Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Tak Seperti Jakarta, IKN Bebas Kabel Bergelantungan dan Galian Lubang

Kompas.com, 6 Maret 2026, 09:32 WIB
Hilda B Alexander

Penulis

NUSANTARA, KOMPAS.com – Tidak seperti Jakarta, wajah kota masa depan yang rapi tanpa kabel menjuntai atau galian jalan yang dibongkar-pasang mulai mewujud nyata di Ibu Kota Nusantara (IKN).

Di Kawasan Inti Pusat Pemerintahan (KIPP), sedang dibangun infrastruktur jalan dengan teknologi canggih bernama Multi Utility Tunnel (MUT).

Baca juga: Jajaki IKN, Austria Jual Teknologi Transportasi dan Layanan Kesehatan

Tentu saja, infrastruktur ini bukan sekadar saluran drainase raksasa. MUT adalah terowongan beton terintegrasi yang menjadi rumah bagi seluruh jaringan utilitas kota.

Salah satu infrastruktur yang dilengkapi adalah Jalan Kawasan Hankam dan Lingkar Sepaku.

PT Wijaya Karya (Persero) Tbk (WIKA), sebagai salah satu kontraktor utama, melaporkan  pengerjaan MUT di segmen Jalan Kawasan Hankam dan Lingkar Sepaku telah menunjukkan progres signifikan mencapai 62,83 persen per awal Maret 2026.

Apa Itu MUT dan Mengapa IKN Membutuhkannya?

Secara teknis, MUT merupakan sebuah koridor bawah tanah yang menyatukan berbagai jenis jaringan distribusi, mulai dari kabel listrik tegangan menengah, kabel serat optik internet, pipa air bersih, hingga pipa distribusi gas dalam satu struktur proteksi beton.

Kebutuhan akan MUT di IKN didasari oleh prinsip smart and sustainable city.

Baca juga: Bukan Jalan Biasa, Jalur Hankam IKN Dilengkapi Terowongan Terpadu MUT

Direktur Utama WIKA, Agung Budi Waskito, menegaskan, sistem utilitas terpadu ini adalah fondasi bagi tata ruang yang modern.

“Infrastruktur ini dirancang untuk mendukung integrasi utilitas bawah tanah yang berkelanjutan. Tujuannya agar tercipta tata ruang yang lebih tertib, modern, dan menjadi tulang punggung pengembangan KIPP IKN secara terintegrasi,” ujar Agung, Rabu (4/3/2026).

Multi Utility Tunnel (MUT) di Ibu Kota Nusantara (IKN)KOMPAS.com/HILDA B ALEXANDER Multi Utility Tunnel (MUT) di Ibu Kota Nusantara (IKN)
Sejatinya, teknologi MUT telah lama dikaji sebagai solusi atas keruwetan infrastruktur kota.

Dalam jurnal bertajuk "Common Trenches and Utility Tunnels: A Review of Issues and Concepts" (2018), peneliti Ray Sterling menekankan, pemusatan utilitas dalam satu terowongan akan meminimalkan kerusakan mekanis pada kabel dan pipa akibat tekanan tanah atau aktivitas penggalian pihak luar.

Baca juga: Hutan dan Lahan IKN yang Berhasil Direhabilitasi 1.805 Hektar

MUT di IKN dirancang dengan ruang yang cukup luas bagi teknisi untuk melakukan inspeksi tanpa harus merusak permukaan jalan.

Di dalamnya, terdapat rak-rak khusus (racks) untuk memisahkan kabel listrik dengan kabel telekomunikasi guna menghindari gangguan elektromagnetik, serta sistem sensor kebocoran gas dan air.

Keunggulan teknis ini sejalan dengan teori dalam buku "Underground Infrastructure of Urban Areas" yang disunting oleh Cezary Madryas.

Baca juga: Pangkas Birokrasi Jakarta, Basuki Jamin Izin Pertamina di IKN Tak Berbelit

Ia menjelaskan, keberadaan MUT secara dramatis meningkatkan lifespan (masa pakai) komponen utilitas hingga dua atau tiga kali lipat karena terlindungi dari korosi tanah dan perubahan cuaca ekstrem.

Investasi Mahal yang Menguntungkan

Meskipun biaya konstruksi awal MUT jauh lebih tinggi dibandingkan menanam kabel secara konvensional, keuntungan jangka panjangnya sangat masif. Berikut adalah tiga manfaat utama yang diperoleh IKN.

Baca juga: Otorita IKN Obral Insentif Fiskal, Kejar Target Investasi di Tengah Ketatnya Persaingan

Pertama, tidak akan ada lagi istilah "gali lubang tutup lubang" yang sering memacetkan jalanan kota. Perawatan utilitas dilakukan sepenuhnya di dalam terowongan.

Kedua, Struktur beton MUT dirancang tahan terhadap pergeseran tanah dan banjir, memastikan layanan air dan listrik tetap stabil dalam kondisi darurat.

Ketiga, langit IKN akan bersih dari "ranjau" kabel udara, mendukung konsep smat forest city yang asri.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang



Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Dengan Membership bulanan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Dengan Membership tahunan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Diperbaharui : 1 Juli 2026
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Pesan apresiasi berhasil
Pesan apresiasi darimu sudah dipublikasikan di halaman komentar
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau