Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Perkembangan Terbaru Istana Wapres di IKN, Tembus 86 Persen

Kompas.com, 30 November 2025, 08:56 WIB
Hilda B Alexander

Penulis

NUSANTARA, KOMPAS.com - Pembangunan Ibu Kota Nusantara (IKN) terus menunjukkan akselerasi yang signifikan, terutama pada klaster inti pemerintahan.

Fokus utama saat ini adalah kesiapan fisik bagi kepindahan para eksekutif dan birokrat pada tahun 2028.

Baca juga: Mengupas Profil Sembcorp, Investor Kunci PLTS Rp 900 Miliar di IKN

Founder SHAU Architects, Daliana Suryawinata, yang terlibat dalam perancangan arsitektur kompleks Istana Wakil Presiden, mengonfirmasi bahwa progres pembangunannya telah menembus angka 86 persen.

"Capaian ini menempatkan Istana Wapres sebagai salah satu proyek strategis di Kawasan Inti Pusat Pemerintahan (KIPP) yang paling cepat mendekati finalisasi," ujar Daliana kepada Kompas.com, Sabtu (29/11/2025).

Angka 86 persen bukan hanya statistik, melainkan jaminan politik bahwa infrastruktur utama untuk kepemimpinan nasional akan siap digunakan sesuai tenggat waktu.

Penampakan Istana Wakil Presiden di Ibu Kota Nusantara (IKN)KOMPAS.com/WISNU SURYANTO Penampakan Istana Wakil Presiden di Ibu Kota Nusantara (IKN)
Filosofi Huma Betang Umai

Kecepatan konstruksi Istana Wapres tidak mengorbankan kedalaman filosofi arsitekturnya.

Daliana yang dikenal dengan pendekatan desain berkelanjutan dan responsif terhadap iklim tropis, memastikan bahwa Istana Wapres IKN dibangun dengan konsep yang kuat Huma Betang Umai.

Baca juga: Raksasa Singapura Sembcorp, Investor PLTS Perdana di IKN Tanam Rp 900 Miliar

Huma Betang adalah rumah panjang komunal Suku Dayak yang melambangkan persatuan, kebersamaan, dan musyawarah.

Konsep ini diaplikasikan untuk menciptakan Istana Wapres yang terasa terbuka dan akrab, berbeda dari kesan istana tradisional yang kaku dan tertutup.

Umai berarti "lapang" atau "luas". Desainnya memanfaatkan ruang terbuka dan ventilasi alami yang optimal, selaras dengan visi IKN sebagai Sustainable Forest City.

Penampakan Istana Wakil Presiden di Ibu Kota Nusantara (IKN)KOMPAS.com/WISNU SURYANTO Penampakan Istana Wakil Presiden di Ibu Kota Nusantara (IKN)
Arsitektur Tropis dan Fungsionalitas Tinggi

Desain Istana Wapres IKN dilengkapi dengan berbagai fitur fungsional dan keamanan modern:

Bangunan dirancang panggung dan memanjang, meniru bentuk rumah Betang, yang secara alami beradaptasi dengan kontur tanah dan meminimalkan dampak lingkungan.

Penggunaan material alami lokal menjadi ciri khas untuk mendukung sirkulasi udara alami dan meminimalkan jejak karbon.

Baca juga: Serapan Anggaran Otorita IKN Baru Rp 4,99 Triliun

Kompleks ini mencakup tidak hanya Kantor Utama Wakil Presiden, tetapi juga Rumah Jabatan (Residensi) dan fasilitas pendukung seperti ruang rapat protokoler, crisis room, dan ruang penerimaan tamu negara.

Filosofi yang dibawa adalah penciptaan ruang kerja yang efisien (ala modern) namun tetap menenangkan (Zen) melalui palet warna netral dan pencahayaan alami yang melimpah.

Meskipun mengedepankan keterbukaan, kompleks ini tidak mengenyampingkan keamanan.

Penggunaan kaca anti peluru pada fasad-fasad vital dan sistem keamanan terintegrasi menjadi standar wajib untuk kantor pemimpin negara.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang



Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau