Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Mengurai "Gunung Sampah", Solusi Taktis Kota Penyangga IKN

Kompas.com, 10 September 2025, 22:20 WIB
Add on Google
Hilda B Alexander

Penulis

NUSANTARA, KOMPAS.com - Pembangunan Ibu Kota Nusantara (IKN) di Kalimantan Timur membawa berbagai perubahan signifikan, tidak hanya dari segi infrastruktur megah, tetapi juga tantangan krusial yang harus diselesaikan.

Salah satu tantangan terbesar, yang sering luput dari perhatian, adalah ancaman "tsunami sampah" yang diprediksi akan meningkat seiring pertambahan populasi.

Namun, Pemerintah Kabupaten Penajam Paser Utara (PPU), sebagai daerah terdekat dan penyangga utama IKN, tidak tinggal diam.

Baca juga: 45 Menit dari IKN, Ini Pilihan Rumah Murah di Balikpapan

Saat ini, PPU tengah merancang sebuah Tempat Pengolahan Sampah Terpadu (TPST) yang menggunakan teknologi canggih.

TPST ini dirancang bukan sekadar sebagai tempat penampungan, melainkan sebuah fasilitas modern yang mampu mengolah dan mendaur ulang sampah dengan kapasitas hingga 100 ton per hari.

Proyek ini menjadi jawaban atas kekhawatiran darurat sampah yang semakin mendesak, terutama karena keberadaan IKN.

Ancaman "Gunung Sampah"

Kepala Dinas Lingkungan Hidup PPU, Safwana, menjelaskan bahwa peningkatan jumlah penduduk dan aktivitas di wilayah PPU akan secara signifikan meningkatkan volume sampah.

"Sejak 2014, semua sampah dari PPU ditampung di Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Buluminung. Namun, TPA ini sekarang menghadapi masalah serius," ujarnya, dikutip Kompas.com, Rabu (10/9/2025).

Baca juga: Pelabuhan KKT Perkuat Konektivitas Kawasan Industri dan IKN

Dengan luas dan daya tampung yang terbatas, TPA Buluminung menampung sekitar 50 hingga 60 ton sampah setiap hari.

Model pembuangan terbuka yang digunakannya juga sudah tidak direkomendasikan secara nasional karena dampak pencemaran yang tinggi terhadap tanah, air, dan udara.

Lebih mengkhawatirkan lagi, diprediksi TPA Buluminung akan penuh dan tidak dapat digunakan lagi dalam dua tahun ke depan.

Baca juga: Istana Wapres dan Masjid Negara IKN Ditargetkan Tuntas Akhir 2025

Ini adalah sebuah alarm keras yang membutuhkan solusi cepat dan permanen.

Upaya-upaya yang ada saat ini, seperti 200 bank sampah yang tersebar di berbagai titik, belum cukup maksimal untuk mengurangi beban sampah yang masuk ke TPA.

TPST: Mengubah Sampah Menjadi Berkah

Pembangunan TPST modern ini menjadi langkah strategis yang sangat efektif. Alih-alih hanya menimbun sampah, fasilitas ini akan mengolah dan mendaur ulangnya, yang tidak hanya mengurangi volume sampah secara drastis tetapi juga berpotensi menghasilkan produk bernilai ekonomi.

Baca juga: Berapa Anggaran untuk Bangun Rumah Anggota DPR di IKN?

TPST ini akan menjadi jawaban jangka panjang atas masalah sampah di Penajam Paser Utara.

Dengan beroperasinya TPST, beban sampah yang masuk ke TPA Buluminung dapat berkurang secara signifikan, sehingga memperpanjang masa operasional TPA yang tersisa.

Saat ini, pemerintah kabupaten sedang berupaya mempercepat penyusunan dokumen perencanaan teknis agar TPST bisa segera terealisasi.

Pembangunan TPST ini bukan hanya tentang mengatasi masalah lingkungan, tetapi juga tentang menyiapkan fondasi yang kuat bagi sebuah kota modern, bersih, dan berkelanjutan.

Penanganan sampah yang canggih di daerah penyangga ini akan menjadi cerminan keseriusan Indonesia dalam membangun IKN yang benar-benar ramah lingkungan dan masa depan.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang



Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau