Penulis
NUSANTARA, KOMPAS.com – Langit Ibu Kota Nusantara (IKN), di Kalimantan Timur, yang biasanya riuh oleh deru mesin konstruksi, sebentar lagi akan bersalin rupa menjadi palung spiritual yang syahdu.
Hal ini karena Menteri Agama (Menag) RI, Nasaruddin Umar, dijadwalkan melangsungkan ibadah salat Tarawih perdana di Masjid Negara IKN, yang merupakan mahakarya arsitektur modern.
Baca juga: Istana Wakil Presiden di IKN Dilengkapi Kolam Renang 50 Meter
Kepastian ini diungkapkan Kepala Otorita IKN, Basuki Hadimuljono, yang mengonfirmasi bahwa menag sekaligus tokoh agama tersebut menaruh perhatian khusus untuk dapat beribadah di sana saat pintu masjid pertama kali dibuka untuk publik.
“Kalau Pak Menag penginnya (salat) pertama di sini. Kemarin saya dapat kabar dari Pak Sekjen Kemenag,” ujar Basuki menjawab Kompas.com, Jumat (30/1/2026).
Berdiri di atas lahan seluas 3,2 hektar, Masjid Negara IKN bukanlah tempat ibadah biasa.
Jika sebagian besar masjid di Tanah Air berkiblat pada kubah tradisional, Masjid Negara IKN mendobrak pakem tersebut dengan langgam arsitektur organik-futuristik.
Sang maestro patung, I Nyoman Nuarta, merancang kubah masjid ini menyerupai lipatan sorban yang dinamis, sebuah simbol penghormatan terhadap tradisi Islam yang dibalut dalam gerak semesta yang modern.
Baca juga: IKN Bakal Punya Concert Hall Kelas Dunia, Mulai Dibangun 2027
Dilihat dari kejauhan, bangunan seluas 61.596 meter persegi ini tampak seolah "terapung" di atas air.
Hal ini dikarenakan masjid dikelilingi oleh kolam retensi atau embung buatan, yang selain berfungsi estetis, juga bertindak sebagai pengendali air di kawasan tersebut.
Secara filosofis, keberadaan air di sekeliling masjid melambangkan kesucian dan ketenangan yang menjadi inti dari setiap ibadah.
Secara teknis, masjid ini dirancang mampu menampung hingga 61.392 jemaah secara keseluruhan.
Baca juga: Cerlang Nusantara Karya Yori Antar Juara Sayembara Desain Pusat Kebudayaan IKN
Ruang salat utamanya dibuat lapang tanpa tiang tengah, memberikan kesan ketakterhinggaan hubungan manusia dengan Ilahi.
Selain itu, kompleks ini dilengkapi dengan menara setinggi 99 meter yang melambangkan Asmaul Husna, serta fasilitas pendukung lainnya seperti perpustakaan digital, ruang pertemuan, dan area komersial bagi UMKM lokal.
Meski secara fisik bangunan telah menunjukkan progres signifikan mencapai lebih dari 98 persen, Basuki mengakui masih ada beberapa detail interior yang harus segera dirampungkan, terutama terkait penyediaan furnitur dan ornamen estetik.
Baca juga: Komisi VI DPR: Pembangunan IKN Tahap II Harus Diawasi secara Ketat
“Fisiknya saya kira sudah (selesai). Cuma furnitur-nya kan BU (Badan Usaha) tidak siapkan, jadi kami harus siapkan lagi dulu desainnya,” jelas Basuki.