Penulis
NUSANTARA, KOMPAS.com - Sektor energi Indonesia tengah berada di ambang transformasi struktural yang signifikan melalui akselerasi Proyek Strategis Nasional (PSN) Refinery Development Master Plan (RDMP) Balikpapan.
Mega proyek ini bukan sekadar upaya peningkatan kapasitas produksi, melainkan sebuah instrumen geopolitik dan ekonomi yang krusial, terutama mengingat posisinya yang strategis di Balikpapan, Kalimantan Timur, sebagai kota mitra Ibu Kota Nusantara (IKN).
Baca juga: Progres Proyek RDMP Balikpapan Tembus 87 Persen, Operasi Penuh 2025
Direktur Transformasi dan Keberlanjutan Bisnis PT Pertamina (Persero), Agung Wicaksono, memberikan sinyalemen kuat mengenai kesiapan operasional kilang ini, yang dijadwalkan akan diresmikan secara monumental oleh Presiden RI Prabowo Subianto, Senin (12/1/2026).
"Terjadwal demikian (Presiden Prabowo akan meresmikan RDMP Balikpapan, Senin)," ujar Agung ketika dikonfirmasi Kompas.com, Minggu (11/1/2026).
Operasionalisasi RDMP diproyeksikan menjadi additional income bagi negara. Melalui peningkatan efisiensi pengolahan minyak mentah di dalam negeri, ketergantungan pada produk impor dapat direduksi secara sistematis, yang pada gilirannya akan memperkuat neraca pembayaran nasional.
Sebagaimana dikatakan Vice President Corporate Communication PT Pertamina (Persero) Muhammad Baron, RDMP Balikpapan merupakan fondasi penting untuk mewujudkan ketahanan dan kemandirian energi nasional.
Baca juga: Viral Video Warga Marah akibat Pekerja RDMP Lawan Arus, Pertamina: Akan Ditindaklanjuti
“Proyek RDMP Balikpapan akan mendukung visi Asta Cita Pemerintah dalam menjaga ketahanan dan kemandirian energi nasional,” kata Baron, dikutip dari Antara.
Menurutnya, RDMP Balikpapan merupakan proyek strategis yang dibangun secara terintegrasi dari penyediaan bahan baku, pipa transfer hingga produksinya.
Melalui pengembangan infrastruktur yang terintegrasi, Pertamina memastikan keandalan pasokan minyak mentah dan operasional kilang yang lebih efisien dan berkelanjutan.
RDMP Balikpapan ditujukan sebagai salah satu pilar utama dalam transformasi infrastruktur energi nasional guna mendukung ketahanan energi Indonesia dalam jangka panjang.
“Dengan cakupan pembangunan yang komprehensif, mulai dari pekerjaan pendahuluan, pembangunan unit proses dan utilitas, hingga penguatan fasilitas penerimaan minyak mentah,” tutur Baron.
Baca juga: RDMP di Kota Mitra IKN Beroperasi Penuh September 2025
Proyek dengan total investasi setara Rp 123 triliun ini memodernisasi kilang eksisting, sehingga akan meningkatkan kapasitas pengolahan minyak, menghasilkan BBM berkualitas tinggi dan ramah lingkungan, mendorong hilirisasi industri petrokimia, serta memperkuat ketahanan energi nasional.
RDMP Balikpapan dirancang dan dilaksanakan dalam tiga lingkup utama proyek yang saling terhubung dan terintegrasi untuk memastikan kesiapan operasional kilang serta keberlanjutan pasokan energi nasional.
Lingkup pertama adalah early work, yang mencakup 16 paket pekerjaan pendahuluan. Tahap ini meliputi persiapan dan pematangan lahan, pembangunan infrastruktur dasar, penyediaan utilitas sementara, serta pembangunan fasilitas penunjang konstruksi.
Baca juga: Karena IKN dan RDMP, Investasi di Balikpapan Meroket Jadi Rp 24 Triliun
Pada lingkup kedua, Pertamina melaksanakan pengembangan dan pembangunan fasilitas utama kilang yang mencakup 39 unit, terdiri dari 21 unit proses baru serta 13 unit fasilitas utilitas pendukung.
Pembangunan dan revitalisasi unit-unit ini bertujuan untuk meningkatkan fleksibilitas dan keandalan pengolahan minyak mentah, sekaligus mendukung peningkatan kualitas produk BBM sesuai standar yang lebih tinggi.
Lingkup ketiga merupakan penguatan infrastruktur penerimaan dan penyaluran minyak mentah, yang mencakup pembangunan dua tangki penyimpanan minyak mentah berkapasitas masing-masing 1 juta barel.
Baca juga: PAD Balikpapan Tembus Rp 1 Triliun, IKN dan RDMP Ikut Berkontribusi
Pada tahap ini, Pertamina juga membangun jaringan pipa transfer line onshore dan offshore berdiameter 20 inci, unloading line onshore dan offshore berdiameter 52 inci, serta fasilitas Single Point Mooring (SPM) dengan kapasitas sandar kapal hingga 320.000 DWT.
“Infrastruktur ini dirancang untuk meningkatkan efisiensi, keamanan, dan keandalan penerimaan minyak mentah dari kapal tanker berkapasitas besar,” tuntas Baron.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang