Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Kompas.com, 22 Januari 2026, 12:13 WIB
Add on Google
Hilda B Alexander

Penulis

NUSANTARA, KOMPAS.com - Wakil Presiden RI Gibran Rakabuming Raka mendorong ASN Sekretariat Wakil Presiden (Setwapres) untuk menjadi garda depan dalam transisi perkantoran ke Ibu Kota Nusantara (IKN), di Penajam Paser Utara, Kalimantan Timur.

Hal ini diungkapkan Staf Khusus Wakil Presiden RI, Tina Talisa, saat melakukan kunjungan ke Kawasan Inti Pusat Pemerintahan (KIPP) IKN, pada Senin (20/1/2026).

Baca juga: Guru Besar Undip: Tanpa Kultur Merawat, Forest City IKN Bisa Bubar

Kunjungan ini menjadi penanda bahwa instruksi Wapres Gibran bukan lagi bersifat imbauan, melainkan rencana aksi yang mulai diimplementasikan secara bertahap.

"Bapak Wakil Presiden sangat memberikan dukungan. Bahkan Beliau sangat mendorong agar kami dari Sekretariat Wakil Presiden secara bertahap berkantor di IKN," tegas Tina.

Infrastruktur Strategis dan Ekosistem Kerja Baru

Bagi Wapres Gibran, pemindahan ASN adalah memindahkan budaya kerja ke dalam ekosistem yang lebih modern dan efisien.

Peninjauan yang dilakukan mencakup titik-titik krusial yang akan menopang aktivitas harian pimpinan negara dan birokratnya, mulai dari Kantor Balai Kota Otorita IKN hingga Rumah Jabatan Menteri (RJM) dan Istana Wakil Presiden yang kini telah menampakkan wujud kemegahan arsitekturnya.

Baca juga: Rusun IKN Dipasangi Smart Metering, ASN Bisa Kontrol Pemakaian Listrik dan Air

Kehadiran fisik kantor Setwapres di IKN diharapkan menjadi pemicu bagi kementerian dan lembaga negara lainnya untuk segera melakukan sinkronisasi serupa.

Hal ini sejalan dengan visi IKN sebagai smart city yang menuntut adaptasi teknologi tinggi dan integrasi data antarlembaga yang lebih cair dibandingkan pola birokrasi konvensional di Jakarta.

Dalam kunjungan tersebut, Tina menekankan bahwa keberadaan ASN di IKN harus selaras dengan prinsip keberlanjutan lingkungan.

Ekowisata

Fokus pembangunan tidak lagi hanya tertuju pada gedung pencakar langit, tetapi pada bagaimana energi bersih dan konsep ekowisata menjadi bagian tak terpisahkan dari gaya hidup penghuni ibu kota baru.

“Kita melihat bagaimana potensi pengembangan ekowisata ke depannya. Tentu ke depan masih ada yang harus sama-sama kita kawal, termasuk bagaimana pelaksanaan energi bersih di sini,” ulas Tina.

Baca juga: Revisi Desain IKN: Antara Resiliensi Iklim dan Pembengkakan Biaya

Pemanfaatan energi surya dan sistem pengelolaan air mandiri di KIPP menjadi variabel yang terus dipantau untuk memastikan bahwa operasional perkantoran Setwapres nantinya tidak meninggalkan jejak karbon yang besar.

Kawasan Glamping yang ditinjau juga menunjukkan sisi lain IKN yang menawarkan keseimbangan antara beban kerja birokrasi dengan ketenangan alam, sebuah konsep yang diharapkan mampu menekan tingkat stres ASN yang pindah dari hiruk-pikuk Jakarta.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang



Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau