Penulis
NUSANTARA, KOMPAS.com - Rangkaian trem otonom terpadu (TOT) atau Autonomous Rail Transit (ART) buatan CRRC Qingdao Sifang akan dikembalikan secara resmi ke China, pada Februari 2025.
Hal ini menyusul hasil evaluasi selama uji coba atau Proof of Concept (PoC) di Ibu Kota Nusantara (IKN) yang menunjukkan kegagalan train set CRRC Qingdao Sifang beroperasi secara otonom.
Direktur Pengembangan Ekosistem Digital Otorita IKN Tonny Agus Setiono mengungkapkan jadwal pengembalian ART itu kepada Kompas.com, Jumat (3/1/20250.
"Kereta Sifang ini rencananya akan dikembalikan pada Februari 2025," ujar Tony.
Baca juga: Trem China Gagal Berfungsi Otonom di IKN, Bina Marga Pastikan Tak Ada Revisi Desain Jalan
Saat ini, train set trem CRRC Qingdao Sifang masih teronggok di Bundaran Jalan Sumbu Kebangsaan Sisi Timur.
Trem CRRC Sifang yang mencakup tiga gerbong dalam satu rangkaian tersebut berselimut debu material konstruksi.
Sebentar-sebentar tersapu hujan, sejenak kemudian saat cuaca terang dengan mentari terik menyengat, debu menjejakkan noda pada outer skin kereta.
Untuk diketahui, penilaian PoC atas Trem CRRC Sifang ini berlangsung sejak 12 September 2024 hingga 22 Oktober 2024 di area Kawasan Inti Pusat Pemerintahan (KIPP) IKN dengan dua rute pengujian yang mencakup area di sekitar Kemenko 1–4, serta Jalan Sumbu Kebangsaan Sisi Barat dan Timur.
Evaluasi tim ahli penilai PoC terfokus pada skenario pengujian seperti pengereman darurat, kemampuan otonom, dan performa baterai untuk memastikan teknologi TOT siap diimplementasikan di IKN.
Baca juga: Investor China Benamkan Rp 500 Miliar di IKN, Bangun Proyek Mixed Use
Rekomendasi penilaian juga termasuk perlunya penyempurnaan operasional trem secara otonom, peningkatan fitur adaptasi dan keselamatan pada situasi mixed traffic, serta pembaruan sistem komunikasi agar sejalan dengan persyaratan keamanan siber di IKN.
Kesimpulannya, ada tiga catatan penting dari hasil temuan tim penilai. Pertama, TOT CRRC Qingdao Sifang belum bisa berfungsi secara otonom.
Pengemudi masih tetap duduk memegang kemudi (steer) dan selalu bersiap untuk mengambil alih (override) kendali otomatis ke manual.
Hal ini memperlihatkan bahwa penyedia teknologi belum yakin penuh pada keandalan (realibilitas) sistem kendali otonomnya.
Catatan kedua adalah performa sistem otonom belum teruji sepenuhnya. Tidak terdapat rencana kecepatan dan pengereman per rute jalan atau programmable route control.
Selain itu beberapa skenario perjalanan yang diminta untuk pengujian otomatisasi masih memerlukan pengaturan ulang di lapangan.
Baca juga: Akhirnya, Investor Asing Perdana Asal China Resmi Masuk IKN
Dengan demikian, ART CRRC Qingdao Sifang ini belum terbukti memiliki sistem otonom yang adaptif terhadap berbagai kondisi yang mungkin terjadi selama operasional.
Catatan ketiga, sistem pengereman otonom pada trem ini juga belum menunjukkan kemampuan pengereman, pengurangan kecepatan ataupun pemberian peringatan secara otomatis bila dijumpai adanya penghalang atau obyek yang melintas.
Dari berbagai hasil temuan dan pengujian di lapangan, Tim Penilai PoC TOT menyimpulkan bahwa mode otonom belum berfungsi optimal karena masih harus ada intervensi manual pengemudi dalam keadaan darurat.
Selain itu, sistem kendali otonom ART pada PoC belum menunjukkan kemampuan bidireksional (dua arah).
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang