Penulis
NUSANTARA, KOMPAS.com - Jumlah kunjungan ke Ibu Kota Nusantara (IKN) sejak dibuka untuk umum pada Senin (16/9/2024) hingga Oktober 2024 mencapai sekitar 3.000-4.000 orang per akhir pekan.
Mereka mengunjungi sejumlah obyek ikonik seperti Istana Garuda, Istana Negara, Plaza Seremoni, Taman Kusuma Bangsa, Forest Trail, Amphitheater, Beranda Nusantara, dan lain-lainnya yang berada di dalam Kawasan Inti Pusat Pemerintahan (KIPP).
Oleh karena itu, Otorita IKN (OIKN) pun tengah menyusun rencana induk yang menjadikan KIPP sebagai magnet utama IKN, dan IKN sebagai magnet utama destinasi pariwisata Indonesia.
Baca juga: Rusun ASN Garapan Triniti di IKN Groundbreaking Tahun Depan
Deputi Bidang Sosial, Budaya, dan Pemberdayaan Masyarakat OIKN Alimuddin menuturkan keyakinannya, IKN akan sangat diminati wisatawan karena membawa sesuatu yang baru.
"Presiden Prabowo juga menyampaikan bahwa IKN adalah Indonesia X. X-nya itu adalah Experience artinya ada sesuatu yang baru yang belum pernah dilakukan atau ada sebelumnya, sehingga nanti orang-orang akan datang ke sana untuk melihat bahkan untuk belajar," ungkap Alimuddin kepada Kompas.com, Senin (4/11/2024).
Di IKN, masyarakat bisa belajar mengenai manajemen perkotaan, pengelolaan gedung-gedung dengan standar baru (smart building), dan konsep kota secara keseluruhan yang mengusung smart forest city.
Konsep inilah yang menurut Alimuddin belum ada di ibu kota mana pun di dunia. Oleh karena itu, OIKN akan memanfaatkan ini dengan optimal dan menjadikannya sebagai peluang untuk membawa IKN lebih mendunia.
Baca juga: Ini 7 Raksasa Teknologi AS yang Bangun Command Center Tahap II IKN
Adapun ekosistem pariwisata yang juga tengah disiapkan OIKN menyangkut ekonomi kreatif yang tak hanya sebatas kurasi UMKM, melainkan juga atraksi seni, pertunjukan, dan gelaran-gelaran terkait hiburan dan gaya hidup.
"Kami enggak hanya menargetkan orang datang kemudian berkunjung kemudian kembali lagi. Tidak begitu, kami harus menciptakan sebuah suasana yang bagus melalui paket-paket wisata menarik. Sehingga mereka betah, dan menginap di IKN dan sekitarnya dalam waktu lama," imbuh Alimuddin.
Dengan demikian, diharapkan dari lamanya waktu menginap atau length of stay itu, para tamu membelanjakan uangnya untuk produk-produk UMKM, belanja seni, belanja gaya hidup atau belanja hiburan.
OIKN juga berkomitmen untuk bekerja sama dengan kota-kota mitra dalam membangun industri dan bisnis pariwisata agar potensi-potensi yang selama ini belum banyak digali bisa menjadi pilihan masyarakat untuk berkunjung.
Baca juga: Meski Infrastruktur Melambat, Pemprov Kaltim Yakin Wisata IKN Diminati
"Kita enggak usah membandingkan dengan Bali atau Banyuwangi atau daerah lain di Indonesia yang memiliki keunikan khas masing-masing. Kita harus menjadikan IKN sebagai destinasi wisata itu sendiri, membentuk sesuatu yang baru," cetus Alimuddin.
Dia menyadari, tak mungkin IKN dibandingkan dengan Bali yang kaya akan pantai dan eksotisme alamnya.
IKN juga tak mungkin dibandingkan dengan Pulau Jawa yang kaya akan budaya, panorama alam pegunungan dan air terjunnya yang indah.
Menurutnya, IKN harus dibuat berbeda melalui rencana induk terintegrasi dengan kota-kota mitra di sekitarnya.
"Kami akan duduk bareng dengan mereka, menyusun konsep-konsep wisata yang ada di tempat-tempat lain Kalimantan Timur. Semua kita elaborasi dan dijadikan paket wisata sehingga IKN akan menjadi destinasi utama, di samping pusat pemerintahan, pusat ekonomi, dan pusat peradaban baru Indonesia," tuntas Alimuddin.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang