dan menghadapi berbagai kondisi yang tidak selalu sesuai dengan rencana," ujar Beny.
Beny menekankan agar teknologi yang dikembangkan dalam KRTI tidak berhenti pada kompetisi, tetapi terus dikembangkan sehingga dapat memberikan manfaat yang lebih luas bagi masyarakat.
Menurut dia, hal tersebut sejalan dengan semangat kampus berdampak yang mendorong mahasiswa menerapkan pengetahuan, keterampilan, dan teknologi untuk menyelesaikan persoalan di masyarakat.
"Semoga seluruh teknologi yang dikembangkan dalam KRTI ini bisa diteruskan. Tidak hanya dilaksanakan pada hari ini," kata Beny.
Bayangkan seorang anak Indonesia bercita-cita menjadi dokter tetapi hanya memiliki satu buku lusuh untuk belajar. Bersama Ekspedisi Kata ke Nyata Kompas.com, Anda bisa membantu mengubah kisah itu. Mari hadirkan akses literasi bagi anak-anak di berbagai pelosok Indonesia melalui donasi lewat tautan https://bit.ly/JagatLiterasi2026. Setiap kebaikan yang Anda berikan bukan hanya membuka jendela pengetahuan, tetapi juga membuka masa depan mereka.