Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Prabowo Mendarat di Istana Negara IKN, Setelah 15 Bulan Berkuasa

Kompas.com, 12 Januari 2026, 21:13 WIB
Add on Google
Hilda B Alexander

Penulis

NUSANTARA, KOMPAS.com - Malam kian merambat di tanah Kalimantan, namun cahaya peradaban baru justru kian benderang memancar.

Di bawah cakrawala blue hour yang dramatis, sebuah transisi waktu yang secara simbolis menggambarkan transformasi besar, Presiden Prabowo Subianto menorehkan catatan sejarah baru.

Setelah 15 bulan memegang kemudi kekuasaan sejak 20 Oktober 2024, sang Panglima Tertinggi mendarat pada Senin (12/1/2026), dengan presisi di helipad Istana Negara IKN menggunakan helikopter kepresidenan.

Pendaratan di jantung Kawasan Inti Pusat Pemerintahan (KIPP) IKN ini bukan sekadar efisiensi udara; ia adalah pesan visual yang kuat tentang sebuah infrastruktur strategis nasional.

Baca juga: 2.400 Personel Gabungan Kawal Peresmian RDMP Balikpapan oleh Presiden

Di kaki tangga helikopter, terlihat jajaran pilar pembangunan nasional telah bersiaga, merepresentasikan sinergi lintas sektoral yang solid.

Tampak menyambut Prabowo, Kepala Otorita IKN, Basuki Hadimuljono, yang memegang mandat otoritas lokal, bersanding dengan Menteri Pekerjaan Umum (PU), Dody Hanggodo, serta Menteri Infrastruktur dan Pembangunan Kewilayahan (IPK), Agus Harimurti Yudhoyono (AHY), sebagai simbol akselerasi pembangunan kewilayahan yang integratif.

Pilar Kebangsaan dan Sayap Garuda

Dari kejauhan, Istana Negara berdiri kokoh dengan arsitektur monumental yang simetris, didominasi oleh 34 pilar tinggi yang dilapisi marmer white tassos.

Di atas bangunan utama, siluet sayap Garuda yang ikonik pada Istana Presiden membumbung tinggi, seolah memberikan perlindungan simbolis terhadap seluruh kompleks di bawahnya.

Baca juga: Siapa Kontraktor Pelaksana Tol IKN Seksi 3A yang Ambles 8 Januari?

Keindahan eksterior ini berpadu dengan ketelitian lanskap seluas 109.932 meter persegi yang dirancang berdasarkan filosofi smart forest city.

Hamparan rumput Zoysia Matrella di Lapangan Upacara tidak hanya menjadi karpet hijau yang dikomentarsi Prabowo, "Tebal ya, rumputnya," bagi prosesi kenegaraan, tetapi juga dirancang memiliki daya dukung beban tinggi untuk alutsista ringan serta sistem drainase canggih guna mencegah genangan saat cuaca ekstrem.

Helikopter kepresidenan yang membawa Presiden Prabowo Subianto mendarat di helipad Kompleks Istana Kepresidenan Ibu Kota Nusantara (IKN)Biro Setpres Helikopter kepresidenan yang membawa Presiden Prabowo Subianto mendarat di helipad Kompleks Istana Kepresidenan Ibu Kota Nusantara (IKN)
Benteng Pertahanan Berbalut Mahakarya Seni

Di balik kemegahan kolom-kolom putih dan tata cahaya futuristik, Istana Negara merupakan sebuah mahakarya teknis yang memadukan keamanan tingkat tinggi dengan seni kriya nusantara.

Bangunan ini dirancang sebagai obyek vital nasional yang "tak tertembus", mengikuti standar keamanan kepala negara tertinggi di dunia.

Baca juga: Pertamina Masuk IKN, Basuki Percepat Birokrasi: Eman-eman Kalau Lama

Setiap jengkal struktur telah dipersiapkan untuk menghadapi ancaman asimetris modern.

Dinding beton setebal 20 cm serta kaca jendela antipeluru menjadi elemen arsitektural utama sebagai perisi balistik, untuk memenuhi sistem keamanan yang ketat. Bahkan, sebagian pintu bangunan menggunakan material baja antipeluru.

Lantai lobi dilapisi marmer hijau Juparana yang eksotis, sementara sebagian dinding beton dibalut kayu ukiran hasil karya seniman Jawa dan Bali dengan craftsmanship tinggi.

Baca juga: Tol IKN Seksi 3A-2 Ambles, Ini Kronologi Menurut Wamen PU

Halaman:


Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau